RADARSOLO.COM – Sosok Dyastasita Widya Budi, atau yang akrab dikenal sebagai Dyastasita WB, mendadak jadi sorotan tajam publik.
Namanya mencuat di berbagai platform media sosial setelah keterlibatannya sebagai dewan juri dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) 2026 berujung polemik.
Kontroversi ini bermula dari unggahan video yang memperlihatkan perbedaan penilaian juri terhadap jawaban yang identik.
Akibat insiden tersebut, integritas kompetisi yang diselenggarakan oleh Sekretariat Jenderal MPR RI ini dipertanyakan oleh netizen, termasuk tuntutan klarifikasi dari pihak SMAN 1 Pontianak.
Profil dan Rekam Jejak Dyastasita WB
Berdasarkan penelusuran dari laman resmi MPR RI, Dyastasita WB bukanlah sosok sembarangan.
Ia merupakan pejabat karir senior di lingkungan Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia.
Saat ini, dia menjabat sebagai Kepala Biro Pengkajian Konstitusi, Deputi Bidang Pengkajian dan Pemasyarakatan Konstitusi Setjen MPR RI.
Dengan pangkat/golongan Pembina Utama (IV/e), yang merupakan jenjang kepangkatan tertinggi bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Adapun latar belakang pendidikannya merupakan lulusan Strata Satu (S1) dengan gelar Sarjana Sosial (S.Sos).
Berdasarkan penelusuran di laman resmi pddikti Kemdiktisaintek, Dyastasita WB pernah menjadi mahasiswa S2 atau Magister Ilmu Administrasi Negara di STIA Lembaga Administrasi Negara Jakarta pada Januari 2012.
Namun, tak lama dia mengajukan pengunduran diri pada semester genap tahun 2012/2013.
Selama di MPR RI, Dyastasita WB ikut aktif di berbagai agenda nasional terkait pemasyarakatan Empat Pilar MPR RI (Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) di seluruh Indonesia.
Namun, saat ini akun Instagram Dyastasita @dyastasitawb terpantau sudah tak ditemukan.
Kronologi Kontroversi Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar
Polemik memanas saat babak final LCC Empat Pilar Kalbar membahas materi hukum ketatanegaraan mengenai pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Regu C dari SMAN 1 Kota Pontianak menjawab pertanyaan dengan kalimat: “Anggota-anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan presiden.”
Namun, Dyastasita WB memberikan nilai -5 (pengurangan poin).
Ia berdalih dewan juri tidak mendengar frasa "Dewan Perwakilan Daerah" (DPD) dalam jawaban tersebut.
Kejadian menjadi janggal saat pertanyaan yang sama kembali dilempar dan dijawab oleh Regu B (SMAN 1 Sambas).
Regu B memberikan jawaban dengan substansi yang sama persis, namun Dyastasita memberikan poin penuh +10.
"Iya, inti jawabannya sudah benar. Nilai 10," ujar Dyastasita.
Sadar bahwa jawaban mereka sama persis dengan tim lawan yang dibenarkan, Grup C langsung melayangkan protes secara sopan.
"Izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B. Sama," tegas perwakilan SMAN 1 Pontianak.
Namun, Dyastasita berdalih bahwa dirinya tidak mendengar kata "Dewan Perwakilan Daerah" dalam jawaban pertama.
"Tadi disebutkan regu C ya, itu pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. DPR tadi," kilahnya.
Tak sampai di situ. Bahkan juri lainnya, Indri Wahyuni, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR, justru menyalahkan artikulasi peserta.
Baca Juga: Bulog Gencar Droping MinyaKita, Pedagang Wajib Patuhi HET
Di tengah hiruk-pikuk protes tersebut, SMAN 1 Sambas akhirnya ditetapkan sebagai pemenang dan akan mewakili Kalimantan Barat ke tingkat nasional di Jakarta.
Tuntutan Klarifikasi dan Reaksi Netizen
Insiden ini pun menjadi viral di media sosial dan menuai kritik keras publik.
Akun media sosial pendukung SMAN 1 Pontianak, @smansaptk.informasi, bahkan meminta adanya transparansi dan penjelasan terbuka agar marwah kompetisi tetap terjaga.
Banyak netizen menyayangkan sikap juri yang dianggap antikritik dan mengabaikan substansi jawaban yang sebenarnya sudah benar secara konstitusional.
"Orang ini (Dyastasita) viral sebab jadi juri tdk amanah...
Pada kompetensi Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar di Kalbar...," komen akun Threads @muh*****.
Netizen pun ramai-ramai meminta agar Dyastasita WB segera memberikan klarifikasi atas insiden tersebut.
"Bapak Dyastasita: karena lalai dalam mendengar jawaban peserta, serta avoidant dan tidak bersikap bijaksana sbg dewan juri," tulis @den*****.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Sekretariat Jenderal MPR RI belum memberikan pernyataan resmi tambahan terkait evaluasi sistem penilaian dalam lomba yang kini tengah menjadi buah bibir masyarakat Indonesia tersebut.
Editor : Syahaamah Fikria