RADARSOLO.COM – Dunia pendidikan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tengah diguncang skandal serius.
Jagat media sosial mendadak viral dengan dugaan kasus child grooming atau manipulasi psikologis anak di bawah umur yang diduga kuat melibatkan seorang oknum kepala sekolah di SMK Letris Indonesia 2, Kecamatan Pamulang.
Isu yang melibatkan kedekatan tak wajar antara pendidik dan siswinya ini memicu kemarahan publik.
Merespons kegaduhan yang beredar luas di dunia maya, pihak yayasan sekolah akhirnya mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan oknum kepala sekolah tersebut guna kepentingan investigasi.
Baca Juga: Krisis 400 Guru Mengancam Solo, Disdik Nekat Pertahankan Tenaga Non-ASN Demi Hak Belajar Siswa
Lantas, bagaimana awal mula kasus ini terbongkar ke publik?
Berikut adalah kronologi dan deretan fakta dari dugaan child grooming di SMK Letris Pamulang.
1. Terbongkar Usai Acara Perpisahan Sekolah ke Dieng dan Jogja
Aroma ketidakwajaran hubungan antara sang kepala sekolah dan seorang siswi sebenarnya sudah lama menjadi desas-desus di kalangan internal pelajar.
Baca Juga: Polres Sukoharjo Sita 55,65 Gram Sabu di Kamar Kos, Tersangka Mengaku Sudah 8 Kali Beraksi
Namun, puncak dari kecurigaan ini meledak pasca kegiatan pelepasan siswa kelas XII (study tour) yang diselenggarakan pada 7 Mei 2026 dengan tujuan Dieng dan Jogja.
Sejumlah siswa yang enggan disebutkan namanya bersaksi bahwa selama perjalanan wisata tersebut, oknum kepala sekolah secara terang-terangan menunjukkan kedekatan fisik dan emosional yang berlebihan dengan korban.
Perilaku yang tak lagi ditutup-tutupi ini akhirnya mendorong para siswa untuk berani speak up dan membagikan bukti-bukti dugaan penyimpangan tersebut melalui berbagai akun anonim di media sosial.
2. Modus Operandi Incar Siswi Fatherless dan Fasilitas Bebas SPP
Berdasarkan narasi viral yang beredar, taktik pendekatan yang digunakan pelaku sangat terstruktur.
Sang kepala sekolah diduga sengaja menargetkan siswi yang memiliki latar belakang kurang mendapatkan sosok kasih sayang ayah di rumah (fatherless).
Dalam melancarkan aksinya, oknum tersebut memposisikan diri sebagai pendengar yang baik sekaligus figur pelindung.
Baca Juga: Tembus 6.000 Kunjungan Per Hari, Pasar Gede Solo Jadi Destinasi Favorit Wisatawan Lintas Generasi
Lebih dari itu, para siswa juga membongkar bahwa pelaku memberikan perlakuan khusus kepada korban secara finansial.
Seperti membayarkan iuran SPP bulanan hingga menanggung biaya berbagai kegiatan sekolah korban.
Para guru di sekolah tersebut kabarnya sudah lama mencium gelagat aneh ini.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya aksi pendekatan dilakukan secara diam-diam (backstreet), tahun ini sang kepala sekolah dinilai sudah sangat berani menunjukkannya di depan umum.
Sehingga hal ini memicu pengawasan ekstra dari para staf pendidik.
3. Yayasan Nonaktifkan Kepala Sekolah
Menghadapi bola panas yang menggelinding liar di media sosial, manajemen SMK Letris Indonesia 2 akhirnya buka suara.
Melalui keterangan resmi di akun Instagram @letrispamulangofficial pada Jumat (15/5/2026), pihak yayasan menyatakan telah mengambil tindakan responsif.
"Demi menjunjung tinggi transparansi dan kelancaran proses investigasi, saat ini yang bersangkutan telah dinonaktifkan sementara dari jabatannya hingga proses pemeriksaan internal dinyatakan selesai sepenuhnya," tulis pernyataan resmi tersebut.
Yayasan memastikan telah membentuk tim investigasi khusus untuk mengusut tuntas fakta di lapangan.
Pihak sekolah berkomitmen akan menyelesaikan persoalan ini secara adil, objektif, dan merujuk pada aturan hukum serta kode etik pendidikan.
Fokus utama mereka saat ini adalah mengembalikan iklim belajar yang aman dan kondusif bagi seluruh peserta didik.
Apa Itu Child Grooming Menurut Kacamata Hukum?
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mendefinisikan child grooming sebagai salah satu bentuk kekerasan berbasis gender yang sangat berbahaya.
Praktik ini umumnya menyasar anak-anak melalui pemanfaatan relasi kuasa yang timpang dan manipulasi emosional.
Predator grooming biasanya memulai strategi dengan menjadikan diri mereka sebagai teman dekat, memberikan hadiah, atau validasi yang berlebihan.
Tujuannya adalah untuk mengisolasi anak dari lingkungan pendukungnya, membuat korban merasa bergantung, hingga akhirnya berujung pada normalisasi perilaku seksual, ancaman, hingga pemerasan terhadap anak di bawah umur.
Editor : Syahaamah Fikria