Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Viral Adu Pidato Presiden Prabowo vs BJ Habibie saat Rupiah Anjlok: Benarkah Warga Desa Tak Terdampak Dolar?

Syahaamah Fikria • Minggu, 17 Mei 2026 | 19:18 WIB
Presiden Prabowo Subianto, Presiden ke-3 BJ Habibie.
Presiden Prabowo Subianto, Presiden ke-3 BJ Habibie.

RADARSOLO.COM – Di tengah tren pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menyentuh level Rp17.600, netizen ramai membandingkan gaya komunikasi dan kebijakan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-3 RI, mendiang BJ Habibie.

Sebuah cuplikan video lawas wawancara BJ Habibie bersama jurnalis Najwa Shihab pun kembali viral. 

Dalam video tersebut, Habibie menceritakan pengorbanan besarnya menekan ego demi menyelamatkan ekonomi negara. 

Sikap negarawan ini lantas disandingkan secara kontras dengan pidato terbaru Presiden Prabowo yang dinilai terkesan meremehkan dampak lonjakan Dolar terhadap rakyat kecil.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Pakar Ekonomi Soroti Keterlibatan TNI/Polri Dalam Program MBG dan KDKMP

Lantas, seperti apa perbandingan pandangan kedua tokoh bangsa ini dan bagaimana realitas ekonomi yang sebenarnya terjadi di masyarakat?

Pidato Prabowo: "Rakyat di Desa Nggak Pakai Dolar"

Kontroversi bermula saat Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026). 

Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung isu pelemahan Rupiah dengan nada yang sangat santai.

Di hadapan publik, ia memuji ketenangan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. 

"Mana Purbaya? Populer sekali ya Purbaya ini. Selama Purbaya masih bisa senyum, tenang saja," kelakar Prabowo.

Lebih lanjut, Prabowo menepis kekhawatiran publik mengenai ancaman krisis ekonomi akibat kurs Dolar yang nyaris menyentuh Rp18.000.

“Jadi saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, rupiah begini, dolar begini. Orang rakyat di desa nggak pakai dolar, kok,” ucapnya tegas. 

Ia juga meyakinkan bahwa kondisi pangan dan energi nasional masih sangat aman jika dibandingkan dengan kepanikan yang melanda negara-negara lain.

Baca Juga: Rupiah Anjlok, Presiden Prabowo Sebut Orang Desa Enggak Pakai Dolar, Pengamat Ekonomi Beber Faktanya

Fakta Ekonomi: Dolar Naik, Harga Tahu-Tempe hingga BBM Ikut Mencekik

Pernyataan "rakyat desa tidak pakai Dolar" memantik gelombang kritik dari para ekonom dan masyarakat luas. 

Meski secara harfiah warga desa bertransaksi menggunakan Rupiah, pandangan tersebut dinilai sebagai sebuah miskonsepsi yang menyederhanakan rumitnya rantai pasok ekonomi makro.

Faktanya, pelemahan nilai tukar Rupiah memberikan efek domino (multiplier effect) yang menghantam langsung daya beli masyarakat kelas bawah, termasuk di pedesaan. 

Baca Juga: Truk dan Pikap KDMP Mulai Mendarat di Sragen, Siap Dibagikan ke 30 Lokasi

Berikut adalah bukti nyata bagaimana Dolar mempengaruhi kehidupan warga desa:

Bahan Pangan Impor: Kebutuhan pokok seperti kedelai (bahan baku utama tahu dan tempe), gandum, hingga bawang putih mayoritas masih diimpor menggunakan Dolar AS.

Dolar naik berarti biaya impor membengkak, yang ujungnya ditanggung oleh konsumen di pasar tradisional.

Biaya Pertanian: Harga pupuk dan obat-obatan pembasmi hama sangat bergantung pada bahan baku impor.

Energi dan Transportasi: Indonesia masih mengimpor Minyak Mentah (BBM). Pelemahan Rupiah akan membebani APBN (subsidi energi) atau berujung pada kenaikan harga BBM yang memicu lonjakan biaya logistik ke pelosok desa.

Dengan kata lain, ketika kurs Dolar melambung, harga barang-barang kebutuhan rumah tangga otomatis terkerek naik, sementara pendapatan masyarakat desa belum tentu bertambah.

Baca Juga: Kapan Libur Tanggal Merah Lagi Setelah Kenaikan Yesus Kristus? Cek Jadwal Sisa Libur Nasional-Cuti Bersama Mei 2026

Kilas Balik B.J. Habibie: "Saya Mengalah untuk Menang"

Di tengah kritik terhadap Prabowo, publik seolah bernostalgia dengan cara BJ Habibie menangani krisis moneter 1998. 

Saat menggantikan Soeharto, Habibie mewarisi negara dalam kondisi koma. 

Nilai tukar Rupiah terjun bebas dari Rp2.500 ke angka Rp16.000, inflasi meledak hingga 77 persen, dan gelombang PHK massal terjadi di mana-mana.

Dalam video viral yang diunggah ulang oleh akun Instagram Shift Media, Bapak Teknologi Indonesia itu bercerita bagaimana ia harus mengubur ambisi terbesarnya membangun industri dirgantara nasional demi perut rakyat.

Baca Juga: Gandeng Berbagai Organisasi, Pemkot Solo Fokus Perkuat Ekonomi Sirkular Berbasis Lingkungan

Saat itu, Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew bahkan sempat memperingatkan Habibie. 

"Kalau sampai melewati Rp20.000, akan banyak orang mengantre, makanan berkurang, dan PHK terjadi di mana-mana," ujar Habibie menirukan ucapan Lee Kuan Yew.

Sadar akan ancaman kelaparan dan kehancuran sosial, Habibie melepaskan egonya. 

"Bukankah itu lebih penting daripada penerbangan? Saya mengalah untuk menang," tegas Habibie.

Hanya dalam waktu singkat (17 bulan masa jabatan), Habibie mengeksekusi serangkaian kebijakan ekonomi radikal yang berbuah manis:

Restrukturisasi Perbankan: Melahirkan Bank Mandiri untuk menyelamatkan sektor keuangan.

Independensi Bank Indonesia (BI): Memisahkan BI dari campur tangan pemerintah.

Baca Juga: APBN Stop Subsidi Batik Solo Trans di 2027, Pemkot Solo Kebut Solusi Anggaran Operasional

Penurunan Suku Bunga: Menekan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari angka gila-gilaan 70 persen menjadi hanya belasan persen.

Stabilisasi Rupiah: Berkat kebijakan yang terukur dan mengembalikan kepercayaan pasar, Rupiah berhasil menguat tajam dari Rp16.800 menjadi sekitar Rp6.500 per Dolar AS di akhir masa kepemimpinannya.

Perbedaan fundamental dalam memandang krisis nilai tukar inilah yang membuat publik hari ini menuntut kepekaan yang lebih dari para pemangku kebijakan. 

Bahwa angka tukar Rupiah di layar bursa saham bukanlah sekadar statistik, melainkan penentu seberapa tebal piring nasi rakyat di meja makan, tak peduli di kota maupun di desa.

Editor : Syahaamah Fikria
#BJ Habibie #Prabowo Subiano #viral #rupiah anjlok #pidato