Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Mengapa Gubernur BI Perry Warjiyo Didesak Mundur? Primus Yustisio "Manusia Millenium": Saatnya Bapak Mengundurkan Diri

Syahaamah Fikria • Senin, 18 Mei 2026 | 17:35 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

RADARSOLO.COM – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, harus menghadapi cecaran tajam hingga desakan untuk mengundurkan diri saat menghadiri Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Desakan mundur tersebut disuarakan secara terbuka oleh Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PAN, Primus Yustisio. 

Reaksi keras ini muncul di tengah gelombang kejatuhan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level terendah di kisaran Rp17.600. 

Pihaknya menilai bahwa otoritas moneter tertinggi di Indonesia itu telah gagal menjalankan fungsinya dan kehilangan kepercayaan (trust) dari publik maupun pelaku pasar di tengah gejolak ekonomi saat ini.

Baca Juga: Kurs Rupiah Hari Ini 18 Mei 2026, Dibuka Melemah Tembus Rp 17.662 per Dollar AS

Alasan Primus Minta Perry Warjiyo Mundur

Kritik tajam Primus didasari oleh apa yang ia sebut sebagai anomali ekonomi. 

Ia menyoroti kontradiksi antara angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih impresif di level 5,61 persen, namun berbanding terbalik dengan kondisi Rupiah yang terjun bebas ke rekor terendahnya.

Kondisi pelemahan ini, menurut Primus, tidak hanya terjadi terhadap Dolar AS, melainkan rata terhadap hampir seluruh mata uang asing lainnya seperti Dolar Singapura, Dolar Australia, Ringgit Malaysia, Riyal, hingga Euro.

Baca Juga: Link Resmi Poster Film Pesta Babi Versi Indonesia dan Inggris, Bisa untuk Bahan Publikasi Nobar

Selain itu, legislator yang juga mantan aktor serial "Panji Manusia Millenium" itu turut menyoroti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tak kunjung pulih. 

Ketika pasar saham global sudah kembali menghijau (rebound) pasca-gejolak geopolitik pada akhir Februari lalu, indeks saham Indonesia justru masih terpuruk minus lebih dari 20 persen.

Melihat rentetan indikator merah tersebut, Primus secara lugas menyarankan Perry Warjiyo untuk mengambil langkah ksatria.

"Mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salah. Selanjutnya terserah Bapak. Itu bukan sebuah penghinaan. Anda akan jauh lebih dihormati, seperti budaya di Korea atau Jepang, jika Anda merasa tidak bisa melakukan tugas dengan baik," tegas Primus dalam rapat tersebut.

Kekecewaan serupa juga dilontarkan oleh Anggota Komisi XI lainnya, Harris Turino. 

Ia secara khusus mempertanyakan narasi Gubernur BI yang selama ini terus menyebut bahwa nilai tukar Rupiah "relatif stabil" dibandingkan negara lain.

Padahal realita di masyarakat menunjukkan kepanikan akibat daya beli yang merosot.

Baca Juga: Waspada Phishing, BRI Tegaskan Pengajuan KUR Tidak Ditawarkan Lewat Tautan Online

Harris bahkan menyentil klaim stabilitas BI tersebut dengan candaan satire yang tengah beredar di masyarakat. 

"Sekarang kurs sudah Rp17.600. Bahkan muncul ejekan, kalau tembus Rp17.845 berarti Indonesia merdeka, sesuai tanggal 17-8-45. Tapi Bapak masih bilang Rupiah stabil," sindir Harris.

Lebih lanjut, Harris juga menyebut upaya BI dalam melakukan intervensi habis-habisan menggunakan berbagai instrumen moneter.

Seperti penggerusan Ccdangan devisa dari US$156 miliar turun jadi US$146 miliar. Mengerek instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga 6,41 persen.

Hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) hingga Rp332 triliun sepanjang 2025, ditambah suntikan baru Rp133 triliun.

Namun faktanya Rupiah tetap tak tertolong. Sehingga dia pun mempertanyakan hal tersebut.

"Why? Mengapa Rupiah tetap alami depresiasi," tanya dia.

Lebih lanjut, menurut Harris, pelemahan ini tidak bisa melulu menyalahkan faktor global. 

BI dan pemerintah harus jujur mengakui adanya kelemahan fundamental di ranah domestik.

 

Editor : Syahaamah Fikria
#Perry Warjiyo #nilai tukar rupiah #Gubernur BI #bank indonesia #dolar