RADARSOLO.COM – Lonjakan nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) yang kian perkasa hingga menekan Rupiah ke level Rp 17.673 membuat situasi ekonomi memanas.
Merespons kondisi darurat ini, Presiden Prabowo Subianto langsung memanggil sejumlah menteri dan pejabat tinggi ekonomi ke Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin (18/5/2026).
Di antara para pejabat yang hadir—seperti Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, dan Menteri Investasi Rosan Roeslani—sosok Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menjadi yang paling disorot.
Sebelum menghadap Presiden, Perry baru saja menghadapi cecaran hebat dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI.
Baca Juga: Kurs Rupiah Hari Ini 18 Mei 2026, Dibuka Melemah Tembus Rp 17.662 per Dollar AS
Anggota parlemen dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, bahkan secara terbuka mendesak Perry untuk mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab moral atas jebloknya Rupiah serta merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga minus 20 persen.
Lantas, siapa sebenarnya Perry Warjiyo dan bagaimana rekam jejaknya di bank sentral hingga berada di posisi krusial ini?
Latar Belakang Pendidikan dan Kepakaran Moneter
Perry Warjiyo bukanlah orang baru di dunia keuangan.
Pria kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 25 Februari 1959 ini dikenal sebagai akademisi sekaligus birokrat moneter yang memiliki latar belakang riset yang sangat kuat.
Ia memulai perjalanan akademisnya di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 1982.
Kecintaannya pada ilmu ekonomi moneter membawanya terbang ke Amerika Serikat.
Perry sukses meraih gelar Master of Science (MSc) di bidang ekonomi moneter dan internasional dari Iowa State University pada tahun 1989.
Dua tahun berselang, tepatnya pada 1991, ia menuntaskan pendidikan tertingginya dan berhak menyandang gelar PhD (Doktor) dari universitas yang sama.
Selain aktif di bank sentral, pakar ekonomi makroprudensial ini juga membagikan ilmunya sebagai dosen Pascasarjana di Universitas Indonesia (UI) serta menjadi dosen tamu di berbagai universitas terkemuka di dalam negeri.
Karier Panjang di Bank Indonesia dan Pengalaman Internasional
Perry Warjiyo merupakan seorang bankir karier sejati.
Ia telah merintis perjalanannya di Bank Indonesia sejak Januari 1984, dimulai dari posisi staf di Desk Penyelamatan Kredit serta urusan pemeriksaan kredit.
Dedikasi dan kepakarannya membuat karier Perry melesat melalui berbagai posisi strategis:
1992–1995: Staf Gubernur Bank Indonesia.
1998: Kepala Biro Gubernur.
2001: Project Leader Unit Khusus Program Transformasi (UKPT).
2003: Direktur Pusat Pendidikan dan Studi Kebangsentralan (PPSK).
2005–2007: Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI.
Kemampuan Perry diakui di level dunia ketika ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Eksekutif di International Monetary Fund (IMF) selama dua tahun (2007–2009), mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South-East Asia Voting Group.
Sekembalinya ke tanah air, ia menjabat sebagai Asisten Gubernur untuk kebijakan moneter, makroprudensial, dan internasional (2009–2013).
Langkahnya menuju pucuk pimpinan semakin dekat ketika ia terpilih menjadi Deputi Gubernur BI periode 2013–2018.
Gubernur BI Dua Periode dan Deretan Penghargaan
Puncak karier Perry terjadi pada tahun 2018 ketika ia resmi dilantik menjadi Gubernur Bank Indonesia untuk periode pertama (2018–2023).
Kinerjanya yang dinilai stabil membuat Presiden Joko Widodo kala itu kembali mengajukannya, hingga Perry resmi mengukir sejarah dengan menjabat kembali sebagai Gubernur BI untuk periode kedua (2023–2028) berdasarkan Keppres RI No. 38/P Tahun 2023.
Di bawah kepemimpinannya, Perry dan Bank Indonesia telah mengoleksi berbagai penghargaan bergengsi berskala nasional dan internasional, di antaranya:
- Governor of the Year se-Asia Pasifik dari media Global Markets (2019).
- Anugerah Hamengku Buwono IX dari UGM (2022).
- The Best Central Bank of the Year dari Global Islamic Finance Awards (GIFA) tahun 2018 dan 2022.
- Pemimpin Terpopuler di Media Pemberitaan Online (2021 & 2023).
Perry juga seorang penulis produktif yang telah menelurkan beberapa buku referensi ekonomi penting.
Seperti Central Bank Policy Mix: Issues, Challenges, and Policy Responses (2020) dan Kebijakan Bank Sentral: Teori dan Praktik (2016).
Baca Juga: Link Resmi Poster Film Pesta Babi Versi Indonesia dan Inggris, Bisa untuk Bahan Publikasi Nobar
Tuntutan Mundur dari Parlemen
Meskipun memiliki deretan prestasi mentereng dan pengalaman internasional yang panjang, posisi Perry Warjiyo kini berada di titik paling krusial.
Kejatuhan mata uang Rupiah hingga menyentuh level Rp17.600-an membuat klaim "stabilitas" yang sering digaungkan BI dinilai bertolak belakang dengan kondisi riil di lapangan.
"Mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salah. Selanjutnya terserah Bapak. Itu bukan sebuah penghinaan. Anda akan jauh lebih dihormati, seperti budaya di Korea atau Jepang, jika Anda merasa tidak bisa melakukan tugas dengan baik," tegas Primus, anggota DPR RI Fraksi PAN saat Rapat Kerja DPR RI.
Editor : Syahaamah Fikria