RADARSOLO.COM - Musim haji telah tiba. Selain Kabah di Mekah, jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia juga berdatangan ke Madinah untuk beribadah ke Masjid Nabawi di Kota Sang Nabi. Sebuah Masjid yang menyimpan banyak sejarah persambungan peradaban Islam dan dunia.
Masjid Nabawi adalah pusat sejarah peribadatan Ummat Islam sekaligus pusat literatur Islam tertua & paling berpengaruh di dunia. Di dalam masjid terdapat sebuah perpustakaan besar bersejarah yang letaknya ada di lantai dua.
Perpustakaan Masjid Nabawi tersebut bukanlah sekadar ruang baca. Ia juga adalah jembatan peradaban Islam yang mempertemukan jutaan jamaah haji dan umrah dengan khazanah keilmuan Islam dari berbagai penjuru dunia.
Baca Juga: Duka Embarkasi Solo: Sri Wuwuh Jemaah Haji Asal Blora Wafat di Makkah Jelang Puncak Armuzna
Berdasar literatur dari Madain Project, dapat diperoleh gambaran lengkap mengenai Perpustakaan Masjid Nabawi yang menjadi menara ilmu Lintas Bahasa di Kota Suci. Masjid Nabawi telah mengemban fungsi ganda sebagai tempat ibadah sekaligus pusat pendidikan (melalui para sahabat Ahlu al-Suffah) sejak berabad-abad lamanya. Tradisi pengajaran ini menstimulus pengumpulan manuskrip Al-Qur'an dan catatan hadis di sekitar area masjid serta berlanjut pula untuk sumber ilmu turunannya.
Al-Jami'ah, sebuah jurnal ilmiah tentang Studi Islam mengungkapkan mengenai sejarah perpustakaan Muslim disana dimana ada tradisi menaruh koleksi kitab wakaf di area masjid yang telah menjadi karakteristik utama peradaban Islam awal.
Baca Juga: Duka Embarkasi Solo: Sri Wuwuh Jemaah Haji Asal Blora Wafat di Makkah Jelang Puncak Armuzna
Sejarah menunjukkan perpustakaan ini telah mapan sebelum abad ke-15. Namun, pada 14 Ramadan 886 H (November 1481 M), ada petir menyambar menara yang berakibat kebakaran hebat yang turut menghancurkan juga lemari-lemari penyimpanan kuno yang menampung mushaf-mushaf langka dan kitab-kitab berharga zaman salaf.
Perpustakaan ini bangkit kembali pada tahun 1352 H (1933 M) di bawah perintah Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud. Atas rekomendasi dari Obaid Madani (Direktur Wakaf Madinah saat itu), seluruh kitab yang terserak dari berbagai lembaga wakaf disatukan kembali ke dalam satu pengelolaan terpusat.
Baca Juga: Kapan Idul Adha 2026 Versi NU? PBNU Resmi Tetapkan Tanggal Lebaran Haji Serentak dengan Pemerintah
Data dari Saudi Press Agency (SPA) menyatakan bahwa perpustakaan ini menampung lebih dari 182.000 buku fisik dan 143.105 publikasi digital, dengan arsip digital yang menembus angka mencapai 43 juta halaman. Tak banyak pula yang mengetahui, bahwa perpustkaan ini juga menyimpan sekitar 4.000 manuskrip asli dan 250 mushaf Al-Qur'an tulisan tangan peninggalan abad pertengahan (Khairunnisa; 2025).
Sampai hari ini Perpusatakaan Masjid Nabawi meluncurkan katalog interaktif dalam 23 bahasa dunia termasuk bahasa Indonesia sebagai negara penyumbang terbesar jumlah tamu Allah dan Rasul-Nya di sana. Proses digitalisasi di Seksi Manuskrip
Perpustakaan Masjid Nabawi telah berhasil menyelamatkan ribuan naskah kuno (kitab bertuliskan tangan) yang menjadi warisan otoritatif peradaban Islam. Kitab-kitab ini telah dialihkan ke dalam format gambar beresolusi tinggi guna memudahkan para peneliti dan masyarakat mengaksesnya secara digital tanpa merusak kertas aslinya.
Berdasarkan inventarisasi katalog naskah kuno Al-Haramain, laporan khusus Saudi Press Agency (SPA), serta data kodikologi perpustakaan Islam, berikut adalah beberapa judul utama dari ribuan manuskrip kuno yang telah berhasil diselamatkan lewat proses digitalisasi di Perpustakaan Masjid Nabawi.
Pertama, Kitab Al-Muwatta’ (Salinan Musnad Al-Muwatta) yang ditulis Imam Malik bin Anas (pendiri mazhab Maliki) pada abad ke-2 Hijriah (780 M). Manuskrip fisik tulisan tangan salinan berharga berusia ratusan tahun. Ini merupakan salah satu kitab hukum Islam tertua yang memadukan hadis dengan fiqih penduduk Madinah.
Kedua, Shahih al-Bukhari yang ditulis Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Aslinya kitab ini ditulis pada abad ke-3 Hijriah (846 M). Salinan tulisan tangan di ruang bawah tanah dan lantai dua perpustakaan berasal dari berkisar dari era kekhalifahan yang berusia lebih dari 200 hingga 600 tahun. Ini adalah Manuskrip kitab hadis paling sahih di dunia Islam dengan tinta emas khusus pada beberapa ortografi judul babnya.
Ketiga, Al-Tamheed lima fil-Muwatta min Al-Ma'ani wa Al-Asaaneed yang ditulis Yusuf bin Abdullah Al-Qurtabi. Disalin pada tahun 687 Hijriah (1288 M). Manuskrip ini adalah penjelasan (syarah) komprehensif atas kitab Al-Muwatta karya Imam Malik yang sangat tebal dan langka.
Keempat, Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filosof) yang ditulis oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali pada abad ke-11 Masehi. Salinan manuskrip digital ini disalin tepat dua tahun setelah wafatnya penulis (1113 M). Ini adalah karya teologi Islam (kalam) monumental yang mengkritik pergeseran pemikiran filsafat helenistik di dunia Islam pada masa itu.
Kelima, Mushaf Al-Qur'an standar Utsmani (salinan era awal). Dengan atribusi khas era Kekhalifahan. Penulis mushaf yang tidak diketahui namanya ini terlihat menggunakan gaya penulisan aksara Kufi kuno tanpa harakat, berasal dari abad-abad awal Hijriah. Bagian dari koleksi 250 mushaf Al-Qur'an bertulis tangan asli ini diselamatkan secara digital. Lembaran aslinya ditulis di atas media kulit domba/unta khusus (parchment).
Keenam, Mushaf Al-Qur'an estetik 440 Tahun yang ditulis oleh Kaligrafer kenamaan era Dinasti Utsmaniyah sekitar tahun 992 Hijriah (1584 M). Salinan Al-Qur'an unik berusia 440 tahun ini memiliki hiasan iluminasi (ornament) emas murni di setiap pinggiran halamannya.
Ketujuh, Al-Taysir fi al-Qira'at al-Sab' (Panduan Tujuh Metode Qira'at) yang ditulis Imam Ad-Dani pada abad ke-5 Hijriah (1052 M). Manuskrip ini merupakan rujukan utama dunia Islam dalam mempelajari variasi bacaan Al-Qur'an (Qira'at Sab'ah) yang diselamatkan teksnya agar tidak lapuk dimakan usia.
Kedelapan, Al-Jami' al-Kabir (Kompilasi Fikih Akbar) yang ditulis oleh Imam Muhammad bin Al-Hasan Al-Syaibani (murid utama Imam Abu Hanifah). Penulisan aslinya dilakukan pada abad ke-2 Hijriah (800 M). Ini merupakan naskah dasar (matan) fikih Mazhab Hanafi. Salinan naskah kuno ini berkarakter tinta legap yang tersimpan di perpustakaan ini didigitalisasi untuk melayani komparasi fikih mazhab.
Kesembilan, Sirat al-Nabi (Naskah Sejarah Hidup Nabi) yang diperkirakan ditulis berdasarkan transmisi Ibnu Hisyam & Ibnu Ishaq. Naskah salinan tulisan tangan yang berhasil diarsipkan secara digital berasal dari tahun 1254 Hijriah (1838 M). Ini adalah manuskrip sejarah yang memuat silsilah, peperangan, dan risalah kehidupan Nabi Muhammad SAW yang menjadi inti dari klasifikasi Sirah Nabawiyah di perpustakaan.
Kesepuluh adalah Riyadhus Shalihin (manuskrip salinan kuno Madinah) yang ditulis oleh Imam Nawawi. Penulisan aslinya dikerjakan pada tahun 670 Hijriah (1271 M). Meski versi cetak modernnya melimpah, perpustakaan ini menyimpan lembaran asli salinan tangan kuno dari naskah hadis moral ini sebagai master digital perlindungan arsip Islam sejarah.
Sungguh menggetarkan, itu sebagian yang utama dari ratusan ribu manuskrip kuno lain yang telah diselamatkan. Didalamnya terdapat sumber-sumber ilmu yang telah menjadi rujukan masyarakat dunia, menjadi dasar pemikiran dan perbuatan selama berabad lamanya dalam rangka keimanan pada Allah SWT Sang Pencipta Alam.
Inilah Perpustakaan Masjid Nabawi, salah satu mata air ilmu yang menjadi hulu dari pelestarian dan penjagaan cahaya ilmu Sang Nabi. Selain dikunjungi oleh para mahasiswa dan pelajar, tak sedikit pula jamaah Haji yang mampir setelah menunaikan Sholat di Masjid Nabawi.
Semoga tetap lestari hulu cahaya ilmu Sang Nabi, sebagai tuntunan pemikiran dan perilaku kehidupan masyarakat dunia dan juga setiap insan. (Rosnendya Yudha Wiguna, Direktur Syiar-Pusat Studi Lontar Nusantara sedang bertugas sebagai PPIH di Arab Saudi 2026).
Editor : Kabun Triyatno