RADARSOLO.COM – Kementerian Agama RI menetapkan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.
Menjelang pelaksanaan salat Idul Adha (salat Id), kesiapan materi khutbah yang relevan dengan dinamika sosial masyarakat menjadi hal yang sangat penting.
Untuk itu, draf teks khutbah Idul Adha 2026 ini dirancang secara khusus dengan pendekatan yang menyejukkan hati, menyentuh empati, serta sangat relate dengan perjuangan hidup masyarakat di era modern saat ini.
Esensi utama Idul Adha bukan sekadar ritual menyembelih hewan kurban, melainkan refleksi mendalam tentang pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan keteguhan hati Nabi Ismail AS.
Baca Juga: Khutbah Jumat 22 Mei 2026: Menanamkan Empati dan Solidaritas Sosial melalui Ibadah Kurban
Di tengah situasi dunia saat ini—di mana banyak orang berjuang menghadapi ketidakpastian ekonomi, tekanan mental, dan pudarnya ruang sosial—pesan keikhlasan dari kisah tersebut menjadi obat penawar yang sangat dirindukan.
Berikut adalah teks lengkap khutbah Idul Adha 2026 yang dapat dibawakan oleh khatib di berbagai masjid maupun lapangan terbuka.
Teks Khutbah Idul Adha 1447 H / 2026 M
Khutbah Pertama
اللهُ أَكْبَرُ (3×) اللهُ أَكْبَرُ (3×) اللهُ أَكْبَرُ (3×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُالْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدًا مُبَارَكًا، وَأَمَرَنَا بِتَقْوَاهُ وَطَاعَتِهِ عَبْدًا مُخْلِصًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Salat Idul Adha yang Dirahmati Allah,
Pagi ini, gema takbir, tahmid, dan tahlil membelah angkasa, mengetuk pintu-pintu hati kita yang mungkin sedang lelah, jenuh, atau terluka oleh berbagai urusan duniawi.
Hari ini kita berkumpul, bersujud bersama, merayakan Hari Raya Kurban.
Jika kita merenung sejenak, kehidupan modern yang kita jalani di tahun 2026 ini menuntut banyak hal dari kita.
Kita dipaksa berlari mengejar pemenuhan ekonomi, terjebak dalam kompetisi yang tiada habisnya, hingga sering kali membuat hati kita terasa hampa dan cemas akan masa depan.
Baca Juga: Jelang Idul Adha, Sukoharjo Nihil Penyakit PMK
Di titik lelah inilah, Idul Adha datang menyapa kita semua sebagai sebuah oase yang menyejukkan.
Idul Adha hadir untuk mengembalikan orientasi hidup kita melalui kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Bayangkan sebuah ujian cinta yang teramat berat.
Nabi Ibrahim AS, setelah menanti puluhan tahun dalam doa dan air mata untuk kehadiran seorang anak, justru diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail yang baru saja tumbuh remaja.
Secara logika manusia, ini adalah perintah yang menyayat hati.
Namun, mari kita dengar bagaimana Alquran mengabadikan dialog paling menyentuh sepanjang sejarah umat manusia dalam Surah As-Saffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْن
Artinya: "Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'." (QS. As-Saffat: 102).
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Perhatikan jawaban Nabi Ismail AS. Beliau tidak bertanya, "Mengapa harus aku, Ayah?" Beliau juga tidak mengeluh atas ketetapan yang tampak tidak adil itu.
Kalimat "Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu" adalah puncak dari sebuah penyerahan diri yang utuh (Islam).
Pesan ini sangat lekat dengan kondisi kita saat ini.
Sering kali, dalam hidup ini, kita diuji dengan hal-hal yang tidak kita sukai.
Kehilangan pekerjaan, usaha yang sepi, rencana masa depan yang berantakan, atau kehilangan orang-orang tercinta.
Kita sering bertanya, "Ya Allah, mengapa ujian ini menimpa diriku?"Idul Adha mengajarkan kepada kita: ketika kita melepaskan sesuatu yang kita cintai karena Allah, atau ketika kita rida atas takdir-Nya yang berat, saat itulah Allah akan menggantinya dengan kemuliaan yang tak ternilai.
Allah tidak butuh darah hewan kurban kita, Allah juga tidak butuh kematian Ismail.
Yang Allah inginkan adalah keteguhan iman dan keikhlasan hati kita.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Ibadah kurban yang kita tunaikan hari ini juga memiliki dimensi sosial yang sangat mendalam.
Baca Juga: Jelang Idul Adha, Disnakkan Boyolali Temukan 51 Kasus PMK Akibat Lonjakan Lalu Lintas Ternak
Di sekitar kita, masih banyak saudara-saudara kita yang jangankan memikirkan masa depan, untuk sekadar makan hari ini saja mereka harus memeras keringat di bawah terik matahari.
Melalui daging kurban yang kita bagikan, kita sedang meruntuhkan dinding egoisme.
Kita sedang berkata kepada mereka yang kekurangan: "Kalian tidak berjuang sendirian, hari ini kita tersenyum bersama."
Maka, marilah kita jadikan momentum Idul Adha 2026 ini untuk membersihkan hati dari sifat kikir, sombong, dan egois.
Mari kita tebarkan kedamaian, saling memaafkan, dan kuatkan kembali tali silaturahmi yang sempat renggang.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ (7×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُالْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، حَيْثُ قَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Di akhir kebersamaan kita pagi ini, marilah kita tundukkan kepala, merendahkan hati di hadapan Dzat yang Maha Rahman.
Mari kita basuh jiwa kita dengan doa-doa yang tulus, memohon kekuatan agar kita senantiasa menjadi hamba yang sabar, ikhlas, dan peduli sesama.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ بَلَدَنَا هٰذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa para pemimpin kami.
Di hari yang suci ini, angkatlah segala rasa cemas, sedih, dan beban berat yang menggelayuti hati hamba-hamba-Mu.
Karuniakanlah kami keikhlasan layaknya Nabi Ibrahim, dan ketabahan layaknya Nabi Ismail dalam menghadapi setiap ketentuan-Mu di dunia ini.
Ya Allah, berkahilah hewan kurban yang kami sembelih hari ini, jadikanlah ia sebagai saksi ketakwaan kami dan pengetuk pintu surga-Mu kelak.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Editor : Syahaamah Fikria