RADARSOLO.COM - Nama Rifaldy Fajar dan Prihantini tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah muncul dugaan terkait kebohongan dan riset palsu yang dipresentasikan dalam sebuah konferensi internasional.
Isu ini pertama kali mencuat dari unggahan akun Threads @mandharabrasika yang kemudian ramai dibahas warganet hingga viral di berbagai platform digital.
Bermula dari Konferensi Ilmiah di Kopenhagen
Peristiwa ini disebut berawal dari sebuah konferensi ilmiah internasional bertajuk ISPPD 2026 yang digelar di Kopenhagen, Denmark.
Forum tersebut diketahui merupakan ajang bergengsi bagi para ahli di bidang pneumonia dari berbagai negara.
Dalam unggahan yang beredar, seorang peserta perempuan diduga melakukan pergantian identitas saat sesi presentasi.
Ia disebut beberapa kali mengganti nama, serta mengubah penampilan seperti jilbab dan name tag saat tampil di forum ilmiah tersebut.
Tindakan itu kemudian memicu sorotan karena dianggap sebagai bentuk dugaan manipulasi identitas di hadapan peserta konferensi lainnya.
Dugaan Riset Palsu Menggunakan AI
Selain isu identitas, publik juga menyoroti isi penelitian yang dipresentasikan.
Dalam laporan yang beredar di media sosial, riset tersebut diduga tidak benar-benar dilakukan secara ilmiah.
Netizen menyebut penelitian itu kemungkinan dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) atau bahkan hasil fabrikasi data.
Bahkan, gambar dan tulisan dalam riset tersebut juga dipertanyakan keasliannya karena dinilai terlalu sempurna dan tidak didukung data lapangan yang valid.
Lokasi penelitian yang dicantumkan juga menjadi sorotan, karena mencakup berbagai wilayah seperti Andes Peru, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India utara. Namun, tidak ditemukan bukti adanya kolaborasi dengan peneliti lokal maupun persetujuan etik yang jelas.
Nama Rifaldy Fajar Ikut Terseret
Dalam polemik ini, Rifaldy Fajar turut menjadi sorotan publik. Ia diketahui merupakan lulusan Program Studi Matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2014.
Sebelumnya, Rifaldy dikenal sebagai mahasiswa berprestasi yang pernah meraih predikat Mahasiswa Berprestasi Utama UNY pada tahun 2017.
Namun, kini namanya ikut terseret dalam dugaan kontroversi tersebut.
Sejumlah informasi yang beredar di media sosial juga menyoroti kejanggalan afiliasi akademik yang dicantumkan dalam riset, termasuk klaim terkait departemen yang disebut tidak sesuai dengan struktur resmi di kampus terkait.
Viral di Media Sosial, Netizen Anggap Malu-Maluin Kampus
Isu ini kemudian berkembang luas di media sosial dan memicu reaksi keras dari warganet.
Banyak yang menilai kasus ini sebagai bentuk Dugaan Riset Palsu yang mencoreng dunia akademik.
Tak sedikit pula yang menyebut kasus Kebohongan ini sebagai hal yang Malu-maluin Kampus, karena dinilai dapat merusak reputasi institusi pendidikan Indonesia di mata internasional.
Masih Menunggu Klarifikasi Resmi
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi atau kesimpulan final terkait kebenaran dugaan tersebut.
Namun, publik terus mendesak adanya klarifikasi dari pihak terkait maupun penyelenggara Konferensi Internasional di Kopenhagen.
Sejumlah akademisi juga mengingatkan pentingnya integritas dalam penelitian ilmiah, terutama dalam penggunaan data dan teknologi seperti AI agar tidak disalahgunakan untuk membuat riset fiktif.
Kasus ini masih menjadi perhatian luas dan terus berkembang di media sosial, sembari publik menunggu hasil klarifikasi dan investigasi lebih lanjut.(np)