RADARSOLO.COM – Kabar duka menyelimuti sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM) menyusul insiden tragis yang menimpa salah satu mahasiswanya.
Bagas Amar Hakiki, 21, teridentifikasi sebagai salah satu dari empat korban tewas satu keluarga yang ditemukan terbujur kaku di dalam tenda glamping di objek wisata alam, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Pemuda tersebut meninggal dunia bersama ayah, ibu, dan adik kandungnya dalam sebuah tragedi yang diduga kuat akibat keracunan makanan.
Kepastian mengenai status kemahasiswaan korban dibenarkan langsung oleh pihak otoritas kampus di Yogyakarta.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM Prof Setiadi mengonfirmasi bahwa Bagas merupakan mahasiswa aktif yang tengah menempuh studi di salah satu program studi rumpun humaniora FIB UGM.
"Nggih (betul). Yang bersangkutan mahasiswa kami dari Sastra Prancis," ujar Setiadi.
Berikut adalah profil singkat Bagas Amar Hakiki dan latar belakang keluarga korban asal Kabupaten Semarang yang meninggal dunia secara misterius saat mengisi momen liburan bersama.
Profil Keluarga dan Latar Belakang Bagas Amar Hakiki
Bagas Amar Hakiki merupakan bagian dari keluarga wirausaha yang berdomisili di Desa Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Dalam rombongan keluarga yang berangkat ke Temanggung tersebut, Bagas ditemani oleh ketiga anggota keluarga intinya dengan rincian identitas sebagai berikut:
Muhammad Ali Munawar, 52: Ayah kandung Bagas, yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang di wilayah Ambarawa.
Maghfirah, 43: Ibu kandung Bagas, yang juga berprofesi sebagai pedagang bersama sang suami.
Alvino Evan Hakim, 16: Adik kandung Bagas, yang berstatus sebagai pelajar sekolah menengah.
Bagas Amar Hakiki, 21: Anak sulung, mahasiswa aktif Sastra Prancis FIB UGM Angkatan 2023.
Baca Juga: Ada Temuan Cacing Hati pada Hewan Kurban di Wonogiri, Dinas Pertanian Lakukan Pemantauan Ketat
Kronologi Satu Keluarga Meninggal dan Dugaan Keracunan Makanan
Tragedi yang menimpa mahasiswa UGM beserta keluarganya ini bermula saat rombongan tiba di kawasan wisata dataran tinggi Kledung, Temanggung pada Selasa malam, 26 Mei 2026, sekitar pukul 22.00 WIB.
Mereka kemudian melakukan kegiatan berkemah (camping) di salah satu glamping.
Pada Rabu, 27 Mei 2026 pukul 11.45 WIB, petugas pengelola wisata mendatangi tenda korban untuk mengingatkan bahwa soal waktu tenggat batas tinggal (checkout).
Baca Juga: Jukir Liar GOR Sritex Solo Tertangkap Lagi , Lolos dari Jerat Pidana Hanya Diminta Wajib Lapor
Petugas sempat mengetuk dan mengingatkan dari luar agar tenda segera dikosongkan karena area perkemahan akan dibersihkan untuk pengunjung berikutnya.
Namun, saat itu sama sekali tidak ada respons maupun suara dari dalam tenda.
Kemudian, sekitar pukul 15.00 WIB, petugas memutuskan untuk membuka resleting pintu tenda glamping.
Saat pintu terbuka, petugas terkejut melihat keempat korban sudah terbujur kaku dalam posisi terlentang.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) Satreskrim Polres Temanggung bersama tim medis, satu keluarga ini diduga kuat meninggal dunia akibat mengalami keracunan makanan dari hidangan yang mereka siapkan dan bawa sendiri dari rumah.
Proses Uji Laboratorium Forensik Sedang Berjalan
Aparat kepolisian saat ini telah mengamankan seluruh sampel sisa makanan yang ditemukan di lokasi perkemahan korban untuk diteliti secara klinis.
Termasuk sisa-sisa hidangan barbeque (panggangan daging) yang diduga sempat dikonsumsi keluarga tersebut pada malam sebelum kejadian.
Sampel-sampel tersebut kini tengah diuji secara intensif oleh Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng.
Sementara itu, jenazah satu keluarga direncanakan segera dipulangkan ke rumah duka di Ambarawa setelah seluruh rangkaian autopsi forensik di RSUD Temanggung selesai dilaksanakan oleh tim dokter kepolisian.
Editor : Syahaamah Fikria