RADARSOLO.COM – Hubungan kelembagaan antara tokoh senior dan jajaran pemerintahan baru-baru ini jadi sorotan setelah mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal, dikritik balik oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.
Ketegangan ini bermula saat Dino melayangkan kritik terbuka terkait tingginya intensitas perjalanan dinas luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang dinilai memakan biaya logistik, protokoler, hingga pengamanan yang sangat besar.
Dino bahkan menyebut, berdasarkan kalkulasi komunitas hubungan internasional, Presiden Prabowo jadi salah satu kepala negara yang paling sering bepergian ke luar negeri sejak resmi dilantik.
Meski mengapresiasi masukan yang diberikan, tanggapan Seskab Teddy dinilai sebagian netizen bernada menyindir lantaran mengungkit masa jabatan Dino yang terhitung singkat.
"Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," ujar Teddy melalui kanal media sosial resmi Sekretariat Presiden.
Faktanya, kiprah Dino Patti Djalal di dunia diplomasi internasional sudah merentang sangat panjang.
Ia tercatat mulai masuk dan mengabdi di Departemen Luar Negeri (sekarang Kemlu) sejak tahun 1987.
Di mana pada era itu Seskab Teddy Indra Wijaya bahkan belum lahir ke dunia. Sebagai informasi, Teddy sendiri merupakan perwira yang baru lahir pada 14 April 1989.
Tumbuh di Lingkungan Diplomat dan Rekam Jejak Akademik
Dino Patti Djalal lahir di Belgrade, Yugoslavia, pada 10 September 1965.
Dunia hubungan internasional bukan hal asing baginya, mengingat ia adalah putra dari Hasjim Djalal, seorang diplomat senior Indonesia sekaligus pakar hukum laut internasional terkemuka.
Karena mengikuti tugas sang ayah, Dino menghabiskan masa kecil dan remajanya berpindah-pindah negara, mulai dari Guinea, Singapura, Kanada, hingga Amerika Serikat.
Silsilah akademis Dino pun tergolong sangat mentereng dan linear di bidang geopolitik global:
Baca Juga: Alih Fungsi Lahan Capai 400 Hektare, Ini Siasat DKPP Klaten Jaga Luas Panen Padi
Pendidikan Dasar dan Menengah: SD Muhammadiyah Jakarta, SMP Al-Azhar Jakarta, dan lulus dari McLean High School di Virginia, Amerika Serikat.
Gelar Sarjana (S1): Ilmu Politik (Political Science) dari Carleton University, Ottawa, Kanada.
Gelar Magister (S2): Ilmu Politik (Political Science) dari Simon Fraser University, Vancouver, Kanada.
Gelar Doktor (PhD): Hubungan Internasional (International Relations) dari kampus bergengsi London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris.
Baca Juga: Duh, Kelompok PNS Ini Tak Dapat Transferan Gaji Ke-13 2026 di Rekening
Hampir 40 Tahun Mengabdi: Dari Jubir SBY Hingga Wamenlu
Bergabung dengan Kementerian Luar Negeri sejak tahun 1987, Dino telah meniti karier dari bawah sebagai diplomat profesional.
Ia pernah ditempatkan di pos-pos krusial luar negeri seperti London (1992-1997) dan Washington DC (2000-2002).
Namanya mencuat ke panggung nasional saat dipercaya menjadi juru bicara Pemerintah Indonesia dalam referendum PBB di Timor Timur pada tahun 1999.
Kariernya melesat tajam pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Selama periode 2004 hingga 2010, Dino dipercaya mengemban posisi sebagai Staf Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional sekaligus Penasihat Kebijakan Luar Negeri dan penulis pidato resmi Presiden SBY.
Atas jasanya tersebut, ia dianugerahi penghargaan Bintang Jasa Utama pada tahun 2010.
Setelah itu, ia dipromosikan menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Amerika Serikat periode 2010-2013.
Baca Juga: Kurang dari 24 Jam, Damkar Boyolali Evakuasi Ular Sanca dan Kobra di Empat Lokasi
Di akhir masa pemerintahan SBY, tepatnya pada periode Juni hingga Oktober 2014, barulah ia diangkat menjadi Wakil Menteri Luar Negeri dan menerima penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana.
Gelar "Bapak Diaspora" dan Rekor Dunia Guinness
Di luar jabatan strukturalnya di pemerintahan, Dino Patti Djalal menorehkan tinta emas yang berdampak besar pada penataan jaringan masyarakat Indonesia di luar negeri.
Baca Juga: Gunakan Angkot, Rombongan Duta Wisata Wonogiri Jelajahi Petilasan Raden Mas Said
Ia merupakan konseptor, penggagas, sekaligus penyelenggara Kongres Dunia Diaspora Indonesia pertama yang dihelat di Los Angeles, AS, pada tahun 2012.
Dino pula yang mencetuskan istilah "Diaspora Indonesia" dan mendirikan jaringan Indonesian Diaspora Network (IDN).
Kini IDN memiliki cabang di seluruh dunia, sehingga ia melekat dengan julukan sebagai "Bapak Diaspora Indonesia".
Beberapa capaian, inovasi, serta prestasi non-formal lainnya dari Dino meliputi:
- Diplomasi Budaya Rekor Dunia
Memecahkan Rekor Dunia Guinness (Guinness World Records) pada tahun 2011 untuk penyelenggaraan ansambel pertunjukan angklung terbesar di Washington DC.
- Inovasi Sosial dan Keagamaan
Mendirikan program "1000 Lingkaran Abrahamik" (1000 Abrahamic Circles) pada 2017 untuk mempromosikan perdamaian akar rumput antara tokoh Islam, Kristen, dan Yahudi lintas negara.
Di mana kemudian memenangkan Intercultural Innovation Award dari pemerintah Austria pada 2020.
- Gerakan Anak Muda
Mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) pada tahun 2015 yang kini menjadi komunitas kebijakan luar negeri terbesar di Indonesia dengan jaringan lebih dari 100.000 orang.
- Dunia Literasi dan Akademik
Aktif menulis dan telah menerbitkan 11 buku bertema kepemimpinan, serta sempat dipercaya menjabat sebagai Ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) pada 2018.
Meski masa jabatannya sebagai Wamenlu hanya berlangsung singkat di masa transisi pemerintahan 2014 lalu, namun Dino Pati Djalal bukan sosok sembarangan.
Rekam jejak, silsilah pendidikan tinggi, serta sumbangsih diplomasinya selama hampir empat dekade membuktikan bahwa dia merupakan salah satu tokoh diplomat paling berpengaruh yang dimiliki Indonesia di kancah internasional.
Editor : Syahaamah Fikria