RADARSOLO.COM – Kabar mengejutkan datang dari pentas politik Sumatera Selatan setelah Bupati Muara Enim Edison dikabarkan terjaring dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilancarkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Senin (8/6/2026).
Operasi senyap tersebut dilakukan secara simultan di dua wilayah, yakni Jakarta dan Sumatera Selatan.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengonfirmasi bahwa dalam operasi senyap ini, tim penyidik total mengamankan 10 orang.
Baca Juga: Siapa Edison? Profil Bupati Muara Enim yang Terjaring OTT KPK Terbaru
Pihak yang ditangkap terdiri dari lima orang jajaran internal Pemkab Muara Enim termasuk sang bupati, serta lima orang lainnya yang berasal dari pihak swasta.
Menyusul penangkapan tersebut, tim KPK dengan pengawalan ketat kepolisian langsung bergerak melakukan penyegelan dan penggeledahan di ruang kerja serta rumah dinas Bupati.
Hingga merembet ke lima ruangan strategis di kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Muara Enim.
Sebelum mengemban amanah memimpin Kabupaten Muara Enim, Edison dikenal luas memiliki rekam jejak birokrasi yang panjang di lingkup Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Baca Juga: Bupati Muara Enim Edison dari Partai Apa? Terjaring OTT KPK di Sumsel dan Jakarta
Termasuk pernah menduduki posisi prestisius sebagai Kepala Kantor BPN Kota Palembang.
Karier mumpuni di bidang agraria ini rupanya selaras dengan pundi-pundi kekayaan yang dimilikinya.
Berdasarkan dokumen laporan resmi di laman e-LHKPN KPK, total kekayaan bersih Edison menyentuh angka cukup fantastis, yakni Rp16.030.192.000, tanpa catatan utang sepeser pun.
Berikut adalah rincian draf koleksi aset properti, tanah, hingga isi garasi milik Edison yang kini tengah disorot publik.
Daftar Harta Kekayaan Bupati Muara Enim Edison
Mengingat latar belakang profesinya yang lama malang melintang di dunia pertanahan, tidak mengherankan jika sebagian besar pundi kekayaan Edison tertanam pada aset tidak bergerak.
Total nilai aset tanah dan bangunan miliknya tercatat mencapai Rp14.180.192.000 yang tersebar di beberapa area strategis:
Baca Juga: Finishing Masih Jadi PR, Persebi Boyolali Siap Menatap 32 Besar Liga 4 Piala Presiden
Kota Palembang:
- Tanah dan bangunan seluas 719 m²/300 m² senilai Rp1.274.068.000.
- Lahan tanah seluas 579 m² senilai Rp173.700.000.
- Lahan tanah seluas 2.617 m² senilai Rp4.637.324.000.
- Lahan tanah super luas mencapai 16.830 m²/1 m² senilai Rp6.732.000.000.
- Lahan tanah seluas 104 m² senilai Rp280.000.000.
Kabupaten Banyuasin:
- Lahan tanah seluas 500 m² senilai Rp75.000.000.
- Lahan tanah seluas 2.500 m² senilai Rp625.000.000.
Kota Prabumulih:
- Lahan tanah seluas 1.277 m² senilai Rp383.100.000.
Berdasarkan keterangan laporan, seluruh portofolio properti bernilai miliaran rupiah tersebut didapatkan dari hasil usaha sendiri.
Baca Juga: Berpolemik dengan Perangkat Desa, Nasib Camat Selogiri Fredy Sasono Tunggu Sikap Bupati Wonogiri
Isi Garasi dan Alat Transportasi
Selain aset tanah yang berderet, Edison juga melaporkan kepemilikan alat transportasi dan mesin di dalam garasi rumahnya dengan total nilai mencapai Rp505.000.000.
Tercatat ada dua unit mobil mewah berbadan bongsor yang ia miliki:
Toyota Alphard (Tahun 2010): Mobil MPV premium hasil sendiri yang ditaksir memiliki nilai ekonomis sebesar Rp125.000.000.
Toyota Fortuner Minibus (Tahun 2019): Kendaraan SUV gagah hasil sendiri yang dilaporkan bernilai Rp380.000.000.
Harta Bergerak, Kas dan Total Kekayaan Bersih
Melengkapi draf laporan kekayaannya, Bupati Muara Enim ini juga mencantumkan kepemilikan harta bergerak lainnya senilai Rp705.000.000.
Sementara untuk simpanan likuid yang berada di kategori kas dan setara kas, ia mengantongi dana sebesar Rp140.000.000, ditambah dengan kepemilikan harta lainnya sebesar Rp500.000.000.
Akumulasi seluruh harta tersebut secara bersih berjumlah Rp16.030.192.000.
Kini, ASN yang banting setir menjadi politisi Partai NasDem hingga terpilih sebagai Bupati itu harus berhadapan dengan KPK.
Lembaga antirasuah itu memiliki waktu tenggat 1x24 jam untuk melakukan pemeriksaan intensif, sebelum menentukan status hukum Edison dan kroni-kroninya.
Editor : Syahaamah Fikria