RADARSOLO.COM — Skema penyaluran bantuan sosial (bansos) di Indonesia bersiap mengalami perombakan besar-besaran.
Pemerintah berencana menghapus seluruh bantuan berbasis komoditas fisik atau barang alias non tunai.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengonfirmasi bahwa ke depan pemerintah tidak akan lagi membagikan paket sembako dalam bentuk fisik kepada masyarakat miskin.
Sebagai gantinya, pemerintah menyiapkan skema transfer tunai langsung (direct cash transfer).
Dari akumulasi seluruh pos bantuan yang digabungkan, tiap individu penerima manfaat berpotensi mengantongi dana bansos tunai hingga Rp5,4 juta per orang.
Menurut Luhut, langkah ini diambil agar alokasi subsidi negara berjalan lebih tepat sasaran.
Demi meminimalisir kekeliruan data lapangan, proses penyaringan dan pengelompokan masyarakat yang berhak menerima manfaat tersebut nantinya akan dikawal oleh teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Baca Juga: Benarkah Bakal Ada Bansos Rp5,4 Juta Full Tunai? Begini Penjelasan Lengkap Luhut Binsar Pandjaitan
"Saya melihat nanti subsidi tidak akan lagi ke barang. Subsidi akan langsung kepada yang menerima karena rata-rata kita kumpulkan semua bansos itu dengan cash transfer dan seterusnya, ada Rp5,4 juta per orang. Ini nanti akan dikelompokkan dengan AI," ujar Luhut.
Uji Coba Berbasis AI
Formulasi penyaluran bansos berbasis kecerdasan buatan dan integrasi data digital ini rupanya telah melewati fase uji coba (pilot project) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Pemerintah mengklaim simulasi tersebut membuahkan hasil yang memuaskan.
Berangkat dari kesuksesan di Banyuwangi, skema digital ini kini tengah diperluas ke 42 kabupaten dan kota lain di Indonesia.
Luhut menegaskan, jika perluasan di puluhan wilayah ini berjalan tanpa kendala, pemerintah menargetkan regulasi baru ini akan diterapkan secara nasional di seluruh 514 kabupaten dan kota pada Oktober tahun ini.
Editor : Syahaamah Fikria