RADARSOLO.COM — Di saat pergantian tahun masehi identik dengan gegap gempita kembang api, masyarakat Jawa mempunyai draf manhaj tersendiri dalam menyongsong tahun baru mereka.
Bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah, momentum Malam 1 Suro 2026 disambut dengan keheningan, kesyahduan, dan laku kontemplatif yang sarat akan makna spiritual.
Tradisi tirakat ini berakar dari draf kebijakan Sultan Agung Hanyokrokusumo (sekitar tahun 1628-1629) yang memadukan penanggalan Saka dengan Hijriah demi menyatukan masyarakat.
Konsep utama yang melandasi perayaan ini adalah "prihatin"—sebuah ikhtiar batin untuk mengendalikan hawa nafsu, merenungi perjalanan hidup, serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Bagi yang ingin mendalami kekayaan antropologi budaya nusantara, berikut adalah rincian mengenai apa saja ritual Malam 1 Suro 2026 yang diselenggarakan, baik dalam benteng keraton maupun di lingkungan masyarakat umum.
Ritual Agung di Lingkungan Keraton Solo dan Pura Mangkunegaran
Pusat kebudayaan Jawa di Solo dan Yogyakarta menjadi episentrum pelaksanaan ritual adat yang paling sakral dan kolosal.
1. Kirab Pusaka dan Kebo Bule (Keraton Kasunanan Surakarta)
Di Solo, Malam 1 Suro diperingati dengan upacara Jamas (pensucian) dan Kirab Pusaka Keraton Solo.
Keunikan yang paling dinantikan adalah kehadiran beberapa ekor hewan suci, yakni Kebo Bule Kyai Slamet.
Kirab pusaka ini dimulai tepat pada jam 12 malam, di mana barisan para abdi dalem keraton akan mengarak benda pusaka mengelilingi rute protokol kota Solo dalam suasana khidmat.
2. Spirit "Mulih" dan Semedi Tengah Malam (Pura Mangkunegaran)
Pura Mangkunegaran Solo mengusung filosofi draf "Mulih" atau pulang—kembali ke alam, semesta, dan memulihkan diri sendiri.
Rangkaian ritualnya dibagi secara simbolis menjadi tiga kategori waktu:
- Atita (Melepaskan yang Lalu): Diisi dengan tradisi makan mutih sebelum tirakat, pameran instalasi, serta Kirab Pusaka Dalem.
Baca Juga: Sambut Pendaki Gunung Lawu di Malam 1 Suro, Jalur Pendakian di Karanganyar Dibuka Nonstop 24 Jam
- Atiki (Hadir di Saat Ini): Diwujudkan dalam bentuk semedi hening pada tengah malam.
Anagata (Menyambut yang Akan Datang): Ditutup dengan laku sembah catur, menulis kartu harapan, serta larasati.
3. Mubeng Beteng dan Tapa Bisu (Keraton Yogyakarta)
Di Yogyakarta, ribuan orang akan melakoni tirakat Mubeng Beteng.
Ribuan peserta, termasuk abdi dalem yang mengenakan pakaian adat lengkap, berjalan kaki sejauh 4 kilometer mengitari benteng keraton tanpa alas kaki dan tanpa bersuara sepatah kata pun (Tapa Bisu).
Melangkah tanpa alas kaki melambangkan rasa cinta dan kedekatan manusia dengan tanah alam semesta.
Sementara keheningan total menjadi simbo penahanan hawa nafsu duniawi. Tradisi serupa juga dijalankan di Pura Pakualaman dengan nama Lampah Ratri.
4. Jamasan Pusaka (Ngumbah Keris)
Sebelum kirab dilaksanakan, dilakukan pembersihan bendawi pusaka keraton (tosan aji, kereta kencana, gamelan, hingga manuskrip kuno).
Secara teknis, jamasan berfungsi untuk merawat benda sejarah.
Sementara secara spiritual bermakna sebagai simbol penyucian batin kolektif menyambut tahun baru.
Ragam Laku Prihatin Mandiri Masyarakat Jawa
Selain menyaksikan upacara keraton, masyarakat umum juga menjalankan laku tirakat mandiri di kediaman masing-masing:
1. Lek-lekan (Begadang Muhasabah)
Tradisi tidak tidur semalaman. Tujuannya bukan sekadar begadang kosong, melainkan memanfaatkan waktu sunyi untuk bermuhasabah, berzikir, dan mengevaluasi rekam jejak kesalahan di tahun lalu.
2. Tuguran (Perenungan Menyendiri)
Laku mengisolasi diri atau menyendiri di ruang tenang untuk memantapkan tujuan hidup, menenangkan emosi, serta memperbaiki kualitas spiritual.
3. Puasa Tirakat
Banyak warga menjalankan puasa biasa atau Puasa Mutih (hanya mengonsumsi nasi putih dan air putih saja) sebagai sarana melatih tingkat kesabaran diri.
4. Ziarah Kubur dan Mendoakan Leluhur
Mengunjungi makam orang tua dan para pemuka agama untuk mengirimkan doa sekaligus pengingat bahwa kefanaan dunia itu nyata.
Ritual Unik Khas Berbagai Daerah di Indonesia
- Babad Cirebon (Keraton Kanoman)
Diisi dengan draf pembacaan sejarah berdirinya Cirebon, dilanjutkan ziarah agung ke makam Sunan Gunung Jati.
- Ritual Samas (Bantul)
Larungan atau persembahan di pesisir pantai selatan untuk mengenang Maheso Suro sekaligus memohon keselamatan nelayan kepada Penguasa Lautan.
- Ledug Suro (Magetan)
Ditandai dengan upacara Andum Berkah Bolu Rahayu, di mana masyarakat berebut kue bolu yang dipercaya membawa berkah pelaris dan obat.
Setelah melewati malam yang panjang dalam kesunyian, ritual biasanya ditutup dengan menyantap semangkuk Bubur Suran bersama—sebuah menu bubur gurih dengan tujuh jenis kacang yang melambangkan keseimbangan hidup.
Editor : Syahaamah Fikria