RADARSOLO.COM — Kemunculan aliansi mahasiswa baru yang menamakan diri sebagai BEM Bersatu mendadak memicu perhatian publik secara luas.
Kelompok ini menjadi perbincangan hangat setelah secara terbuka melayangkan kritik keras terhadap gelombang aksi demonstrasi mahasiswa yang marak terjadi belakangan ini.
Di tengah aksi kritis mahasiswa yang menyuarakan sejumlah tuntutan ke pemerintah, BEM Bersatu mendadak muncul.
Mereka menyatakan penolakan terhadap segala bentuk intervensi maupun penunggangan gerakan mahasiswa oleh para aktor politik praktis.
"Kami, BEM Bersatu, menolak segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan," kata juru bicara BEM Bersatu Rahmat Djimbula.
Pertanyaan mengenai siapa sebenarnya BEM Bersatu dan dari universitas mana saja mereka berasal pun mencuat setelah menggelar konferensi pers di Jakarta.
Baca Juga: ASN Pemkab Karanganyar Tersangka Calo Pegawai BUMD Belum Ditahan, Ini Alasan Polisi
Daftar Kampus dan Perwakilan dalam BEM Bersatu
Berdasarkan rincian keterangan yang dipaparkan dalam jalannya konferensi pers di Jakarta, terdapat sejumlah nama yang hadir dengan membawa nama organisasi kemahasiswaan dari lintas perguruan tinggi.
Berikut adalah daftar kampus serta nama perwakilan mahasiswa yang disebut-sebut ikut andil dalam deklarasi aliansi BEM Bersatu:
Wildan Ricky — Ketua BEM Fakultas Hukum UNISIA.
Muhammad Yani — Perwakilan BEM Fakultas Hukum Universitas Islam Jakarta (UIJ).
Ardi Zulkifly — Ketua BEM FISIP Universitas Nasional (UNAS).
Ardiansyah — Ketua BEM Institut Al Aqidah.
Ahmad Ghazy — Perwakilan BEM Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Alfi — Ketua BEM FEB Universitas Pamulang (UNPAM).
Baca Juga: 10 Proyek Strategis di Sragen Telan Anggaran Rp 57,7 Miliar, Mayoritas Infrastruktur Jalan
Rahmat Djimbula — Ketua BEM Hukum Universitas Islam Attahiriyah (UIC).
Dicky — Perwakilan BEM Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Indraprasta PGRI (Unindra).
Ahmad — Perwakilan BEM Fakultas Teknik Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).
Rezky Anandar — Perwakilan BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi Institut STIAMI.
Baca Juga: 130 Atlet Pelajar Disabiltas Karanganyar Unjuk Gigi di Ajang Peparpeda 2026
Dalam orasinya, Rahmat Djimbula selaku juru bicara membeberkan sejumlah temuan mengenai indikasi hubungan erat antara motor penggerak aksi penolakan MBG dengan jaringan politik tertentu.
Salah satu poin utama yang disorot tajam oleh BEM Bersatu adalah fasilitas kendaraan mobil Toyota Fortuner yang dikendarai oleh mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto.
Rahmat menduga kuat bahwa kepemilikan mobil mewah tersebut terdaftar atas nama individu yang memiliki jalinan hubungan kekeluargaan dengan Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso.
Mereka juga mengaitkan nama purnawirawan tersebut dengan deretan tokoh nasional.
Baca Juga: Siapa yang Bakal Dicoret dari Penerima MBG? BGN Tetap Lanjutkan Program Rp270 Triliun
Kendati demikian, publik perlu mencatat bahwa seluruh paparan ini statusnya masih sebatas dugaan sepihak yang dilemparkan dalam forum konferensi pers.
Hingga saat ini, belum terdapat ketetapan hukum resmi yang mampu membuktikan kebenaran atas klaim hubungan politik tersebut.
Klarifikasi dan Bantahan dari Berbagai Kampus
Menariknya, usai kegiatan konferensi pers tersebut rampung disiarkan, situasi di kalangan mahasiswa justru berbalik riuh.
Sejumlah organisasi kemahasiswaan dari kampus-kampus yang namanya dicatut di atas serentak mengeluarkan surat klarifikasi dan pernyataan resmi.
Mereka membantah keras keterlibatan pengurus maupun organisasi mereka dalam forum deklarasi BEM Bersatu.
Deretan kelembagaan mahasiswa yang melayangkan protes keras di antaranya:
BEM Fakultas Teknik Industri Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).
BEM Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Aliansi Mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM).
BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional (UNAS).
Klarifikasi yang cukup menonjol datang dari internal Universitas Nasional.
Pihak kampus menegaskan, sampai dengan tanggal 16 Juni 2026, Universitas Nasional secara kelembagaan memang tidak memiliki wadah organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa di tingkat universitas (BEM Universitas).
Aksi pencatutan nama ini pada akhirnya memicu polemik baru di lini massa mengenai tingkat keabsahan dan representasi dari gerakan Aliansi BEM Bersatu itu sendiri.
Editor : Syahaamah Fikria