RADARSOLO.COM — Penanda lokasi (location maps) Markas Komando Resor Militer (Korem) 072/Pamungkas Yogyakarta di Google Maps menjadi sasaran amukan netizen pasca viral insiden yang melibatkan sang Komandan Korem (Danrem) dalam perhelatan Mandiri Jogja Marathon 2026.
Netizen berbondong-bondong menyematkan penilaian bintang 1 dari skala maksimal 5 bintang, diiringi dengan rentetan kalimat kritik tajam di kolom ulasan Korem 072/Pamungkas.
Baca Juga: Viral Insiden Ajudan Danrem di Jogja Marathon 2026, Ini Penjelasan Lengkap Korem 072/Pamungkas
Ajudan Danrem Tanpa BIB Lari di Lintasan
Keriuhan ini merupakan buntut dari rekaman video yang tersebar luas di dunia maya saat perhelatan olahraga Mandiri Jogja Marathon 2026 berlangsung.
Kala itu, Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono terpantau sedang berlari di jalur resmi dengan didampingi oleh seorang ajudannya.
Ketegangan muncul ketika petugas lintasan (marshal) menghentikan langkah sang ajudan.
Marshal menilai ajudan Danrem tersebut melanggar aturan karena kedapatan berlari tanpa mengenakan nomor dada peserta atau BIB yang menjadi prasyarat wajib masuk ke jalur steril.
Namun, saat itu Brigjen Yuniar menarik ajudannya agar kembali masuk lintasan, dan sempat terjadi perdebatan dengan marshal.
Bahkan sempat terdengar kalimat bernada ancaman kepada marshal yang tetap menjalankan prosedur.
Insiden tersebut menjadi viral dan memancing amarah netizen.
Netizen yang kecewa kemudian meluapkan emosinya dengan "menyerbu" akun Google Maps Korem 072/Pamungkas.
"Karena nila setitik, rusak reputasi Korem," tulis salah satu pengguna Google di kolom ulasan.
"Lebih mudah minta maaf sambil senyum pak, nanti di sosmed viralnya berjiwa ksatria, berani mengakui kesalahan," tulis pengguna lain sembari meninggalkan rating terendah.
Kadispenad Buka Suara
Merespons polemik yang kian melebar di ruang publik, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) langsung memberikan klarifikasi.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono menegaskan bahwa insiden tersebut merupakan kesalahpahaman teknis di lapangan.
Kadispenad meluruskan informasi bahwa ajudan Danrem sebenarnya terdaftar secara legal dan memiliki nomor peserta resmi sejak awal acara dimulai.
Namun, kondisi lintasan yang sangat padat diduga membuat nomor identitas lari tersebut terlepas tanpa disadari.
"Berdasarkan penjelasan yang diperoleh, ajudan yang mendampingi Danrem juga mengikuti kegiatan sejak awal dengan menggunakan nomor peserta (BIB). Namun dalam pelaksanaannya diduga nomor peserta tersebut terlepas saat berada di lintasan yang cukup padat sehingga menimbulkan kesalahpahaman saat pemeriksaan oleh petugas," urai Brigjen Donny Pramono, Senin (22/6/2026).
Donny menambahkan, kehadiran Brigjen Yuniar di ajang marathon tersebut bukan dalam rangka pengawalan kedinasan khusus, melainkan murni agenda olahraga rekreasi keluarga.
Sang Jenderal memboyong istri, anak, beserta ajudannya dengan membeli empat tiket umum yang terregistrasi resmi.
TNI AD memastikan situasi di dunia nyata telah sepenuhnya kondusif. Pasca kejadian, pihak manajemen penyelenggara (event organizer) bersama Brigjen Yuniar telah duduk bersama untuk melakukan tabayun dan klarifikasi langsung.
Seluruh pihak sepakat menilai bahwa insiden ini hanyalah kesalahpahaman dan telah diselesaikan secara kekeluargaan malam itu juga.
Editor : Syahaamah Fikria