Banyak pihak mulai berspekulasi dan mempertanyakan apakah tren kenaikan ini akan segera merembet pada jenis BBM penopang mobilitas massal, yakni Pertalite dan Solar.
Bagaimana Harga BBM Subsidi?
Menanggapi gejolak tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga komoditas BBM bersubsidi, baik Pertalite maupun Solar, dipastikan tidak akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat.
Baca Juga: 3 Link Live Streaming Sprint Race MotoGP Belanda 2026 Jam 20.00 WIB, Nonton Gratis di TV Ini
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam forum diskusi bersama Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menegaskan, keputusan untuk mengunci harga Pertalite dan Solar merupakan instruksi langsung dari kepala negara.
Langkah ini diambil agar sektor konsumsi riil masyarakat kelas menengah ke bawah tidak didera guncangan inflasi.
"Arahan Bapak Presiden, BBM subsidi tidak akan dinaikkan," ujar Bahlil.
Meski demikian, Bahlil menggarisbawahi bahwa aturan yang berbeda mutlak berlaku untuk komoditas nonsubsidi seperti Pertamax series.
Sektor nonsubsidi dipastikan tetap tunduk pada dinamika pasar internasional dan pergerakan harga minyak mentah dunia.
Pemerintah mengakui tidak bisa terus-menerus menahan harga Pertamax dengan menambah beban intervensi anggaran.
Jika seluruh jenis BBM dipaksa untuk disubsidi, hal tersebut dinilai akan sangat membahayakan kesehatan postur fiskal dan APBN negara akibat besarnya porsi impor minyak nasional.
Alasan Pertamax Naik Rp3.950 per Liter
Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga Pertamax dari yang semula Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Kenaikan signifikan sebesar Rp3.950 ini terpaksa diambil demi menjamin rantai pasok dan ketersediaan barang di berbagai SPBU tetap aman terkendali.
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan mengungkapkan, Pertamina sebenarnya sudah menahan laju kenaikan harga sejak Maret hingga awal Juni lalu.
Namun, eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran membuat harga minyak yang diimpor jauh melambung tinggi melampaui harga jual domestik.
“Beberapa waktu kemarin itu masih bisa kami tahan, tetapi kenapa kok hari ini tidak bisa nahan? Karena kami harus memastikan ketersediaan di pasar itu ada barangnya,” jelas Sigit, beberapa waktu lalu.
Pertamina memahami bahwa menaikkan harga BBM nonsubsidi akan berdampak pada biaya produksi operasional masyarakat.
Baca Juga: Hasil Kualifikasi MotoGP Belanda 2026: Dominasi Aprilia Luar Biasa, Ducati Tergusur
Namun, langkah penyesuaian ini menjadi pilihan terakhir yang paling rasional agar tetap mampu mengamankan stok BBM nasional tanpa mengganggu distribusi BBM subsidi yang menjadi hajat hidup orang banyak.
Editor : Syahaamah Fikria