RADARSOLO.COM — Nama Ulta Levenia Nababan tiba-tiba mencuat dan menjadi buah bibir netizen setelah unggahannya yang dinilai menyentil mahasiswi dan menghina jas almamater UI viral di berbagai platform.
Perempuan yang menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP) ini kedapatan melontarkan kritik pedas yang berujung pada hinaan terhadap jas almamater berwarna kuning khas UI.
Akibatnya, kolom komentar dan linimasa media sosial ramai membahas etika sang pejabat publik.
Baca Juga: Jadi Tersangka Pencabulan Anak Rekan Kerja, Karir Oknum Anggota Polres Wonogiri Runtuh Seketika
Duduk Perkara Hina Jas Almamater UI dengan Daster Kuning
Polemik ini bermula saat Fatimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI, hadir dalam sebuah acara diskusi di televisi nasional.
Kala itu, Fatimah yang dikenal kritis tengah beradu argumen dengan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, membahas pro-kontra pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam argumennya, Fatimah menyoroti bahwa ada banyak sekali sekolah yang mengalami kendala teknis dalam penerapan program tersebut.
Sayangnya, pernyataan ini dinilai tidak valid oleh Ulta Levenia Nababan.
Melalui Instagram Story di akun pribadinya, Ulta langsung mempertanyakan data konkret di balik ucapan Fatimah.
"Lahhh 'banyak sekali sekolah-sekolah' ukuran banyak sekali-nya ini dari mana sih? Terus pas ditanya angka enggak mau jawab, malah playing victim," tulis Ulta dalam unggahannya.
Tidak berhenti di situ, Ulta kemudian juga menyindir penampilan Fatimah yang mengenakan jas kuning universitasnya.
"Kochaque bunda pakai daster kuning ini (almamater UI). Maaf Bund beli dasternya di mana?" tulisnya lengkap dengan emoji tertawa.
Baca Juga: Si Jago Merah Lalap Rumah Warga Pranan Sukoharjo Di Siang Bolong
Unggahan tersebut langsung memantik respons negatif dari netizen. Termasuk reaksi keras dari para alumni UI.
Banyak yang menyayangkan kalimat tersebut keluar dari ketikan seorang pejabat publik yang dianggap kurang bijak dalam merespons kritik mahasiswa.
Tak hanya itu, di unggahan lain, Ulta juga sempat menyindir dengan kalimat, "Retorika-retorika kosong. Hmmm, mirip capres yang ono yahh. Siapa namanya?" yang semakin membuat suasana makin keruh.
Baca Juga: Oknum Guru Cabul di Wonogiri Terima Separo Gaji, Tak Bisa Ajukan Pensiun Dini
"Kerja di bakom, tp bukannya memperbaiki communication skills nya…dia lebih memilih menggunakan kata profokatif,uneducated serta sarcasm dalam menjawab isu2 yg berkembang di masyarakat," tulis salah satu alumni UI di Threads.
"Dia digaji pajak rakyat, ngakunya berpendidikan, tp berani2nya mocking mahasiswi yg suarakan penderitaan rakyat. Such a shameful act," komen yang lain.
Profil dan Rekam Jejak Akademik Ulta Levenia Nababan
Di balik huru-hara media sosial tersebut, sosok Ulta Levenia Nababan selama ini memiliki latar belakang akademik dan karier yang mentereng di bidang pertahanan.
Perempuan kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, pada tahun 1995 ini ternyata juga merupakan bagian dari keluarga besar Universitas Indonesia (UI).
Ulta adalah alumnus Program Studi Ilmu Politik UI.
Baca Juga: Tragedi Berdarah Senapan Angin di Sragen, Renggut Nyawa Petani Tua
Setelah lulus S1, ia terbang ke Inggris untuk menempuh studi pascasarjana dan sukses meraih gelar Master of Arts (MA) dalam bidang spesialisasi insurgensi dan terorisme dari University of Leeds.
Dia tercatat sebagai penerima dua beasiswa internasional yang sangat prestisius, yaitu Chevening Scholarship dan Fulbright Scholarship.
Ia pun sempat memperdalam ilmu keamanan kawasan Indo-Pasifik di sebuah lembaga pertahanan di Prancis.
Baca Juga: Rapor Merah Stunting di Boyolali: Tinggi Badan 6.800 Anak Terdeteksi Pendek dan Sangat Pendek
Eks Peneliti Konflik dan Juru Bicara TKN
Sebelum resmi menduduki kursi Tenaga Ahli Utama KSP, perempuan berusia 31 tahun ini aktif sebagai analis hubungan internasional dan peneliti isu kontra-terorisme.
Terkait penelitian yang pernah dilakukannya, Ulta tercatat pernah terjun langsung ke berbagai wilayah konflik dunia.
Mulai dari meneliti basis kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan, mengamati wilayah Afghanistan di bawah kendali Taliban, hingga melakukan riset lapangan di Aceh dan Papua.
Namun belakangan, rekam jejak penelitiannya ke sejumlah wilayah dan negara konflik itu tengah menuai sorotan.
Ulta diketahui juga mendirikan sebuah organisasi bernama Milenial untuk Pertahanan dan Keamanan (MAPAN) demi menularkan kepedulian isu pertahanan kepada anak muda.
Baca Juga: Guyon Waton Dan Woro Widowati Puncaki Peringatan Hari Lahir Ke-80 Kabupaten Sukoharjo
Sementara kiprah politiknya mulai melejit pada Pemilu 2024 lalu saat dirinya dipercaya memegang posisi sebagai juru bicara sekaligus Wakil Komandan Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran.
Dalam sejumlah kesempatan tampil di podcast, Ulta pun tergolong sangat komit dalam menunjukkan dukungannya terhadap berbagai kebijakan Prabowo.
Di sisi lain, nama Ulta sempat masuk dalam daftar penghargaan "40 Under 40" sebagai salah satu anak muda paling inspiratif.
Namun, kini Ulta Levenia harus menghadapi kritikan dan sorotan tajam dari publik lantaran gaya komunikasinya yang dinilai tak pantas dan tak bijak sebagai Tenaga Ahli Utama KSP.
Editor : Syahaamah Fikria