RADARSOLO.COM - Perempuan masa kini memiliki ruang yang semakin luas untuk menunjukkan potensi dan ketangguhannya.
Tidak hanya di kota-kota besar, dedikasi perempuan juga terbukti nyata di wilayah-wilayah terpencil yang penuh tantangan.
Semangat itulah yang dipancarkan oleh Elce Putri Bontong, seorang tenaga pemasar mikro (Mantri BRI) di Unit Bolu, Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.
Baca Juga: Peringati Hari Anak Nasional 2026, BRI Peduli Gelar Kegiatan Edukatif di 6 Sekolah Dasar
Mengabdi di wilayah kerja 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) dengan rute perjalanan yang berat tidak menyurutkan langkah Elce untuk memberikan layanan perbankan bagi masyarakat pelosok.
Setiap perjalanan yang ia tempuh bukan sekadar menunaikan tugas profesi, melainkan ikhtiar nyata dalam menggerakkan roda ekonomi kerakyatan.
Perjalanan karier Elce di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dimulai sejak tahun 2013 sebagai teller, sebelum kemudian dipercaya menduduki posisi customer service (CS).
Keinginan untuk memiliki kontribusi yang lebih luas mendorongnya mengikuti rekrutmen Mantri BRI pada 2020 hingga akhirnya bertugas di lapangan.
"Tertarik menjadi Mantri karena menurut saya jangkauan pelayanannya akan lebih luas. Kalau sebelumnya sebagai teller dan CS kan terbatas di dalam gedung saja, jadi menunggu nasabah datang. Saya mau jemput bola juga di lapangan makanya saya tertarik menjadi Mantri. Kalau di luar kan nasabahnya lebih beragam kebutuhannya," cerita Elce.
Di BRI Unit Bolu, Elce bertanggung jawab mengampu nasabah di Desa Karre Pananian, Kecamatan Nanggala.
Baca Juga: Pelatihan Ekspor BRI Peduli Bantu UMKM Mebel Sukoharjo Tembus Pasar Spanyol dan Amerika Serikat
Desa ini berjarak sekitar 35 kilometer dari kantor unit. Kendati jaraknya tampak dekat, akses jalan menuju lokasi harus membelah kawasan pegunungan, hutan, serta perbukitan yang sepi dengan medan yang menantang.
"Kalau nasabah di desa kebanyakan itu petani dan peternak, seperti peternak babi, kerbau. Layanan keuangan yang saya berikan biasanya pinjaman dan tabungan. Kalau pinjaman biasanya digunakan untuk menambah modal, misalnya beli indukan, penggemukkan, pokoknya untuk mengembangkan usahanya," jelas Elce.
Selain menyalurkan modal usaha, Elce secara aktif mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menabung di bank.
Untuk mempermudah transaksi keuangan warga desa—yang mayoritas memiliki anggota keluarga merantau—ia juga membentuk Agen BRILink di wilayah tersebut.
"Saya juga edukasikan pelan-pelan pentingnya menabung di bank. Saya buat juga satu BRILink Agen di desa, tujuannya untuk mempermudah masyarakat menyimpan atau mengambil uang," ujar Elce.
"Orang Toraja ini kan perantau ya, banyak yang anak-anaknya kerja di luar kota, luar pulau. Jadi, mereka tidak perlu titip uang ke orang lain lagi kalau mau kirim uang ke keluarganya," lanjut dia.
Bagi Elce, kebahagiaan tertinggi dari pekerjaannya adalah menyaksikan usaha para nasabahnya tumbuh pesat.
"Tentunya saya merasa bangga. Kalau awalnya melihat nasabah yang mungkin baru punya ternak 1-2, lalu setahun kemudian ketemu saya lagi dan ternaknya sudah jadi 100 setelah mendapatkan pinjaman modal dari BRI, saya merasa ikut senang karena bisa membantu mereka," jelasnya.
"Meskipun itu bukan uang saya, tapi ada rasa bahagia tersendiri bisa membantu menggerakkan perekonomian masyarakat. Itu yang bikin saya bangga," imbuh Elce.
Di kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan bahwa para Mantri BRI di lapangan tidak sekadar bertindak sebagai penyalur pembiayaan, melainkan juga berperan sebagai financial advisor yang mendampingi usaha nasabah secara berkelanjutan.
“BRI selalu menanamkan nilai-nilai budaya kerja yang positif bagi seluruh pekerja sehingga tercipta komitmen dan dedikasi yang ditunjukkan para mantri di lapangan. Ini merupakan bukti nyata kontribusi perempuan dalam mendorong ekonomi kerakyatan," tuturnya.
"Kisah Elce juga menegaskan bahwa perempuan tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat,” pungkas Dhanny. (*)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : BRI