Musim Kemarau Diprediksi Lebih Panjang, Ini Hal yang Perlu Diwaspadai Masyarakat

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 13:56 WIB
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 berlangsung lebih panjang dan kering akibat El Nino. Gambar: BMKG.
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 berlangsung lebih panjang dan kering akibat El Nino. Gambar: BMKG.

RADARSOLO.COM – Musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang berpotensi menguat sehingga menyebabkan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia berada di bawah rata-rata.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau terjadi secara bertahap pada Juli hingga September 2026. Untuk wilayah Jawa Tengah, puncak kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus.

Kemarau yang lebih panjang bukan hanya membuat cuaca terasa lebih panas. Kondisi ini juga meningkatkan risiko berkurangnya ketersediaan air bersih, kekeringan lahan pertanian, hingga kebakaran hutan dan lahan di daerah yang rawan. Karena itu, masyarakat diimbau mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini.

Baca Juga: Begadang Seminggu, Tidur Seharian saat Akhir Pekan? Ternyata Utang Tidur Tidak Bisa Lunas dalam Semalam

Salah satu hal yang paling penting adalah menggunakan air secara lebih bijak. Kebiasaan sederhana seperti mematikan keran saat tidak digunakan, memanfaatkan kembali air yang masih layak untuk menyiram tanaman, serta memperbaiki saluran yang bocor dapat membantu menghemat persediaan air bersih.

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan pasokan air terbatas, menampung air saat masih tersedia juga menjadi langkah yang dapat dipertimbangkan. Cara ini dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari apabila pasokan air mengalami penurunan selama puncak musim kemarau.

Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling terdampak ketika musim kemarau berlangsung lebih lama. Berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan lahan lebih cepat mengering sehingga berpotensi memengaruhi produktivitas tanaman. Karena itu, petani dianjurkan menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim, memilih varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan, atau memanfaatkan sumber irigasi alternatif seperti sumur bor apabila memungkinkan.

Baca Juga: Apa Itu AI Slop? Konten AI yang Kini Membanjiri Internet

Selain kekeringan, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Cuaca yang panas disertai vegetasi kering membuat api lebih mudah menyebar. Aktivitas seperti membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar sebaiknya dihindari karena dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.

BMKG mengingatkan bahwa kondisi cuaca dapat berubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi terbaru mengenai prakiraan cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari maupun mengambil langkah antisipasi jika diperlukan.

Musim kemarau merupakan bagian dari siklus iklim yang terjadi setiap tahun. Namun, ketika durasinya lebih panjang dan curah hujan lebih rendah dari biasanya, dampaknya dapat dirasakan oleh berbagai sektor, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga pertanian. Dengan pengelolaan air yang lebih bijak dan kesiapsiagaan sejak awal, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko yang ditimbulkan selama musim kemarau tahun ini.

Editor : Kabun Triyatno
BMKG kemarau kekeringan el nino antisipasi