RADARSOLO.COM – Belakangan ini banyak masyarakat merasa cuaca terasa berbeda dari biasanya. Siang hari terasa lebih terik, sementara malam hingga dini hari justru lebih dingin. Di beberapa daerah, langit juga tampak lebih cerah dengan awan yang relatif sedikit. Ternyata, kondisi tersebut memang berkaitan dengan karakter musim kemarau tahun 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan berdurasi lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Salah satu penyebabnya adalah pengaruh fenomena El Niño yang membuat curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia berkurang.
Baca Juga: Sering Dipakai di Sekolah dan Kampus, Istilah Pendidikan Ini Ternyata Berasal dari Bahasa Belanda
Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim kemarau terjadi secara bertahap mulai Juli hingga September 2026. Sebanyak 12,26 persen wilayah daratan Indonesia mengalami puncak kemarau pada Juli, kemudian meningkat menjadi 48,84 persen pada Agustus. Sementara itu, sekitar 25,41 persen wilayah lainnya diperkirakan mencapai puncak kemarau pada September.
Kondisi tersebut membuat banyak wilayah mengalami hari-hari tanpa hujan dalam waktu yang lebih lama. Akibatnya, udara pada siang hari terasa lebih panas karena paparan sinar matahari berlangsung lebih intens.
Namun, mengapa malam hari justru terasa lebih dingin?
Baca Juga: Acuh Bukan Berarti Tidak Peduli, Ini 6 Kata yang Sering Salah Dipahami
BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan dengan munculnya angin muson timur yang bertiup dari Benua Australia. Massa udara dari Australia pada musim dingin cenderung lebih kering dan lebih dingin. Di Indonesia, kondisi ini dikenal masyarakat sebagai fenomena bediding, yaitu udara dingin yang terasa terutama pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau.
Selain dipengaruhi angin dari Australia, langit yang lebih cerah juga berperan dalam membuat suhu malam menurun. Saat awan sangat sedikit, panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, suhu udara dapat turun lebih cepat sehingga malam terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.
Baca Juga: Musim Kemarau Diprediksi Lebih Panjang, Ini Hal yang Perlu Diwaspadai Masyarakat
Di sisi lain, kemarau yang lebih panjang juga meningkatkan sejumlah risiko. Curah hujan yang rendah berpotensi memicu kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, penurunan kualitas udara, hingga meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang rawan.
Karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini.
Di sektor pertanian, penyesuaian masa tanam menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan agar tanaman tidak mengalami kekurangan air pada masa pertumbuhan. Sementara itu, pemerintah daerah juga didorong memperkuat kesiapan penyediaan air bersih, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.
Bagi masyarakat, langkah sederhana seperti menghemat penggunaan air, tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah sembarangan, serta terus memantau informasi cuaca dari BMKG dapat membantu mengurangi dampak musim kemarau.
Meski kemarau merupakan siklus yang terjadi setiap tahun, karakter musim kemarau tidak selalu sama. Tahun ini, kombinasi pengaruh El Niño, angin muson timur dari Australia, dan langit yang lebih cerah membuat cuaca terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Memahami penyebabnya diharapkan dapat membantu masyarakat lebih siap menghadapi berbagai dampak yang mungkin terjadi.
Editor : Kabun Triyatno