RADARSOLO.COM - Anggota DPR RI Deddy Sitorus menuai kecaman dari Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP), usai diduga melecehkan wartawan dengan sebutan "gerombolan sirkus" di ruang Rapat Kerja Komisi II DPR RI.
Insiden ini terjadi saat para awak media sedang meliput jalannya Rapat Komisi II di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Kamis (30/7/2026).
Suasana mulai riuh ketika Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad berjalan menuju ruang sidang.
Baca Juga: Modus Penipuan Rekrutmen Pegawai RSUD Karanganyar, Lakukan Wawancara Setingan di Luar Jam Dinas
Para wartawan pun bergegas mengabadikan momen tersebut hingga akhirnya ikut merangsek masuk begitu pintu ruang rapat dibuka untuk Dasco.
Di tengah keriuhan itulah, Deddy Sitorus menyebut istilah "sirkus" tersebut.
Atas ucapan tersebut, KWP menilai pernyataan tersebut sangat melukai profesi wartawan.
KWP memberikan ultimatum 1x24 jam bagi Deddy untuk meminta maaf secara terbuka, sebelum melaporkannya ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) hingga jalur hukum.
Profil dan Biodata Lengkap Deddy Sitorus
Pemilik nama lengkap Deddy Yevri Hanteru Sitorus ini lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada 17 November 1970.
Sebelum terjun ke panggung politik praktis, ia dikenal luas sebagai mantan aktivis buruh, peneliti, hingga profesional di BUMN.
Dia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Kota Pematangsiantar (lulus SMAN 3 Pematangsiantar tahun 1988).
Kemudian berkuliah mendapat gelar S1 Sarjana Pertanian dari Universitas Simalungun (lulus tahun 1996).
Deddy melanjutkan pendidikan jenjang S2 Master of Arts (MA) di Kingston University, Inggris (2005–2006) dalam bidang Political Communication, Campaigning and Advocacy.
Deddy Sitorus Dari Partai Apa?
Deddy Sitorus merupakan kader dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan).
Saat ini, ia duduk sebagai Anggota DPR RI periode 2024–2029 mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Utara (Kaltara).
Baca Juga: Lahan Warga di Jenar Sragen Diserobot Jadi Tanah Kas Desa, Ini Pengakuan Kades
Ini merupakan periode keduanya berkantor di Senayan setelah sebelumnya lolos pada Pemilu 2019 lalu dengan raihan suara terbanyak di Kaltara, yakni 34.709 suara.
Rekam Jejak Aktivis dan Organisasi
Deddy memiliki rekam jejak panjang di ranah organisasi masyarakat sipil (NGO).
Ia tercatat pernah mendirikan sekaligus menjadi Presidium Komunitas Aksi Solidaritas Buruh Indonesia (KASBI) pada akhir 1990-an.
Selain itu, ia juga aktif sebagai Presidium Koalisi Anti Utang (KAU) pada tahun 2000 serta menjadi perwakilan Indonesia untuk berbagai lembaga internasional seperti Friends of the Earth dan UNDP.
Baca Juga: Mencuat, Aroma Money Politic dalam Pemilihan BPD di Sragen
Karier Profesional dan BUMN
Sebelum aktif penuh di PDIP, Deddy pernah menduduki sejumlah posisi mentereng di perusahaan swasta dan BUMN:
- Staf Khusus Menteri BUMN.
- Komisaris Independen PT Waskita Beton Precast Tbk (2014–2017).
- Komisaris Independen PTPN III / Holding (2017–2019).
- Komisaris Independen PT Berkah Multi Cargo (Anak usaha Pelindo III).
- Pendiri dan Direktur Eksekutif Optima Consulting Network (perusahaan konsultan strategi bisnis dan komunikasi politik).
Baca Juga: Edarkan Tembakau Sinte Paket Hemat, Pemuda asal Jaten Karanganyar Raup Rp 39 Juta
Klarifikasi Deddy Sitorus Soal Ucapan 'Sirkus'
Di sisi lain, Deddy Sitorus membantah tudingan bahwa dirinya sengaja menyebut jurnalis sebagai "gerombolan sirkus".
Deddy berdalih bahwa ucapannya ditujukan untuk menggambarkan suasana ruang rapat Komisi II yang dinilainya terlalu crowded, tak tertib, dan dipenuhi oleh staf ahli maupun tamu yang berdiri saat rapat resmi telah dimulai.
"Saya tidak ada menyebutkan kata 'wartawan gerombolan sirkus'. Saya melihat situasi rapat sudah mulai dan terlalu banyak orang berdiri. Saya cuma minta ditertibkan, jangan 'kayak sirkus'. Yang saya protes itu staf dan TA (tenaga ahli) yang tak ada hubungannya sama rapat," ujar Deddy.
Atas klarifikasinya itu, Deddy juga tak mempermasalahkan jika KWP akan melaporkannya ke MKD.
"Silakan, saya nggak ada masalah. Saya tidak punya, saya tidak menyebutkan sesuatu yang salah," tandas dia.
Editor : Syahaamah Fikria