Khutbah Jumat 31 Juli 2026 Bulan Safar: Meraih Keberkahan dan Memperkuat Keimanan

Nur Pramudito • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 06:49 WIB
Khutbah Jumat 31 Juli 2026 Bulan Safar: Meraih Keberkahan dan Memperkuat Keimanan (Dok. FREEPIK)
Khutbah Jumat 31 Juli 2026 Bulan Safar: Meraih Keberkahan dan Memperkuat Keimanan (Dok. FREEPIK)

RADARSOLO.COM - Memasuki bulan Safar, umat Islam kembali diingatkan pada salah satu fase penting dalam perjalanan sejarah Islam.

Bulan kedua dalam kalender Hijriah ini memiliki nilai spiritual yang mendalam, terutama karena pada masa akhir bulan Safar, Nabi Muhammad saw bersama para sahabat mempersiapkan perjalanan hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw bukan hanya dimaknai sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.

Lebih dari itu, hijrah merupakan perjalanan penuh hikmah yang mengajarkan arti pengorbanan, kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan kepada pertolongan Allah swt.

Melalui Khutbah Jumat 31 Juli 2026 Bulan Safar ini, umat Islam diajak menjadikan bulan Safar sebagai waktu untuk melakukan introspeksi diri.

Setiap ujian dan tantangan dalam kehidupan hendaknya dihadapi dengan hati yang teguh, doa yang kuat, serta sikap tawakal kepada Allah swt.

Khutbah Jumat dengan tema "Meraih Keberkahan di Bulan Safar" mengajak jamaah mengambil pelajaran dari perjalanan hijrah Rasulullah saw.

Nilai-nilai perjuangan Nabi menjadi teladan agar umat Islam terus memperbaiki diri, menjaga keimanan, dan memperbanyak amal kebaikan.

Bulan Safar bukanlah bulan yang perlu dikaitkan dengan anggapan negatif atau kesialan.

Sebaliknya, bulan ini dapat menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperkuat hubungan dengan Allah, memperbanyak ibadah, serta menanamkan semangat perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Melalui pesan dalam Khutbah Jumat 31 Juli 2026 Bulan Safar, jamaah diharapkan mampu mengambil makna hijrah sebagai perubahan menuju kebaikan.

Sebab, keberkahan hidup tidak hanya diperoleh dari keadaan yang mudah, tetapi juga dari kesabaran dan keteguhan hati dalam menjalani setiap ujian yang diberikan Allah swt.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهٖ, نَحْمَدُهٗ وَنَسْتَعِيْنُهٗ وَنَسْتَغْفِرُهٗ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاۤتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهٗ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهٗ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَّۤاۤ إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ , اَللّٰهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰۤى اٰلِهٖ وِأَصْحَابِهٖ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ, أُوْصِيْكُمْ ونَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن , قَالَ اللهُ تَعَالٰى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗٓ اِلَّاَ هُوَۚ وَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Hari ini kita memasuki bulan Shafar, bulan penting dalam sejarah kenabian yang ditandai dengan hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah di akhir bulan ini. Hijrah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual penuh ujian dan kesabaran. Setelah berdakwah terbuka, Nabi dan pengikutnya menghadapi ancaman dari kaum Quraisy, sehingga hijrah menjadi jalan satu-satunya untuk mencari tempat aman agar Islam berkembang dengan baik.

Dalam proses hijrah, kesabaran menjadi kunci utama keberhasilan Rasulullah saw dan para sahabat menghadapi berbagai risiko dan tantangan. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa kesabaran bukan hanya menahan amarah atau keluhan saja, melainkan keteguhan hati dan kepercayaan penuh pada janji Allah swt, terutama saat diuji dalam hidup.

Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah berkata, “Manusia ketika menghadapi musibah terbagi dalam empat tingkatan :”

Pertama, Marah

Adakalanya saat menghadapi ujian, seseorang merasa marah tidak mau menerima takdir Allah. Seringkali manusia, ketika diuji mengeluh, bergumam, menyalahkan keadaan, bahkan mencela ketentuan Allah. Padahal, marah kepada takdir berarti marah kepada Allah sendiri. Allah swt berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍۚ فَاِنْ اَصَابَهٗ خَيْرُ ࣙاطْمَـَٔنَّ بِهٖۚ وَاِنْ اَصَابَتْهُ فِتْنَةُ ࣙانْقَلَبَ عَلٰى وَجْهِهٖۗ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَۗ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ

Artinya: “Dan diantara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi (tidak dengan penuh keyakinan). Jika memperoleh kebaikan, dia pun tenang. Akan tetapi, jika ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang (kembali kufur). Dia merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak hanya taat saat baik, tetapi juga kuat dan sabar menghadapi ujian. Sikap mudah goyah dan mengeluh justru merugikan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, perkuat hati dengan kesabaran dan iman, bukan kemarahan atau keluhan. Mengeluh, baik lisan maupun hati, bisa membawa dosa bahkan syirik, dan marah adalah sikap terendah dalam menghadapi ujian.

Kedua, Sabar

Sabar adalah tingkatan minimal yang wajib dimiliki setiap Mukmin. Memang, sabar itu pahit rasanya, tetapi buah dari sabar sangat indah, sebagaimana ungkapan seorang penyair :

ٱلصَّبْرُ مِثْلُ ٱسْمِهِ مَرَّ مَذَاقُهُ وَلَكِنْ عَـٰقِبَهُۥ أَحْلَىٰ مِنَ ٱلْعَسَلِ

Artinya: “Sabar itu pahit rasanya, tapi hasilnya lebih manis dari madu.”

Meskipun demikian, sabar bukan berarti menyukai musibah, melainkan menahan diri dari marah dan tetap teguh dalam iman. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menunjukkan betapa besar kesabaran mereka saat hijrah, menempuh perjalanan panjang yang penuh bahaya demi mempertahankan dan menyebarkan agama Allah.

Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Ketiga, Ridha

Ridha merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari sabar. Ridha adalah menerima setiap ketetapan Allah, baik itu nikmat maupun musibah, dengan hati yang lapang dan iman yang kuat kepada qadha dan qadar. Orang yang ridha tidak membedakan antara ujian atau kemudahan karena keduanya merupakan ketentuan Allah. Inilah kedamaian hati yang sejati, yang membedakan sabar biasa dengan kesabaran hakiki.

Keempat, Syukur

Syukur berarti mampu bersyukur (berterimakasih) kepada Allah bahkan di tengah musibah, karena orang beriman melihat ujian sebagai penghapus dosa dan jalan meraih pahala. Rasulullah saw bersabda :

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَٰهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mari kita gunakan bulan Safar ini sebagai waktu untuk memperdalam kesabaran kita mulai dari menahan amarah, bersabar, meraih ridha, hingga mampu bersyukur atas setiap ketetapan Allah swt. Dengan begitu, tidak hanya keberkahan yang kita raih, tetapi juga semoga pertolongan dan kasih sayang-Nya senantiasa menyertai setiap langkah kehidupan kita. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

 .أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إنَّهُ تَعاَلٰى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَّؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah II

 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ مُؤَيِّدِ الصَّابِرِيْنَ بِعَزِيْزِ نَصْرِهِ, وَمُيَسِّرِ الشَّاكِرِيْنَ لِحَمِيْدِ شُكْرِهِ, وَمُوَفِّقِ الْمُخْتَارِيْنَ لِلْقِيَامِ بِاَمْرِهِ, أَحْمَدُهُ عَلٰى مَاۤ أَنْعَمَ وَأَسْلَمَ لِاَمْرِهِ, فِيْمَا حَكَمَ وَاَبْرَمَ, اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهٗ لاَ شَرِيْكَ لَهٗ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰۤى ٰالِهٖ مُنْتَهٰى الدُّهُوْرِ, صَلاَةً دَائِمَةً بِلاَ فَنَاءٍ وَلاَ فُتُوْرٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاۤأَيُّهَا النَّاسُ, أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى اِنَّ اللهَ وَمَلَاۤئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلٰى النَّبِيِّ, يٰأَۤيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰۤى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَاۤ اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَاۤ اِبْرَاهِيْمَ, وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَاۤ اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَاۤ اِبْرَاهِيْمَ, فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاۤءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَۤاءَ وَالْوَبَۤاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ, مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاۤصَّةً وَعَنْ سَاۤئِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَاۤمَّةً, يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللّٰهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ, كَمَاۤ أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْۤءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ, وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّار.ِ

عِبَادَ اللهِ, اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهٖ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.

Editor : Nur Pramudito
Sumber : NU Online
Khutbah Jumat 31 Juli 2026 Teks Khutbah Jumat 31 Juli 2026 31 Juli 2026 khutbah jumat bulan Safar