RADARSOLO.COM - Kabar berhentinya operasional Pusat Grosir Solo (PGS) mengejutkan banyak pihak, khususnya para pemburu oleh-oleh batik dan pencinta belanja sandang di Kota Solo.
Gedung megah lima lantai yang berdiri kokoh di kawasan strategis Gladag tersebut harus menyudahi aktivitas perdagangannya setelah dua dekade menemani roda perekonomian Solo.
Kondisi ini memicu rasa penasaran masyarakat luas, terutama mengenai latar belakang pengembangnya.
Sebenarnya Pusat Grosir Solo (PGS) ini milik siapa, bagaimana rekam jejak kejayaannya selama dua dekade, dan apa yang menyebabkan gedung belanja legendaris ini tutup?
Siapa Sosok Pemilik dan Pengelola PGS Solo?
Secara korporasi, Pusat Grosir Solo berada di bawah bendera PT Putera Griya Sentosa.
Perusahaan pengembang ini didirikan oleh keluarga Sucipto yang berkolaborasi dengan beberapa mitra bisnis terkemuka, di antaranya Tjandra Tambayong serta Kenneth Lie.
Dalam roda operasional sehari-hari dan manajemen gedungnya, kepengurusan PGS juga melibatkan jajaran keluarga pengembang, seperti Willy Widodo Herlambang.
Perusahaan inilah yang membidani kelahiran gedung seluas lebih dari 30 ribu meter persegi di atas lahan 10.190 meter persegi tersebut, dengan menyediakan sekitar 1.221 kaveling kios untuk menampung ratusan pedagang busana muslim, kain batik, hingga aneka produk kriya.
Jejak Kejayaan PGS: Tempat Singgah Wisatawan dan Ikon Belanja Modern
Sejak resmi beroperasi pada tahun 2005, PGS dirancang menjadi pusat perdagangan grosir maupun eceran yang memadukan kenyamanan pusat perbelanjaan modern dengan nilai sejarah Kota Solo.
Lokasinya terbilang sangat strategis.
Berada di Jalan Mayor Sunaryo, kompleks bangunan ini diapit oleh situs sejarah dan pariwisata unggulan seperti Keraton Kasunanan Surakarta (Keraton Solo), Alun-Alun Lor, Benteng Vastenburg, serta pusat kuliner malam Galabo.
Baca Juga: Evakuasi Sempat Dramatis, Pasien Obesitas 300 Kg di Sragen Hembuskan Napas Terakhir
PGS bahkan menjadi salah satu titik pemberhentian moda transportasi wisata khas Kota Solo, seperti Bus Tingkat Werkudara, Kereta Api Uap Jaladara, hingga Kereta Kencana.
Mengusung jargon "Paling Laris… Paling Lengkap… Paling Nyaman…", PGS berada di jajaran terdepan dalam rantai pasok industri sandang bersama Pasar Klewer dan Beteng Trade Center (BTC).
Pada masa keemasannya, tingkat kunjungan ke gedung lima lantai ini terbilang fantastis, rata-rata mencapai 10.000 orang per hari biasa.
Bahkan melonjak hingga 20.000 pengunjung harian kala akhir pekan atau musim liburan.
Akhir Perjalanan: Dipailitkan Masalah Investasi
Perjalanan dua dekade PGS menemui titik balik setelah Pengadilan Niaga pada PN Semarang memutus status pailit terhadap PT Putera Griya Sentosa lewat putusan perkara Nomor 6/Pdt.Sus-PKPU/2025/PN.Niaga.Smg.
Aktivitas perdagangan di gedung ini pun resmi dihentikan sepenuhnya pada pertengahan tahun ini.
Pihak manajemen melalui Marketing dan Tenant Relation PGS Bachtiar Ibnu Fadzil menggarisbawahi bahwa penghentian operasional gedung sama sekali bukan disebabkan oleh ditinggalkannya PGS oleh para pembeli.
Baca Juga: Semua Disebut Skena, Memangnya Apa Artinya?
"Ini bukan pailit karena enggak laku atau sepi, tapi dipailitkan. Satu-satunya faktor adalah investasi yang gagal," terang Fadzil.
Secara bertahap, ratusan kios mulai membiarkan masa sewanya berakhir tanpa perpanjangan.
Dari awalnya diisi sekitar 700 kios aktif, masa-masa akhir PGS hanya menyisakan kurang lebih 60 penyewa saja sebelum akhirnya benar-benar dikosongkan.
Nasib Pedagang dan Masa Depan Gedung PGS
Penutupan PGS memaksa para pedagang beradaptasi demi kelangsungan usaha.
Sebagian besar pedagang memindahkan lapaknya ke Beteng Trade Center (BTC) yang berada persis di sebelahnya, sementara sebagian lain merapat ke Pasar Klewer.
Kepindahan ini diakui para pedagang cukup berat karena harus menyesuaikan diri dengan ukuran kios baru dan dampak efisiensi tenaga kerja.
Salah seorang pedagang busana muslim Ilham, memilih memindahkan usahanya ke Pasar Klewer.
Dari tiga kios yang dimilikinya di PGS, untuk sementara ia hanya menyewa satu kios di Klewer.
"Sekarang perekonomian jauh rendah. Omzet bisa turun sampai 75 persen. Bulan puasa yang biasanya jadi harapan pedagang, kemarin juga sepi," ungkapnya.
Lantas bagaimana dengan nasib gedung PGS ke depan? Saat ini, seluruh aset bangunan PGS berada di bawah kewenangan kurator untuk menjalani mekanisme lelang hukum.
Editor : Syahaamah Fikria