RADARSOLO.COM - Publik jagat maya mendadak dihebohkan oleh kemunculan sebuah makalah ilmiah setebal 69 halaman yang mengusung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk diajukan dalam Nobel Perdamaian (Nobel Peace Prize 2026).
Naskah penelitian tersebut makin menyedot perhatian lantaran mencantumkan nama Presiden Prabowo Subianto, pada deretan utama tim penulis.
Namun, alih-alih menuai apresiasi akademis, publikasi ilmiah yang terbit di platform Social Science Research Network (SSRN) sejak 31 Maret 2026 ini justru dihujani kritik dari netizen.
Pasalnya, naskah riset tersebut disinyalir kuat disusun menggunakan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara mentah.
Bahkan, netizen menemukan bukti telak berupa jejak prompt perintah AI yang diduga lupa dihapus oleh sang penyusun.
Awal Mula Isu Viral di Media Sosial
Kehebohan ini mencuat setelah salah satu akun populer mengunggah tangkapan layar naskah ilmiah tersebut.
Baca Juga: Puluhan Siswa SD Al Abidin Solo Diduga Keracunan MBG, Satgas Terjun Investigasi
Dalam unggahan tersebut, tertera naskah berjudul "Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency: Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth".
Sontak saja, postingan langsung memicu pembicaraan hangat di berbagai platform digital.
Banyak pengguna media sosial menyoroti tampilan visual dokumen yang dinilai kurang rapi hingga keaslian proses penyuntingannya.
Penelusuran netizen pada dokumen 69 halaman tersebut membeberkan sejumlah indikasi kuat penggunaan generator teks dan gambar AI.
Di antaranya pada halaman kedua, persis di bawah lembar abstrak, tersaji gambar penuh warna bertema MBG yang gaya visualnya sangat kental dengan estetika gambar buatan AI.
Baca Juga: Data MBG Solo Belum Sinkron, 3 Ribu Penerima Masih Hilang
Kemudian, Pada halaman 7, disajikan format tabel yang secara visual dinilai sangat identik dengan hasil output mentah sistem AI.
Bukti paling gamblang yang memicu kehebohan adalah keberadaan frasa "One-Sentence Nobel Interpretation (optional, very strong)" di bagian bawah tabel.
"One-Sentence Nobel Interpretation (optional, very strong):
This framework demonstrates that sustainable peace can be built through everyday policies that guarantee nourishment, dignity, and inclusive economic opportunity, rather than through conflict resolution alone," demikian tulisan prompt yang tertinggal.
Baca Juga: Harga Daging Ayam Di Solo Meroket Setelah Program MBG Kembali Bergulir, Ini Jawaban Disdag
Kalimat tersebut ditengarai kuat merupakan instruksi atau prompt yang diberikan pengguna kepada sistem AI, namun lupa dibersihkan saat naskah difinalisasi.
Beberapa netizen yang mencoba menguji naskah tersebut ke dalam perangkat lunak AI detector bahkan mengklaim hasilnya menunjukkan angka deteksi konten generatif yang sangat tinggi.
Isi Ringkasan dan Daftar Penulis Naskah
Secara substansi, dokumen tersebut mengulas bagaimana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Badan Gizi Nasional berpotensi menjadi model percontohan global.
Penelitian menggunakan metode Action Design Research (ADR) ini mengklaim bahwa MBG tidak hanya meningkatkan gizi anak-anak, tapi juga menggerakkan rantai pasok ekonomi lokal dan UMKM.
Dalam dokumen yang dipublikasikan di SSRN tersebut, tertera 10 nama penulis dari berbagai latar belakang institusi:
- Prabowo Subianto (Tertera dengan afiliasi Presiden Republik Indonesia)
- Prof Dr Dian Damayanti (European Alliance for Innovation & Universitas Borobudur Jakarta)
- Ashar Sunarso (Institut Pemerintahan Dalam Negeri)
- Norhidayah Azman (Management and Science University)
- Iwan Iwan (Universitas Negeri Jakarta)
- Prof Dr Ir Gimbal Doloksaribu (Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta)
- Prof Dr Cicih Ratnasih (Universitas Borobudur Jakarta)
- Mansuri (Universitas Borobudur Jakarta)
- Dr Sugiyanto Saleh (Universitas Borobudur Jakarta)
- Prof Dr Ninuk Lustyantie (Universitas Negeri Jakarta)
Baca Juga: Waspada Karhutla di Puncak Kemarau, Terdeteksi 83 Hotspot di Wonogiri
Bakom dan Kemendagri Buka Suara
Menanggapi kehebohan soal makalah ilmiah MBG itu, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang melakukan investigasi mendalam.
"Lagi diinvestigasi," ujar Qodari, Rabu (5/8/2026).
Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kemendagri Benni Irawan menegaskan bahwa IPDN sama sekali tidak pernah mengeluarkan surat dukungan dimaksud.
"Saya sudah klarifikasi ke IPDN, itu bukan dari IPDN. Kita sudah telepon Pak Rektor, itu bukan dari IPDN," tegas Benni.
Mengenai pencantuman nama salah satu staf berinisial Ashar yang disebut-sebut bertugas di Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum), pihak Kemendagri tengah menjalankan pemeriksaan internal.
Editor : Syahaamah Fikria