RADARSOLO.COM – Memasuki bulan Agustus, suasana di berbagai daerah mulai berubah. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, sementara deretan umbul-umbul berwarna merah, putih, dan aneka motif menghiasi jalan-jalan kampung hingga pusat kota.
Keberadaan umbul-umbul seolah menjadi penanda bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia sudah semakin dekat.
Meski hampir selalu hadir setiap Agustus, tak banyak yang mengetahui bahwa umbul-umbul sebenarnya memiliki sejarah yang jauh lebih tua daripada perayaan kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Pecel, Rujak, hingga Lodeh, Kenapa Sulit Dicari Padanan Bahasa Inggrisnya?
Umbul-umbul telah dikenal sejak masa kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama di Jawa dan Bali.
Pada masa itu, umbul-umbul digunakan sebagai panji atau penanda dalam berbagai upacara adat, prosesi keagamaan, hingga acara kerajaan. Bentuknya yang memanjang dan menjulang ke atas dipercaya melambangkan doa, harapan, serta penghormatan kepada kekuatan yang lebih tinggi.
Dalam tradisi Jawa, umbul-umbul juga sering dipasang pada perayaan besar sebagai simbol sukacita dan penghormatan kepada tamu atau peristiwa penting. Karena itu, keberadaannya identik dengan suasana perayaan jauh sebelum Indonesia merdeka.
Bukan Pengganti Bendera
Bendera Merah Putih merupakan simbol resmi negara yang memiliki aturan penggunaan tersendiri, mulai dari ukuran, bentuk, hingga tata cara pengibaran yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Sementara itu, umbul-umbul merupakan elemen dekoratif yang berfungsi memeriahkan suasana. Bentuknya lebih beragam, baik dari segi ukuran maupun motif.
Karena sifatnya sebagai hiasan, masyarakat memiliki ruang lebih luas untuk berkreasi dalam mendesain umbul-umbul tanpa mengubah makna bendera negara.
Mengapa Selalu Dipasang Saat Agustus?
Tradisi memasang umbul-umbul saat bulan kemerdekaan berkembang karena semangat gotong royong masyarakat dalam menyambut 17 Agustus. Kampung-kampung mulai menghias jalan, gapura, dan lingkungan bersama-sama agar suasana perayaan terasa lebih semarak.
Seiring waktu, umbul-umbul menjadi bagian dari identitas visual perayaan kemerdekaan. Ketika deretan kain panjang itu mulai berdiri di tepi jalan, banyak orang langsung tahu bahwa Agustus telah tiba.
Di berbagai daerah, pemasangan umbul-umbul bahkan dilakukan bersamaan dengan kerja bakti membersihkan lingkungan dan memasang dekorasi kampung. Tradisi ini tidak hanya mempercantik kawasan, tetapi juga menjadi momen yang mempererat hubungan antarwarga.
Masih Bertahan di Tengah Zaman Digital
Di era ketika ucapan Hari Kemerdekaan lebih banyak dibagikan melalui media sosial, tradisi menghias lingkungan dengan umbul-umbul ternyata belum tergeser.
Justru, banyak warga menjadikan jalan yang dipenuhi umbul-umbul sebagai latar untuk berfoto atau membuat konten di media sosial. Tak sedikit pula pemerintah daerah maupun komunitas yang mengadakan lomba menghias kampung dengan memanfaatkan umbul-umbul sebagai dekorasi utama.
Hal ini menunjukkan bahwa umbul-umbul bukan sekadar kain hias. Kehadirannya telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Indonesia setiap kali bulan Agustus tiba.
Pada akhirnya, jika Merah Putih menjadi simbol resmi negara, maka umbul-umbul menjadi simbol kemeriahan yang mengiringinya. Tradisi yang telah hidup sejak masa kerajaan itu kini menemukan makna baru sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan. Karena itulah, setiap kali deretan umbul-umbul mulai berkibar di sepanjang jalan, banyak orang tahu bahwa semangat menyambut 17 Agustus telah dimulai. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno