RADARSOLO.COM - Misteri penemuan 995 pucuk senjata, alat pembuat amunisi, paket sabu, hingga kaset VCD porno di ruangan terkunci sebuah sekolah swasta di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, terus menggelinding panas.
Eks Ketua Yayasan sekolah tersebut, Indra Wargadalem (IWD), kini menjadi sorotan utama.
Banyak pihak bertanya-tanya, mengapa ratusan senjata berbahaya dan barang terlarang bisa tersimpan rapi di dalam lingkungan pendidikan?
Di tengah proses hukum yang berjalan di Polres Metro Jakarta Selatan, muncul alibi dan pembelaan dari pihak IWD yang membawa-bawa alasan kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) sekolah.
Namun, klaim tersebut langsung dimentahkan oleh pihak kepolisian dan pengurus yayasan.
Alibi Pihak IWD
Kubu IWD memberikan klarifikasi mengenai keberadaan ratusan senjata di area sekolah.
Kuasa Hukum IWD, Alhadid Endar Putra menyebutkan bahwa IWD merupakan Komisaris PT Lokta Karya Perbakin.
Alhadid mengklaim bahwa 995 barang yang disita polisi bukanlah senjata api pembunuh.
Melainkan airsoft gun legal yang dibeli pada 2008 untuk mendukung pelatihan atlet menjelang ajang SEASA Championship, lengkap dengan izin Baintelkam Mabes Polri (No. Reg: SI/5483-XII/2008).
Lantas, mengapa barang-barang tersebut bisa menumpuk di sekolah?
Menurut kubu IWD, pada tahun 2021 pihak PT Lokta Karya Perbakin berencana menjalin kerja sama dengan yayasan untuk membuka program ekstrakurikuler menembak dan memanah.
Baca Juga: Pertamina Sebut Penggerebekan Gudang Solar di Gondang Sragen Murni Perilaku Oknum
Ratusan unit airsoft gun tersebut diboyong ke gudang sekolah sebagai sarana pendukung.
Namun, kegiatan tersebut diklaim batal terlaksana karena sosok jenderal yang menjadi penanggung jawab program meninggal dunia.
Barang-barang itu pun akhirnya mengendap usang di dalam ruangan terkunci.
Baca Juga: Langkah Menuju Geopark, Pemkab Klaten Terima SK Penetapan KCAG dari Menteri ESDM
Polisi dan Guru Bantah Ekskul Menembak
Alibi yang dibangun kubu IWD runtuh seketika saat dikonfirmasi kepada pihak kepolisian dan para tenaga pengajar di lingkungan sekolah.
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Joko Adi Wibowo secara tegas menyatakan tidak menemukan indikasi bahwa ratusan senjata tersebut dipersiapkan untuk kegiatan siswa.
"Tidak. Saya rasa tidak ada kaitan dengan ekskul," tegas Joko, Jumat (7/8/2026).
Senada dengan kepolisian, Kuasa Hukum Yayasan Sekolah, Hermawanto, menegaskan bahwa para guru senior yang sudah puluhan tahun mengajar memastikan sekolah tersebut tidak pernah mengadakan kegiatan ekstrakurikuler menembak.
"Berdasarkan informasi dari para guru-guru yang sudah lama di sini, di sekolah ini tidak pernah ada ekstrakurikuler menembak," ujar Hermawanto.
Baca Juga: Warga Bibis Baru Khawatir Dua Tower di Tengah Permukiman, Pemkot Cek Izin dan Keamanan
Narkoba Hingga Alat Pencetak Peluru
Pernyataan kubu IWD yang menyebut seluruh barang hanyalah airsoft gun tua makin diragukan setelah penggeledahan lanjutan oleh penyidik dan pengurus yayasan.
Dari rincian barang yang diserahterimakan ke kepolisian, selain ratusan air rifle dan pistol, petugas juga mendapati empat senjata laras panjang, dua senjata laras pendek, magasin, hingga mesin/alat pembuat amunisi.
Tak berhenti di situ, ruangan bekas kerja IWD tersebut juga menyajikan fakta kelam lain.
Baca Juga: 'Rasanya Dunia Runtuh', Curahan Hati Sprinter asal Kota Solo usai Gagal ke Kejuaraan Dunia
Yakni temuan barang yang diduga narkoba jenis sabu, dua linting ganja, serta puluhan kaset CD video porno.
Polisi Cek Dugaan Bunker di Sekolah
Saat ini, Polres Metro Jakarta Selatan terus mendalami motif sebenarnya di balik penyimpanan ratusan senjata dan barang terlarang tersebut di lingkungan sekolah.
Polisi juga telah berkoordinasi dengan pihak yayasan untuk menindaklanjuti laporan terkait keberadaan ruangan rahasia yang menyerupai bunker di area dalam sekolah.
Penyidik memastikan Laporan Polisi Model A telah diterbitkan untuk mengusut tuntas kepemilikan dan potensi pelanggaran pidana yang dilakukan oleh mantan ketua yayasan tersebut.
Editor : Syahaamah Fikria