Bukan Sekadar Lomba 17 Agustus, Begini Perjalanan Tradisi Merayakan Kemerdekaan dari Masa ke Masa

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 14:22 WIB
Perayaan 17 Agustus di Indonesia terus bertransformasi dari era perjuangan, tradisi lomba kampung, hingga digital.
Perayaan 17 Agustus di Indonesia terus bertransformasi dari era perjuangan, tradisi lomba kampung, hingga digital.

RADARSOLO.COM – Memasuki bulan Agustus, suasana di berbagai daerah mulai berubah. Jalan kampung dihiasi bendera dan umbul-umbul, anak-anak bersiap mengikuti perlombaan, sementara warga mulai menyiapkan berbagai kegiatan untuk menyambut 17 Agustus.

Kini, perayaan kemerdekaan terasa akrab dengan lomba balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, malam tirakatan hingga berbagai kegiatan di media sosial. Namun, cara masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan ternyata terus berubah dari masa ke masa.

Baca Juga: Bukan Soal Minuman, Ini Makna 'Teh Hijau' dalam Lagu Terbaru Tulus

Pada tahun-tahun awal setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia masih berada dalam situasi perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Proklamasi bukan berarti seluruh persoalan langsung selesai. Indonesia masih harus menghadapi upaya Belanda untuk kembali menguasai wilayah Indonesia dan berjuang memperoleh kedaulatan sepenuhnya.

Karena itu, peringatan kemerdekaan pada masa tersebut tidak dapat dilepaskan dari semangat mempertahankan kemerdekaan. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat, pada peringatan tahun 1949, Ki Hadjar Dewantara melalui siaran radio mengajak masyarakat di berbagai daerah untuk merayakan 17 Agustus dengan lebih meriah. Ia mendorong masyarakat mengadakan pertemuan, resepsi, dan berbagai perayaan untuk menunjukkan persatuan bangsa Indonesia.

Baca Juga: Bahasa Indonesia Punya Banyak Kata untuk Menggambarkan Keheningan

Dari Upacara hingga Perayaan Warga

Seiring berjalannya waktu, peringatan kemerdekaan tidak hanya berlangsung dalam kegiatan kenegaraan. Masyarakat juga menciptakan berbagai bentuk perayaan di lingkungan masing-masing.

Sebuah penelitian mengenai kehidupan sosial masyarakat Indonesia pada dekade 1950-an menunjukkan bahwa perayaan 17 Agustus sudah melibatkan berbagai kegiatan masyarakat, termasuk pertunjukan dan pertandingan olahraga. Di sejumlah daerah, pemuda bahkan ikut menyiapkan acara perayaan dan kegiatan di makam pahlawan.

Artinya, tradisi merayakan kemerdekaan bersama warga bukanlah sesuatu yang baru muncul dalam beberapa tahun terakhir. Sejak masa awal kemerdekaan, masyarakat telah memiliki cara masing-masing untuk menjadikan 17 Agustus sebagai momentum berkumpul.

Bentuknya kemudian semakin beragam. Selain upacara dan kegiatan resmi, perayaan di tingkat kampung berkembang menjadi berbagai perlombaan, pertunjukan seni, kerja bakti, hingga kegiatan yang melibatkan anak-anak dan orang dewasa.

Ketika Lomba Menjadi Tradisi

Bagi generasi sekarang, sulit membayangkan Agustus tanpa lomba makan kerupuk atau balap karung. Permainan sederhana tersebut bahkan menjadi bagian dari ingatan masa kecil banyak orang.

Lomba-lomba tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Kegiatan bersama di lingkungan tempat tinggal membuat peringatan kemerdekaan menjadi ruang untuk berinteraksi dan mempererat hubungan antarwarga.

Penelitian mengenai tradisi malam tirakatan juga mencatat bahwa perayaan kemerdekaan masyarakat berlangsung dalam bentuk formal maupun informal. Upacara bendera menjadi kegiatan formal, sedangkan kegiatan seperti panjat pinang dan berbagai perlombaan menjadi bagian dari perayaan masyarakat.

Baca Juga: Kenapa Bahasa Indonesia Tidak Punya Tingkatan Bahasa Seperti Bahasa Jawa?

Kini Berpindah ke Media Sosial

Perubahan paling terasa terjadi ketika perayaan kemerdekaan memasuki era digital.

Jika dahulu kemeriahan 17 Agustus terutama terlihat di lapangan dan jalan kampung, kini sebagian perayaannya ikut berpindah ke layar ponsel. Ucapan kemerdekaan dibagikan melalui media sosial, dekorasi kampung direkam menjadi video, dan perlombaan warga dapat ditonton orang yang bahkan tidak berada di lokasi.

Namun, teknologi tidak serta-merta menghapus tradisi lama. Justru, media sosial sering menjadi tempat masyarakat mendokumentasikan kegiatan yang berlangsung di lingkungan mereka.

Hal tersebut menunjukkan bahwa cara merayakan kemerdekaan boleh berubah mengikuti zaman. Dari pertemuan dan perayaan masyarakat pada masa awal kemerdekaan, berkembang menjadi lomba kampung dan kegiatan warga, hingga kini hadir pula dalam bentuk konten digital.

Yang tetap bertahan adalah kebutuhan untuk berkumpul, berbagi kegembiraan, dan mengingat kembali arti kemerdekaan. Jika dulu masyarakat merayakannya dalam suasana perjuangan mempertahankan kemerdekaan, kini generasi setelahnya memiliki cara berbeda untuk memperingatinya. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa agustus kemerdekaan perayaan tradisi