16 Agustus Malam Ramai Tirakatan, Apa Makna Sebenarnya?

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 15:05 WIB
Ilustrasi Para Warga Mengikuti Acara Tirakatan. (AI Generated)
Ilustrasi Para Warga Mengikuti Acara Tirakatan. (AI Generated)

RADARSOLO.COM - Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, suasana di berbagai kampung biasanya mulai ramai. Bendera Merah Putih dan umbul-umbul dipasang di sepanjang jalan, berbagai lomba mulai disiapkan, hingga warga berkumpul untuk mengikuti tirakatan pada malam 16 Agustus.

Bagi sebagian masyarakat, tirakatan mungkin identik dengan acara duduk bersama, mendengarkan sambutan, berdoa, kemudian ditutup dengan makan tumpeng. Namun, tradisi yang berlangsung menjelang 17 Agustus ini sebenarnya memiliki makna yang lebih dari sekadar makan bersama.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tirakat merupakan usaha menahan hawa nafsu, seperti berpuasa atau berpantang. Dalam perkembangannya, istilah tirakatan juga digunakan untuk kegiatan bersama yang diisi dengan doa dan perenungan.

Baca Juga: "Merdeka" Tak Lagi Sekadar Soal Penjajahan, Begini Maknanya Kini

Dalam konteks peringatan kemerdekaan, tirakatan menjadi salah satu cara masyarakat mengenang perjuangan para pahlawan sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih.

Kegiatan ini biasanya digelar di lingkungan RT, RW, dusun, maupun desa. Susunan acaranya dapat berbeda-beda di setiap daerah. Ada yang mengisinya dengan doa bersama, mengheningkan cipta, sambutan tokoh masyarakat, pembacaan kisah perjuangan, hingga menyanyikan lagu-lagu nasional.

Setelah rangkaian acara selesai, warga biasanya makan bersama. Tumpeng menjadi salah satu hidangan yang sering disajikan, meskipun tidak semua daerah menggunakan tumpeng. Ada pula warga yang membawa makanan dari rumah atau memasaknya secara bersama-sama.

Makan bersama bukan menjadi satu-satunya inti dari tirakatan. Kebersamaan justru menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi tersebut.

Baca Juga: Bukan Buku dan Pensil, Ini 5 Hadiah Lomba 17-an yang Bikin Peserta Auto Semangat

Malam 16 Agustus juga memberikan suasana yang berbeda dengan perayaan pada 17 Agustus. Jika hari kemerdekaan biasanya dipenuhi upacara, perlombaan, karnaval, dan berbagai kegiatan meriah, malam sebelumnya cenderung digunakan sebagai waktu untuk berhenti sejenak dan mengingat kembali perjalanan bangsa.

Warga diajak mengenang mereka yang telah berjuang dan gugur dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan. Momen tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh dengan mudah.

Dalam perkembangannya, tirakatan juga menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga. Orang-orang yang sehari-hari mungkin jarang bertemu dapat duduk bersama, berbincang, berdoa, dan menikmati makanan dalam satu kegiatan. (annas rohmanda purbaningrum) 

 

Editor : Kabun Triyatno
annas rohmanda purbaningrum makna mengenang tirakatan perjuangan