RADARSOLO.COM - Sekolah Islam Harapan Ibu di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan masih jadi sorotan usai ditemukannya 995 pucuk senapan/airsoft gun, senjata api, amunisi, alat pembuat peluru, paket sabu dan ganja, hingga puluhan VCD porno di dalam ruangan terkunci yang diduga milik Eks Ketua Pengurus Yayasan berinisial IWD (Indra Wargadalem).
Penemuan barang-barang terlarang di lingkungan pendidikan itu tak hanya megejutkan publik, namun juga membuat syok pihak yayasan.
Termasuk bagi para pendiri Yayasan Sekolah Islam Harapan Ibu yang merasa sedih dan terpukul.
Lembaga pendidikan yang dibangun dengan niat luhur mencerdaskan anak bangsa kini nama baiknya ikut tercoreng.
Lantas, siapa sebenarnya tokoh besar di balik berdirinya Yayasan Sekolah Harapan Ibu?
Warisan Mendiang Wakil Presiden RI Adam Malik
Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang memiliki rekam jejak sejarah yang panjang.
Salah satu sosok kunci di balik berdirinya sekolah swasta bergengsi ini adalah Wakil Presiden ke-3 Republik Indonesia, almarhum Adam Malik.
Yan Sofyan Syafe'i, satu-satunya pendiri yayasan yang masih hidup, menceritakan kembali momen awal pembentukan sekolah tersebut.
Misi utamanya kala itu sangat mulia, mendirikan lembaga pendidikan Islam modern untuk mencetak anak-anak bangsa yang pintar, berakhlak mulia, dan saleh.
Selain Adam Malik dan Yan Sofyan Syafe'i, ada pula nama-nama tokoh penting lain yang tercatat sebagai pendiri.
Mereka yakni Letjen TNI (Purn) KPH Soerjo Wirjohadipoetro dan KH Mawardi Labay El-Sulthani.
Baca Juga: Diduga Intimidasi Warga yang Nongkrong, Tim Sparta Amankan Empat Orang
"Kita ke Pak Adam, kemudian diarahkan oleh beliau selaku Wakil Presiden pada waktu itu bahwa ada tanah di Kebayoran, Pondok Pinang. Setelah itu mulailah kita buat yayasan dengan visi misi mencerdaskan anak-anak bangsa," kenang Yan Sofyan, Minggu (9/8/2026).
Atas arahan Adam Malik, kompleks sekolah tersebut didirikan di atas tanah wakaf keluarga dan berkembang melayani jenjang pendidikan lengkap dari TK, SD, SMP, hingga SMA.
Pendiri Merasa Terpukul
Melihat nama sekolah yang ia perjuangkan puluhan tahun lalu kini nampang di headline berita kriminal, Yan Sofyan Syafe'i mengaku sangat terpukul dan bersedih.
"Kami selaku pendiri bersedih sekali dengan adanya hal seperti ini. Tetapi mudah-mudahan semua itu dapat diperbaiki dengan sebaik-baiknya agar sekolah kita dapat kembali sesuai dengan tujuan awal," tuturnya penuh harap.
Kuasa Hukum Yayasan, Alvon Kurnia Palma, menegaskan bahwa kasus temuan ratusan senjata ini bukanlah buntut sengketa di antara para pendiri.
Pihak yayasan baru justru sedang berjuang membenahi pengelolaan sekolah agar terbebas dari oknum-oknum yang menyalahgunakan wewenang.
"Saat ini tidak ada konflik di antara pendiri itu sendiri," tegas dia.
Hermawanto, pengacara yayasan lainnya, secara lugas menuding IWD bersama keluarganya telah menyusup ke kepengurusan dan menggunakan yayasan pendidikan demi menumpuk kepentingan pribadi.
Pihak IWD Sebut Senjata Resmi Milik Perbakin
Di sisi lain, kubu IWD melalui kuasa hukumnya, Alhadid Endar Putra menampik tuduhan miring terkait kepemilikan senjata di ruang eks Ketua Yayasan.
Baca Juga: Karnaval Mobil Hias Di Sukoharjo Ditiadakan, Produsen Tetap Banjir Pesanan
Alhadid mengklaim 995 unit senjata yang disita merupakan airsoft gun milik PT Lokta Karya Perbakin yang memiliki dokumen perizinan resmi Baintelkam Mabes Polri.
Di mana IWD alias Indra Wargadalem sekaligus menjabat sebagai komisaris perusahaan tersebut.
Alhadid berdalih barang-barang itu disimpan di gudang sekolah sejak tahun 2020 dalam rangka rencana pembentukan ekstrakurikuler menembak.
Ia malah melempar tuduhan bahwa mencuatnya kasus ini dipicu oleh konflik sengketa internal antar-pengurus yayasan.
"Saya ulik ternyata ada konflik di yayasan itu," klaim Alhadid, yang juga menjabat Dirut PT Lokta Karya Perbakin.
Meskipun kubu IWD beralih pada isu kerja sama ekstrakulikuler, pihak pengurus baru yayasan bersama aparat Polres Metro Jakarta Selatan memastikan tidak pernah ada kegiatan menembak di sekolah tersebut.
Kepolisian kini terus mendalami kasus ini guna mengusut tuntas siapa yang paling bertanggung jawab atas keberadaan barang-barang terlarang di lembaga pendidikan warisan Sang Mantan Wapres.
Editor : Syahaamah Fikria