RADARSOLO.COM - Jagad media sosial diguncang skandal dugaan kekerasan seksual yang melibatkan Tio Ferdian Rahmana (TFR), Runner Up Raka Jawa Timur 2026 sekaligus alumni Cak & Ning Surabaya 2023, yang diduga melakukan kekerasan seksual seorang perempuan hingga hamil lalu mendesak korban untuk aborsi
Kisah kelam ini mencuat ke publik dan jadi viral setelah akun X @selinaby2 serta berbagai akun berita di Threads dan Instagram membeberkan bukti obrolan dan kronologi kejadian.
Publik pun dibuat geram lantaran terduga pelaku terus mendesak korban melakukan aborsi, bahkan sempat menyarankan pergi ke dukun bayi hingga berangkat ke Singapura demi menghindari sanksi sosial.
Baca Juga: Ditanya Sweeping Ormas, Jawaban Wali Kota Solo Respati Ardi Bikin Geleng-geleng
Kronologi Berawal dari Dukungan Ajang Duta Wisata
Kasus ini bermula ketika korban mencoba memberikan bentuk dukungan kepada Tio Ferdian yang saat itu tengah berjuang sebagai finalis ajang Raka Raki Jawa Timur.
Korban, yang merasa berada di bawah naungan fakultas yang sama di kampusnya, memutuskan untuk mengikutinya (follow) di Instagram.
"Semua ini bermula saat aku melihat katingku (kakak tingkat) sebut saja mas S mempromosikan dukungan pada T saat ia menjadi finalis raka-raki Jatim, karena waktu itu aku berpikir nggak ada salahnya mendukung teman satu fakultas (walaupun nggak kenal)," demikian pengakuan pemilik akun yang diduga korban tersebut.
Tio pun merespons perempuan itu dengan gentian mem-follow.
Usai saling follow, ia diduga mulai mengamati profil korban, menyukai beberapa unggahan lama, dan membalas story Instagram korban dengan kalimat basa-basi untuk memulai pendekatan.
Tidak lama setelahnya, Tio mengajak korban untuk makan malam bersama di daerah Tunjungan, Surabaya.
Berpikiran positif bahwa ajakan itu sekadar silaturahmi antar-rekan satu kampus, korban pun menyanggupinya.
Modus Berdalih Hotel Nostalgia Karantina
Setelah makan malam dan mengobrol cukup lama, Tio menawarkan diri untuk mengantar korban.
Baca Juga: Beredar Video Viral Hajatan di Sragen Ricuh, Kapolsek Ngrampal Tegaskan Tak Ada Pengeroyokan MC
"Setelah itu dia nanya 'abis ini masih mau kemana lagi ga?' lagi-lagi karena aku ga berpikiran apa-apa waktu itu aku juga suntuk di kost sendirian, ku pikir ya karna aku belum ngantuk juga ku jawab 'bebas sih' karna aku berpikir akan geser ke tempat ngopi waktu itu," lanjut perempuan itu.
Namun, alih-alih ke tempat ngopi, Tio justru mengarahkan sepeda motornya menuju ke sebuah hotel di kawasan Surabaya.
Ketika korban merasa curiga, Tio beralasan bahwa hotel tersebut merupakan lokasi tempat karantina ajang Cak & Ning.
Baca Juga: Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Oknum Anggota Polres Wonogiri Masuk Tahap Pemberkasan
Ia berdalih ingin sekadar mampir nostalgia dan menemui teman-temannya yang menginap di sana.
Akan tetapi, begitu mereka tiba di dalam kamar hotel, tidak ada siapapun di sana.
Tio lantas memegang akses kunci kamar, sehingga korban merasa terjebak dan ketakutan.
"Aku mencoba rileks sambil memikirkan bagaimana caranya aku keluar dari sini. Di dalam kamar ada TV. Aku mencoba mengalihkan situasi dengan menghidupkan TV dengan tangan sedikit bergetar, namun gagal," kata sang perempuan.
Mereka sempat menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dengan kondisi korban yang panik dan tertekan.
Saat film selesai, Tio mulai melontarkan kalimat bermuatan pelecehan lalu memaksa korban melayani nafsunya.
Korban yang sempat berupaya melawan akhirnya tak berdaya hingga terjadi tindak kekerasan seksual malam itu dan terulang kembali pada pagi harinya.
Paksa Korban Aborsi ke Singapura karena Takut Sanksi Sosial
Dampak dari tindakan tersebut menyebabkan korban hamil.
Namun bukannya bertanggung jawab, Tio justru merespons kabar kehamilan tersebut dengan sikap panik.
Baca Juga: Si Jago Merah Lahap 25 Hektare Lahan Kosong Di Bulu Sukoharjo, Pemadaman Sampai Tengah Malam
Bahkan, runner up Raka Jatim 2026 itu mendesak korban untuk segera menggugurkan kandungan yang saat itu berusia sekitar 12 minggu.
Dari bukti tangkapan layar percakapan WhatsApp yang beredar, Tio melontarkan berbagai opsi agar kandungan tersebut hilang, mulai dari mendatangi dukun bayi hingga merencanakan terbang ke Singapura.
"Sebenarnya banyak cara, asli banyak cara. Apa dukun anak," tulis pesan yang diduga dikirim Tio.
"Aku sempet mikir ke Singapura buat gugurin," bunyi potongan pesan lainnya.
Saat korban menanyakan alasannya dengan tegas mengapa dirinya terus dipaksa aborsi, Tio secara blak-blakan mengaku belum siap kehilangan reputasinya.
"Aku ga siap sanksi sosial. Aku juga kasian kamu," kelit terduga pelaku.
"Yang kena sanksi sosial tuh aku," imbuh dia.
Terancam Dicopot dari Gelar Raka Jatim
Viralnya kasus ini langsung memantik reaksi keras dari Ikatan Raka Raki Jawa Timur dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur.
Melalui pernyataan resminya di akun Instagram @rakaraki_jatim, organisasi mengecam keras segala bentuk kekerasan seksual dan penyalahgunaan wewenang.
Pihaknya telah membentuk tim independen untuk mengusut kasus ini serta menegaskan akan memberikan sanksi berat sesuai aturan organisasi.
Sementara itu, Kepala Disbudpar Jatim, Evy Afianasari, menyatakan bahwa pihaknya bersama para dewan juri telah melakukan investigasi dan pemanggilan terhadap Tio Ferdian Rahmana.
Sidang etik pun disiapkan untuk menentukan nasib sang runner up.
"Sanksi terberat adalah pencabutan gelar dan pencoretan nama yang bersangkutan dalam Ikatan Raka Raki," tegas Evy.
Editor : Syahaamah Fikria