Tak Selalu Makan Nasi, Begini Cara Rakyat Bertahan di Tengah Sulitnya Pangan Sebelum Kemerdekaan

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:55 WIB
Tiwul jadi Salah Satu Makanan Pengganti Nasi. (Gambar: Pinterest)
Tiwul jadi Salah Satu Makanan Pengganti Nasi. (Pinterest)

RADARSOLO.COM - Setiap Agustus, masyarakat Indonesia ramai merayakan kemerdekaan dengan berbagai hidangan. Ada nasi tumpeng, makanan merah putih, hingga tradisi makan bersama di lingkungan warga. Jauh sebelum perayaan kemerdekaan seperti sekarang, urusan makanan bagi masyarakat Indonesia tidak selalu semudah memilih menu untuk acara 17 Agustus.

Pada masa penjajahan dan pendudukan Jepang, memperoleh bahan pangan menjadi persoalan bagi sebagian masyarakat. Bahkan, pada masa pendudukan Jepang, kesulitan mendapatkan bahan pokok seperti beras dan jagung terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus beradaptasi dengan sumber pangan yang tersedia.

Salah satu makanan yang kemudian dikenal sebagai pengganti nasi adalah tiwul. Makanan berbahan dasar singkong ini memiliki sejarah panjang di sejumlah wilayah Jawa, termasuk Wonogiri, Gunungkidul, Pacitan, dan daerah sekitarnya.

Baca Juga: Bukan Sekadar Hidangan, Ini Makna Tumpeng yang Sering Hadir dalam Perayaan 17 Agustus

Tiwul dibuat dari singkong yang dikeringkan hingga menjadi gaplek. Gaplek kemudian ditumbuk sampai menjadi tepung, diberi sedikit air hingga membentuk butiran, lalu dikukus. Di sejumlah daerah, tiwul dahulu bukan sekadar makanan selingan, melainkan menjadi makanan pokok pengganti nasi.

Di Wonogiri, keberadaan tiwul juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi alam. Sebagian wilayah Wonogiri berada di kawasan karst dengan tanah berkapur dan keterbatasan sumber air untuk irigasi. Kondisi tersebut membuat tanaman padi lebih sulit dibudidayakan sehingga masyarakat mengembangkan singkong sebagai salah satu sumber pangan.

Singkong kemudian diolah menjadi gaplek. Proses pengeringan tersebut bukan hanya mengubah bentuk singkong, tetapi juga membuatnya lebih awet sehingga dapat disimpan dan digunakan sebagai bahan pangan di kemudian hari.

Baca Juga: Kenapa Warga Selalu Mengecat Gapura Jelang 17 Agustus? Ternyata Ada Maknanya

Dari gaplek itulah masyarakat membuat tiwul. Cara pengolahannya menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal serupa juga terlihat pada jagung. Di sejumlah masyarakat pedesaan Jawa Tengah, jagung yang sudah tua dan kering dapat disimpan untuk kemudian digunakan sebagai bahan makanan pokok. Jagung bahkan menjadi salah satu hasil pertanian penting di wilayah dengan kondisi tanah kering.

Cerita tentang makanan masyarakat pada masa sulit sebenarnya bukan hanya soal apa yang disantap. Di balik tiwul, jagung, dan berbagai pangan lokal lainnya terdapat cerita tentang bagaimana masyarakat beradaptasi ketika beras sulit diperoleh atau kondisi alam tidak mendukung pertanian padi.

Baca Juga: Resep Tumpeng Merah Putih 17 Agustus, Sajian Unik untuk Merayakan Hari Kemerdekaan

Tiwul yang dahulu kerap dipandang sebagai makanan sederhana bahkan sempat identik dengan kondisi ekonomi masyarakat pedesaan. Namun, pandangan tersebut perlahan berubah. Kini tiwul justru menjadi bagian dari identitas kuliner daerah dan diolah dalam berbagai bentuk yang lebih modern.

Di Wonogiri, misalnya, tiwul bahkan melekat dengan julukan daerah tersebut sebagai Kota Gaplek. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat bahwa tiwul dibuat dari gaplek yang diolah menjadi tepung kemudian dikukus.

Jika sekarang kemerdekaan identik dengan kemeriahan, makanan bersama, dan berbagai perlombaan, kisah pangan dari masa lalu memberikan gambaran yang berbeda. Bagi masyarakat pada masa itu, bertahan hidup dengan bahan pangan yang tersedia merupakan bagian dari keseharian. (annas rohmanda purbaningrum)

 

Editor : Kabun Triyatno
annas rohmanda purbaningrum makanan tiwul kemerdekaan Penjajahan