Mitos Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Turunnya Sial dan Musibah? Menguak Asal-Usul dan Fakta Sebenarnya

Syahaamah Fikria • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:02 WIB
Rebo Wekasan/Rabu Wekasan 2026.
Rebo Wekasan/Rabu Wekasan 2026.

 

RADARSOLO.COM - Setiap memasuki pekan terakhir di bulan Safar, tradisi Rebo Wekasan (Rabu Wekasan), yang bertepatan pada Rabu, 12 Agustus 2026 (1448 H), kembali menjadi perbincangan hangat. 

Di tengah sebagian kalangan masyarakat, hari ini kerap diselimuti mitos menakutkan sebagai momen diturunkannya ribuan marabahaya, kesialan (tasya'um), maupun bencana ke bumi.

Kepanikan dan kecemasan sering kali membuat sebagian orang merasa waswas untuk beraktivitas. 

Baca Juga: Rabu Wekasan 2026 Dimulai Jam Berapa? Cek Jadwal Lengkap dan Tata Cara Amalannya

Lantas, benarkah Rabu Wekasan 2026 merupakan hari pembawa sial dalam pandangan Islam, atau sekadar keyakinan tanpa dasar syariat?

Berikut penelusuran fakta dan penjelasan ulama berdasarkan dalil-dalil sahih.

Pandangan Islam: Tidak Ada Hari atau Bulan Pembawa Kesialan

Dalam ajaran Islam, anggapan bahwa bulan Safar atau hari Rabu terakhir menyimpan kesialan secara tegas dibantah oleh Rasulullah SAW. 

Baca Juga: Rumah di Karangasem Terancam Dikosongkan, Dua Bersaudara Pertanyakan Proses Lelang

Keyakinan tersebut merupakan sisa-sisa pandangan masyarakat Arab Jahiliyah terdahulu yang keliru.

Dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

 

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ

“Tidak ada 'adwa (penularan penyakit tanpa izin Allah), thiyarah (firasat buruk/kesialan), hamah (burung hantu pembawa sial), shafar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa.” (HR Bukhari dan Muslim) .

Para ulama bahkan sering menyandingkan nama bulan tersebut menjadi "Shafar al-Khair" (Safar yang penuh kebaikan) sebagai bentuk tafa'ul—yakni optimisme serta harapan akan datangnya keberkahan.

Selain itu, mencela atau mengutuk hari tertentu sebagai hari pembawa sial justru dilarang keras. 

Baca Juga: Bulan Imunisasi Anak Sekolah Di Solo: MR 120 Persen, HPV 110 Persen

Dalam Hadis Qudsi, Allah SWT berfirman:

يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Anak Adam menyakiti-Ku karena mencela waktu. Padahal Aku yang mengatur dan menetapkan waktu. Di tangan-Ku lah segala urusan waktu. Aku yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menganggap suatu hari sebagai hari nahas dapat merusak ikhtiar manusia, memicu rasa putus asa, serta mengikis keimanan terhadap qadha dan qadar Allah SWT.

Baca Juga: Semarak Kemerdekaan, BPBD Solo Gelar Lomba Bongkar Pasang Tenda hingga Adu Cepat Siapkan Perahu Bencana

 

 

Momen Historis Hari Rabu: Kelahiran Para Nabi hingga Pertolongan Allah

Mengutip penjelasan dalam kitab tafsir Ruhul Ma'ani, hari Rabu justru menjadi saksi dari berbagai peristiwa besar dan berkah dalam sejarah para nabi.

Dilansir dari NU Online, dalam tafsir Ruhul Ma'ani disebutkan bahwa hari Rabu adalah hari kelahiran Nabi Yunus AS serta Nabi Yusuf AS. 

Tak hanya itu, kemenangan dan pertolongan Allah kepada Nabi Muhammad SAW beserta kaum muslimin dalam Perang Ahzab (Khandaq) juga terjadi pada hari Rabu. 

Baca Juga: Serapan Anggaran DPUPR Baru 11 Persen, Komisi III DPRD Boyolali Minta Megaproyek Pasar Karanggede Dikebut

Hal ini membuktikan bahwa hari Rabu pada hakikatnya sama mulianya dengan hari-hari lain dalam kalender Islam.

Isi Rabu Wekasan dengan Amal Saleh

Ustadz Zainuddin Lubis menjelaskan bahwa alih-alih meratapi mitos atau bertindak atas dasar ketakutan, momentum Rabu Wekasan/Rebo Wekasan sebaiknya diisi dengan berbagai amalan positif dan muhasabah diri (introspeksi).

Beberapa amalan berlandaskan syariat yang dianjurkan antara lain:

 

 

1. Membaca Surah Yasin

Niatkan membaca Alquran untuk memohon perlindungan, keberkahan, dan keselamatan hidup hanya kepada Allah SWT, bukan karena takut pada wujud hari Rebo Wekasan.

2. Perbanyak Istigfar

Memohon ampunan atas segala dosa dan khilaf. Istigfar menjadi pembuka pintu rezeki dan penolak bala yang paling ampuh.

3. Mendoakan Keturunan

Memperbanyak doa kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, dan keturunan sebagaimana ajaran Rasulullah SAW.

4. Memperbanyak Sedekah dan Tadarus Alquran

Menafkahkan sebagian harta dan merenungkan isi kandungan ayat-ayat suci Alquran guna mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta.

Kesimpulannya, Rebo Wekasan bukanlah hari keramat pembawa sial. Sikap terbaik seorang muslim adalah menyikapinya secara bijak, memperkuat rasa optimisme, dan memperbanyak amal ibadah kepada Allah SWT.

Editor : Syahaamah Fikria
rabu wekasan 2026 shalat sunnah mitos rebo wekasan amalan sunnah