RADARSOLO.COM - Jagad media sosial, khususnya Threads dan X (Twitter), mendadak dihebohkan oleh gelombang protes warga terkait hasil penelusuran peringkat kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Banyak masyarakat meradang usai mendapati status rumah tangganya tergolong ke dalam Desil 9 hingga Desil 10, padahal merasa kondisi ekonomi atau gaji mereka sangat terbatas alias pas-pasan.
Salah satu curhatan yang menarik perhatian publik datang dari seorang pengguna Threads yang mengaku kaget karena masuk Desil 9, padahal ia cuma tinggal di rumah kontrakan tipe 36 dengan satu unit mobil bekas.
Pengguna lain bahkan menceritakan kekecewaannya lantaran ditempatkan di Desil 10, padahal keluarganya masih mengontrak dan hanya mengandalkan penghasilan suami sebesar Rp3 juta per bulan.
Ada juga ibu rumah tangga yang masuk Desil 9, padahal dia dan suami masih menumpang di rumah orang tua dan tak punya mobil.
"Bu/Pak, mon maap ini saya pengangguran, gak punya penghasilan, kok bisa2nya masuk desil 9? Suami juga sama. Jangankan mobil, rumah aja masih numpang orang tua. Bisa-bisanya masuk kategori orang kaya," tulis akun @its*****.
Isu ini kian sensitif lantaran pemerintah tengah mengkaji aturan pembatasan BBM bersubsidi jenis Pertalite khusus bagi kelompok Desil 9 dan 10.
Lantas, bagaimana tanggapan Badan Pusat Statistik (BPS) merespons kehebohan ini?
BPS Tegaskan Penetapan Desil Berdasar Pemeringkatan
Merespons protes dan kebingungan publik, pihak BPS (salah satunya dirilis melalui akun Threads BPS Cilegon) memberikan klasifikasi terkait polemik desil tersebut.
BPS menjelaskan bahwa desil pada dasarnya adalah pembagian populasi keluarga menjadi 10 kelompok/kotak yang sama besar berdasarkan urutan atau peringkat (ranking).
Jika total keluarga di Indonesia dimisalkan ada 270 unit, maka setiap kotak akan diisi oleh 27 keluarga dari urutan terendah (Desil 1) hingga urutan tertinggi (Desil 10).
"Jadi, dalam pengelompokan desil tidak ada cut off point-nya. Tidak ada penghasilan sekian masuk desil X, atau aset sekian masuk desil Y. Murni berdasarkan pemeringkatan/ranking keluarga," terang BPS.
Poin penting lainnya, BPS menegaskan bahwa unit analisis data yang dihitung adalah satu keluarga (satu KK), bukan individu perorangan.
Sehingga, seseorang yang sedang tidak bekerja (unemployed) tetap bisa berada di desil atas jika anggota keluarga lain dalam rumah tangga tersebut memiliki sumber daya ekonomi yang memadai.
Kenapa Gaji Jutaan Bisa Satu 'Kotak' Bersama Konglomerat?
Persoalan utama yang membikin netizen heran adalah mengapa keluarga berpenghasilan jutaan rupiah per bulan bisa "satu level" atau bertengger di desil yang sama dengan jajaran konglomerat papan atas hingga para ultra-rich.
BPS menjelaskan bahwa kriteria penilaian tidak hanya bertumpu pada satu indikator penghasilan saja, melainkan akumulasi dari puluhan variabel dengan bobot yang berbeda-beda, meliputi:
- Kondisi Perumahan dan Sanitasi
- Kepemilikan Aset dan Barang Elektronik/Kendaraan
- Profil Demografi dan Pendidikan
- Status Ketenagakerjaan dan Kepemilikan Usaha
- Akses Kesehatan dan Fasilitas Sosial
Baca Juga: Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Janjikan Guru PPPK Paruh Waktu Naik Gaji di 2027
Oleh karena itu, BPS menegaskan bahwa tabel-tabel nominal gaji tertentu yang beredar bebas di media sosial tidaklah akurat.
Terkait kontras tajam di mana kelas menengah berada di kotak Desil 10 bersama orang-orang superkaya, BPS menyebut fenomena ini bukan karena kesalahan input data, melainkan cerminan nyata dari ketimpangan ekonomi (inequality) di Indonesia.
"Banyak juga yang mengeluh kenapa masuk desil 10 padahal masyarakat dengan kondisi ekonomi biasa2 aja?? Kenapa bisa satu level sama Raffi Ahmad dan para 9 naga??? Jawabannya: kontras yang begitu tajam di dalam Desil 10 itu sendiri menunjukkan betapa ekstremnya ketimpangan ekonomi di Indonesia," papar BPS.
Mereka menambahkan, jumlah populasi konglomerat dengan kekayaan ekstrem di Indonesia sebenarnya sangatlah sedikit, hanya berada di puncak piramida teratas.
Akibatnya, ketika BPS membagi populasi menjadi 10 kelompok sama rata, keluarga kelas menengah atas secara statistik akan tersedot dan mengisi porsi kelompok Desil 10 yang sama dengan para miliarder.
Editor : Syahaamah Fikria