RADARSOLO.COM - Jagat media sosial belakangan ini diramaikan oleh unggahan netizen yang berbondong-bondong memosting hasil pengecekan status kesejahteraan sosial melalui situs dtsen-form.bps.go.id.
Banyak netizen terkejut saat melihat NIK KTP milik mereka terdaftar masuk ke dalam "Desil 10", padahal mereka merasa kondisi ekonomi riil sehari-hari jauh dari kata mewah dan tidak sesuai dengan label tersebut.
Kejadian ini mendadak tular dan memicu perdebatan riuh di kolom komentar.
Tak sedikit publik yang kaget sekaligus bingung, mengapa kondisi keuangan yang dirasa pas-pasan justru dikategorikan ke Desil 10? Bahkan setara dengan para konglomerat sekelas 9 Naga dan Raffi Ahmad.
Apa Itu DTSEN dan Sistem Desil BPS?
Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) merupakan basis data terpadu hasil pendataan Regsosek (Registrasi Sosial Ekonomi) yang digunakan pemerintah untuk mengukur tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat Indonesia secara presisi.
Dalam sistem pangkalan data tersebut, tingkat kesejahteraan penduduk dikelompokkan ke dalam 10 tingkatan persentil (Desil 1 hingga Desil 10).
Pembagian ini mengurutkan kondisi ekonomi masyarakat dari kelompok yang paling bawah (termiskin) hingga kelompok paling atas (terkaya).
Desil 1-10 di dtsen-form.bps.go.id
Secara rincinya, berikut adalah pembagian dan kategori desil dalam sistem pendataan BPS:
Desil 1: Kelompok masyarakat sangat miskin/sangat rentan (10% teratas kelompok terbawah).
Desil 2: Kelompok masyarakat miskin.
Desil 3: Kelompok masyarakat hampir miskin.
Desil 4: Kelompok masyarakat rentan miskin.
Desil 5 – 7: Kelompok masyarakat kelas menengah.
Desil 8 – 10: Kelompok masyarakat mampu/kaya (Desil 10 mencakup 10% masyarakat teratas dengan kondisi ekonomi paling sejahtera).
Apa Arti Desil 10?
Istilah Desil 10 merujuk pada kelompok masyarakat yang menduduki posisi 10 persen teratas dengan tingkat kondisi sosial dan ekonomi paling mapan secara nasional.
Jika nama atau NIK KTP Anda tercatat masuk ke dalam Desil 10, artinya tergolong ke dalam kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan tertinggi (paling mampu/terkaya).
Berikut adalah rincian arti, karakteristik, serta indikator penilaian yang digunakan oleh pemerintah:
1. Tingkatan Kesejahteraan Sosial Paling Atas
Pemeringkatan data kesejahteraan BPS dan Kemensos diurutkan dari skala 1 sampai 10.
Desil 1 merepresentasikan 10 persen kelompok masyarakat terbawah dengan kondisi miskin ekstrem, sedangkan Desil 10 merupakan puncak dari skala pemeringkatan tersebut yang menggambarkan tingkat kemandirian ekonomi paling tinggi.
2. Cakupan Ekonomi Beragam (Bukan Selalu Milyarder)
Berada di kelompok Desil 10 tidak serta-merta mengindikasikan seseorang sebagai konglomerat atau bergelimang harta.
Kategori ini mencakup spektrum ekonomi yang cukup luas, mulai dari kelompok masyarakat kelas menengah-atas (upper middle class), kaum profesional berpenghasilan stabil, hingga kelompok ultra-rich.
3. Bukan Target Sasaran Bantuan Sosial (Bansos)
Karena dikategorikan sebagai kelompok paling sejahtera, keluarga atau NIK yang terdata pada Desil 10 secara otomatis tidak masuk dalam daftar prioritas dan tidak berhak menerima program bansos dari pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), maupun bantuan logistik reguler lainnya.
Baca Juga: Ditinggal Pemilik Cari Rongsok, Rumah di Demangan Sambi Boyolali Ludes Terbakar
4. Indikator Penilaian Komprehensif
Penetapan peringkat desil tidak semata-mata diukur dari nominal gaji bulanan atau besar pendapatan bersih.
Dalam penjelasa di laman media sosial resminya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, penghitungan menggunakan variabel yang lebih luas, antara lain:
- Kondisi Bangunan Tempat Tinggal: Jenis atap, dinding, lantai, dan kelayakan hunian.
- Fasilitas dan Daya Listrik: Kapasitas daya listrik terpasang serta sanitasi rumah tangga.
- Kepemilikan Aset: Kendaraan, barang elektronik, serta aset bergerak/tidak bergerak.
- Latar Belakang Profil: Tingkat pendidikan terakhir dan bidang pekerjaan anggota keluarga.
Baca Juga: Santriwati Pondok Pesantren Baitul Quran Sragen Hilang Usai Kunjungi Mal di Solo
Bagaimana Jika Data Desil Tidak Sesuai Realita?
Bagi masyarakat yang merasa kondisi ekonominya tergolong kurang mampu namun justru terdata masuk ke desil tinggi (seperti Desil 8, 9, atau 10), pemerintah membuka mekanisme pengajuan sanggah atau perbaikan data.
Masyarakat dapat mengajukan permohonan pembaruan data kesejahteraan sosial secara mandiri melalui Aplikasi Cek Bansos pada fitur Usul Sanggah.
Atau bisa melapor langsung ke dinas sosial/kantor kelurahan setempat untuk dilakukan verifikasi dan validasi ulang (verval) petugas di lapangan.
Editor : Syahaamah Fikria