RADARSOLO.COM - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), diketahui tak hadir dalam rangkaian Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-81 di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 17 Agustus 2026.
Melalui tayangan video resmi di kanal YouTube miliknya, SBY secara pribadi memohon maaf kepada seluruh rakyat Indonesia karena tidak dapat bergabung merayakan pesta kemerdekaan di Tanah Air tahun ini.
Lantas, apa penyebab utama SBY absen dari Istana Merdeka dan pesan penting apa yang ia titipkan untuk pemerintahan Presiden Prabowo Subianto?
Alasan SBY Absen
SBY menjelaskan bahwa dirinya terpaksa absen dari seluruh rangkaian acara kenegaraan di Jakarta karena harus berada di Rochester, Amerika Serikat, sepanjang bulan Agustus 2026.
Ketidakhadirannya tersebut dilakukan atas saran dan rekomendasi dari Tim Dokter Kepresidenan.
SBY diketahui masih menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh (medical check up) rutin di Mayo Clinic, Rochester.
Pemeriksaan berkala ini wajib dilakukan menyusul tindakan operasi pengangkatan kanker prostat yang pernah dijalaninya pada akhir 2021 lalu.
"Tim dokter kepresidenan yang merawat kesehatan saya menganjurkan, di samping pemeriksaan di dalam negeri, juga dilaksanakan di Mayo Clinic karena saya pernah menjalani operasi pengangkatan prostat pada tahun 2021 lalu dan setiap tahun dilakukan pemeriksaan," tutur dia.
SBY mengonfirmasi seluruh rangkaian pemeriksaan medis diperkirakan rampung pada akhir Agustus dan ia dijadwalkan kembali ke Indonesia pada September 2026.
Pesan Khusus SBY dari AS
Meskipun sedang berada di luar negeri untuk berobat, SBY tetap memberikan perhatian penuh pada perkembangan situasi nasional.
Selain mengucapkan Selamat Dirgahayu ke-81 RI kepada seluruh masyarakat, SBY memberikan catatan dan dorongan terkait arah perekonomian di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Bawaslu Solo Siapkan Pembelajaran dari Sidang MK, Pengawasan Pemilu Tak Berhenti di TPS
Menanggapi target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen pada 2027 yang baru saja disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato RAPBN 2027 di DPR RI, SBY menilai angka tersebut sebagai langkah yang optimis namun sangat masuk akal untuk dicapai.
"Meskipun ambisius tidak berarti tidak bisa dicapai. Karena pengalaman saya memimpin dulu dengan 10 tahun rata-rata 6 persen, memang alhamdulillah kemiskinan turun secara tajam, pengangguran juga begitu, utang negara juga menurun drastis, tetapi GDP termasuk income per capita meningkat secara tajam," papar SBY.
SBY menitipkan beberapa pesan kunci bagi jajaran menteri kabinet pemerintahan:
Baca Juga: UMS Launching 58mart Di Pabelan Sukoharjo, Gerakkan Dakwah Ekonomi
Menjaga Kesehatan Fiskal: Pemerintah diminta tetap disiplin dan konsisten mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar postur keuangan negara tetap sehat dan tahan terhadap gejolak.
"Saya hanya ingin berpesan ke teman-teman yang mengemban tugas di pemerintahan agar tetap konsisten, jaga betul kesehatan fiskal kita, kemudian implementasinya yang bagus, jangan ada penyimpangan di sana-sini," imbuh dia.
Eksekusi dan Evaluasi Ketat: SBY mengingatkan agar pelaksanaan kebijakan di lapangan berjalan tanpa ada kebocoran atau penyimpangan, serta rutin dievaluasi secara berkala.
Fokus pada Sektor Publik: SBY mendukung penuh fokus anggaran pemerintah yang diprioritaskan untuk pembenahan fasilitas pendidikan, layanan kesehatan dasar, penurunan kemiskinan, serta pengentasan pengangguran.
SBY optimistis, berdasarkan pengalamannya memimpin Indonesia selama dua periode, target pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan per kapita dan kesejahteraan masyarakat luas.
Editor : Syahaamah Fikria