Langkah Baru Jateng untuk Pengentasan Kemiskinan, Jadikan Generasi Muda Penggerak Utama

Syahaamah Fikria • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:16 WIB
Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen meluncurkan Pilot Project Desa/Kelurahan Mandiri Sejahtera Berbasis Pemberdayaan Pemuda di Semanggi, Pasar Kliwon, Solo.
Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen meluncurkan Pilot Project Desa/Kelurahan Mandiri Sejahtera Berbasis Pemberdayaan Pemuda di Semanggi, Pasar Kliwon, Solo.

 

RADARSOLO.COM – Pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah kini memiliki strategi terbaru dengan menempatkan generasi muda dari kalangan keluarga prasejahtera sebagai motor pendorong utama. 

Lewat formulasi ini, pemuda tak sekadar dijadikan target penerima kucuran bantuan, melainkan ditempa agar menguasai keterampilan, mandiri secara finansial, serta memiliki unit usaha yang sanggup menopang perekonomian keluarga mereka.

Model ini resmi digulirkan lewat peluncuran Pilot Project Desa/Kelurahan Mandiri Sejahtera Berbasis Pemberdayaan Pemuda oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen di Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, Rabu (19/8/2026).

Baca Juga: Hari Jadi Ke-81, Pemprov Jateng Andalkan Pemuda Untuk Entaskan Kemiskinan

Mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Taj Yasin menjelaskan bahwa uji coba ini dirancang untuk mengukur sejauh mana efektivitas skema pembinaan pemuda dalam memutus mata rantai kemiskinan hingga level pedesaan maupun kelurahan.

Inisiatif ini menargetkan kelompok usia produktif 16–30 tahun dari keluarga kategori desil 1 sampai 4. 

Mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) per Januari 2026, populasi pemuda di Jawa Tengah yang berada dalam kategori rentan tersebut menembus angka 3.493.309 jiwa.

Baca Juga: Raden Pandji Soeroso, Gubernur Pertama Jateng yang Punya Jasa di Dunia Koperasi

Pemilihan kaum muda sebagai aktor kunci program ini dilandasi oleh potensi mereka dalam memperluas ceruk pasar usaha, utamanya memanfaatkan keahlian di bidang teknologi digital.

Sebagai langkah awal, proyek percontohan ini digelar secara serentak di delapan titik. 

Yakni Kelurahan Semanggi, Nusukan, dan Mojosongo (Kota Solo); Desa Winduaji (Kabupaten Brebes); Desa Belik dan Mendelem (Kabupaten Pemalang); Desa Rejosari (Kabupaten Demak); serta Desa Ngawen (Kabupaten Blora).

 

Gus Yasin menegaskan, program ini tidak menerapkan skema bagi-bagi bantuan sosial (bansos) secara instan. 

Setiap calon penerima wajib melewati tahap asesmen mendalam guna memetakan kebutuhan, latar belakang pengalaman, serta potensi bisnis masing-masing. 

Usai diidentifikasi, mereka akan dibekali beragam pelatihan teknis dan pendampingan berkala sebelum sokongan modal usaha disalurkan.

Baca Juga: Hari Jadi ke-81 Jateng: Gubernur Luthfi Apresiasi Peran Petani, Buruh, hingga UMKM

“Bantuan ini tidak langsung diberikan. Kita asesmen dulu. Kebutuhannya apa? Kelompok tersebut sudah punya pengalaman apa? Kita berikan pelatihan dulu, kita berikan pendampingan dulu,” terang Wagub.

Formulasi ini dinilai sangat penting agar modal yang dikucurkan tidak habis seketika, melainkan menjelma menjadi lini bisnis produktif yang terus mencetak profit bagi penerimanya.

“Harapannya bantuan yang kita berikan ini tidak berkurang, tetapi bisa naik atau bertambah,” tambahnya.

Baca Juga: Hari Jadi Ke-81 Jateng: Masif Perbaiki Rumah, Bangkitkan Ekonomi Penghuni yang Lemah

Atas dasar itu, ia mewanti-wanti seluruh pemerintah daerah penanggung jawab pilot project agar mengawal ketat keberlangsungan program ini. 

Pengawasan harus dilakukan secara konsisten bahkan setelah dana bantuan sukses dicairkan.

Dukungan penuh turut disampaikan Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani. 

 

Menurutnya, pembebasan warga dari jerat kemiskinan tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama berupa pembagian bantuan semata, melainkan wajib mentransformasi kapasitas warga agar mandiri secara ekonomi.

“Kita semua ingin pemuda tidak hanya menjadi penerima manfaat tapi menjadi pelaku pembangunan yang memiliki keterampilan, pekerjaan atau usaha, penghasilan dan pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya,” tutur Astrid.

Ia menaruh harapan besar agar pilot project ini terus berkelanjutan lewat pendampingan kolaboratif, sehingga kelak dapat direplikasi secara masif di berbagai wilayah lain.

Baca Juga: Bantu Korban Gempa NTT, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Berangkatkan 16 Personel Gabungan dan Ribuan Logistik

Guna menyokong keberhasilan program di delapan wilayah percontohan, Pemprov Jateng menggelontorkan paket intervensi komprehensif. 

Di sektor perekonomian, suntikan dana disalurkan melalui Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE) senilai Rp145 juta, permodalan Kelompok Usaha Bersama (Kube) Rp480 juta untuk 24 kelompok, serta Usaha Ekonomi Produktif (UEP) senilai Rp240 juta. Bank Jateng turut ambil bagian dengan menyalurkan alokasi Kube dan pelatihan dasar kepemudaan dengan total nilai Rp600 juta.

Peningkatan kapasitas SDM diperkuat lewat pelatihan vokasi menggunakan armada Mobile Training Unit (MTU) senilai Rp134,594 juta serta pelatihan Hetero Business Leap (HBL) sebesar Rp7,98 juta. 

Baca Juga: Kado Manis HUT ke-81 Jateng: Santri dan Pengasuh Pesantren Kini Bisa Kuliah Gratis Hingga ke Luar Negeri

Selain itu, para pemuda penerima manfaat difasilitasi "Kartu Zilenial" yang menjadi akses khusus untuk mengikuti ragam program pelatihan yang disiapkan Pemprov Jateng.

Intervensi pemerintah juga menyentuh aspek perlindungan sosial dan fasilitas dasar keluarga. 

Di antaranya melalui penyaluran Kartu Jateng Ngopeni senilai Rp105,6 juta, Bantuan Langsung Tunai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (BLT DBHCHT) sebesar Rp436,8 juta.

 

Serta beasiswa pendidikan Bantuan Siswa Miskin (BSM) jenjang SMA, SMK, dan SLB senilai Rp73 juta.

Adapun untuk pembenahan infrastruktur dasar keluarga penerima manfaat, dialokasikan dana pemugaran Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) senilai Rp260 juta, pembuatan jamban sehat Rp675,22 juta, serta instalasi jaringan listrik gratis senilai Rp49,5 juta. 

Kemudian, bantuan 13,5 juta benih ikan nila merah turut disalurkan demi mendorong geliat ekonomi produktif berbasis perikanan di tingkat lokal.

Melalui integrasi modal, pelatihan vokasi, perbaikan taraf hidup, hingga perlindungan sosial ini, Pemprov Jateng optimistis pemuda mampu menjadi katalisator utama yang membawa keluarganya keluar dari zona kemiskinan secara permanen.

Editor : Syahaamah Fikria
Hari Jadi Ke-81 Jateng pemberdayaan pengentasan kemiskinan pemuda