RADARSOLO.COM - Jembatan Suramadu menjadi salah satu proyek infrastruktur terbesar yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura. Pembangunannya resmi dimulai pada 20 Agustus 2003 dan kemudian diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009.
Jembatan sepanjang sekitar 5,4 kilometer itu membuat perjalanan Surabaya-Madura menjadi lebih cepat dan praktis. Namun, di balik kemudahan tersebut, kehadiran Suramadu juga membawa perubahan besar bagi masyarakat yang sebelumnya menggantungkan penghasilan dari aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Kamal, Bangkalan.
Sebelum Suramadu beroperasi, Pelabuhan Kamal menjadi salah satu jalur utama masyarakat yang bepergian dari Madura menuju Surabaya. Aktivitas kapal feri menciptakan ekosistem ekonomi bagi pedagang, pengemudi angkutan umum, hingga pekerja jasa di sekitar pelabuhan.
Baca Juga: Hari Jadi Ke-81, Jawa Tengah Bertabur Infrastruktur
Kondisi tersebut berubah setelah kendaraan mulai beralih menggunakan Suramadu.
Ketika Pelabuhan Kamal Mulai Sepi
Penelitian Universitas Negeri Surabaya mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Kamal menunjukkan adanya penurunan jumlah penumpang kapal feri setelah Suramadu beroperasi.
Pada 2011, jumlah penumpang Pelabuhan Kamal yang tercatat dalam penelitian mencapai 1.796.316 orang. Angka tersebut turun menjadi 1.204.838 orang pada 2013. Pada periode yang sama, penggunaan Suramadu oleh kendaraan roda dua justru meningkat.
Menurunnya jumlah penumpang kemudian berpengaruh terhadap masyarakat yang bekerja di sekitar pelabuhan.
Penelitian tersebut menemukan jumlah pekerja pada profesi pedagang turun sekitar 76 persen, sedangkan pekerja jasa angkutan umum berkurang sekitar 33 persen. Dengan semakin sedikitnya calon pembeli dan penumpang, aktivitas ekonomi di sekitar pelabuhan ikut melemah.
Baca Juga: Dikebut, Paket Infrastruktur Jalan di Sragen Baru Capai 10 Persen
Dampaknya juga terlihat dari pendapatan. Dalam penelitian tersebut, pendapatan pedagang yang sebelumnya berada pada kisaran Rp6,75 juta hingga Rp8,75 juta per bulan turun menjadi sekitar Rp750 ribu hingga Rp2,75 juta. Sementara pendapatan jasa angkutan umum turun dari kisaran Rp2,7 juta-Rp3,15 juta menjadi Rp1,35 juta-Rp1,8 juta per bulan.
Pedagang Satu per Satu Meninggalkan Pelabuhan
Penurunan aktivitas tidak hanya terlihat dari jumlah penumpang, tetapi juga dari keberadaan pedagang.
Penelitian lain mengenai pedagang kaki lima di Pelabuhan Kamal mencatat bahwa sebelum Suramadu beroperasi terdapat sekitar 200 unit kios yang digunakan pedagang. Setelah jembatan beroperasi, penelitian tersebut menemukan hanya 25 pedagang yang masih bertahan. Sebagian pedagang memilih gulung tikar, pindah lokasi, bekerja ke luar negeri, atau tidak lagi berdagang.
Bagi pedagang yang masih bertahan, kondisi tersebut membuat jam aktivitas dan pendapatan ikut berubah. Penelitian tersebut mencatat pendapatan pedagang yang tersisa berada pada kisaran Rp15 ribu hingga Rp75 ribu per hari, bahkan ada hari ketika dagangan tidak laku.
Dengan demikian, pembangunan infrastruktur yang mempercepat mobilitas di satu sisi juga memindahkan pusat aktivitas ekonomi. Masyarakat yang sebelumnya mendapatkan keuntungan dari arus penumpang kapal harus menghadapi berkurangnya konsumen setelah sebagian besar perjalanan beralih ke jembatan.
Baca Juga: Dipadati Ribuan Warga, 38 Kontingen Unjuk Capaian dan Inovasi di Karnaval Pembangunan Klaten 2026
Bukan Hanya Masalah Pendapatan
Dampak Suramadu terhadap kawasan Kamal juga menyentuh sektor transportasi.
Kajian mengenai Pelabuhan Kamal-Ujung menunjukkan jumlah pengguna jasa penyeberangan mengalami penurunan tajam. Pada 2004, jumlah penumpang tercatat sekitar 9,3 juta, kemudian turun menjadi sekitar 2,19 juta pada 2018. Jumlah armada kapal juga berkurang dari 18 kapal menjadi tiga kapal, sementara jam operasional yang sebelumnya 24 jam berkurang menjadi 16 jam.
Penurunan aktivitas tersebut membuat fungsi Pelabuhan Kamal sebagai pusat kegiatan ekonomi ikut merosot.
Kondisi ini juga terlihat dalam penelitian Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menyebut aktivitas di Pelabuhan Kamal menurun drastis setelah pembangunan Suramadu. Penelitian tersebut mencatat penurunan pendapatan masyarakat hingga 98 persen dalam konteks aktivitas ekonomi yang ditelitinya.
Baca Juga: Tangani Kemarau Panjang di Jateng, Gubernur Luthfi Salurkan 8,8 Juta Liter Air Bersih
Pembangunan yang Mengubah Pusat Ekonomi
Dampak Suramadu sebenarnya tidak sepenuhnya negatif. Jembatan ini mempercepat perjalanan, menekan biaya transportasi dan membuka akses ekonomi baru di sejumlah kawasan Madura. Penelitian Institut Pertanian Bogor juga menemukan manfaat berupa penghematan waktu perjalanan, peningkatan harga tanah dan munculnya lapangan pekerjaan baru di wilayah tertentu.
Namun, manfaat tersebut tidak dirasakan secara merata oleh semua kelompok masyarakat.
Di satu sisi, kawasan sekitar akses Suramadu mendapatkan peluang baru. Di sisi lain, kawasan yang sebelumnya hidup dari penyeberangan, seperti Pelabuhan Kamal, kehilangan sebagian besar arus manusia yang menjadi sumber penghidupan masyarakatnya. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno