Ubi Bombing untuk Padamkan Karhutla, Efektif atau Malah Belum Siap Dipakai?

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Presiden Prabowo Subianto meminta inovasi berbahan dasar ubi atau singkong dikembangkan untuk membantu memadamkan karhutla.
Presiden Prabowo Subianto meminta inovasi berbahan dasar ubi atau singkong dikembangkan untuk membantu memadamkan karhutla.

RADARSOLO.COM - Di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih membutuhkan penanganan cepat, pemerintah memperkenalkan satu alternatif yang terdengar tidak biasa, yaitu “ubi bombing”.

Istilah tersebut muncul setelah Presiden Prabowo Subianto meminta inovasi berbahan dasar ubi atau singkong dikembangkan untuk membantu memadamkan karhutla. Gagasan ini disampaikan dalam rapat penanganan karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/8/2026).

Sekilas, penggunaan tepung untuk menghadapi kobaran api memang terdengar janggal. Apalagi, masyarakat selama ini lebih mengenal water bombing, yakni menjatuhkan air dalam jumlah besar dari helikopter untuk membantu memadamkan kebakaran dari udara.

Baca Juga: Cegah Kebakaran Saat Kemarau, Ini yang Harus Dilakukan Masyarakat

Lantas, apakah ubi bombing benar-benar siap digunakan untuk menghadapi kebakaran dalam skala besar?

Jawabannya, belum bisa dipastikan.

Dalam rapat tersebut, Prabowo justru meminta agar inovasi berbahan ubi atau singkong itu diteliti, diproduksi dalam skala besar, dan diuji efektivitasnya. Artinya, pemerintah sendiri masih perlu mengetahui seberapa efektif bahan tersebut ketika digunakan dalam kondisi nyata dan area kebakaran yang luas.

Bahkan, Presiden secara khusus meminta pengujian untuk mengetahui berapa luas wilayah yang dapat ditangani jika bahan tersebut digunakan dalam jumlah besar dari udara. Ia sempat mencontohkan kemungkinan penggunaan helikopter MI-17 dengan kapasitas sekitar empat ton, lalu mempertanyakan seberapa luas area yang bisa dipadamkan dengan jumlah bahan tersebut.

Artinya, persoalan utamanya bukan sekadar “tepung bisa memadamkan api atau tidak”, melainkan apakah teknologi tersebut mampu bekerja secara efektif ketika berhadapan dengan karhutla yang luas, panas, sulit dijangkau, dan terus menyebar.

Baca Juga: Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Mengapa Kebakaran Hutan Terus Berulang?

Inovasi ini pertama kali disampaikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam rapat tersebut. Menurutnya, bahan berbasis tepung itu dapat membantu mencegah penyebaran api sekaligus memadamkan api pada tahap awal dengan memisahkan unsur yang mendukung proses pembakaran.

Namun, terdapat satu hal penting yang justru perlu diperhatikan. Kapasitas produksi bahan tersebut saat ini masih kecil.

Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis menyampaikan bahwa inovasi tersebut merupakan temuan anggota Babinsa di Lubuklinggau. Ia mengatakan kapasitas produksinya masih terbatas dan perlu ditingkatkan apabila akan digunakan dalam skala besar.

Di sinilah pertanyaan mengenai urgensi menjadi masuk akal.

Karhutla membutuhkan penanganan yang cepat, sementara bahan yang hendak digunakan masih harus melalui proses riset, peningkatan produksi, serta pengujian untuk mengetahui efektivitasnya. Jika teknologi tersebut belum teruji untuk kebakaran besar, tentu tidak tepat apabila langsung dianggap sebagai pengganti metode yang sudah digunakan di lapangan.

Pemerintah sendiri saat ini tetap menggunakan berbagai metode penanganan karhutla. Dalam rapat tersebut, Prabowo juga meminta evaluasi terhadap kebutuhan di lapangan dan menekankan agar sekitar 1.900 hektare lahan terbakar di Sumatera Selatan segera dipadamkan.

Baca Juga: Kronologi Ratusan Rumah di Desa Adat Sade, Lombok, Ludes Terbakar dalam Kebakaran Hebat

Dengan kondisi seperti itu, ubi bombing lebih tepat dipandang sebagai inovasi yang sedang diuji, bukan teknologi yang sudah siap menggantikan water bombing.

Bukan berarti gagasan tersebut tidak layak dicoba. Justru inovasi baru memang perlu dikembangkan untuk mencari metode pemadaman yang lebih efektif, terutama jika dapat membantu memperlambat penyebaran api atau mempertahankan kelembapan area yang rawan terbakar.

Namun, ada perbedaan antara potensi dan efektivitas yang sudah terbukti.

Sampai saat ini, pemerintah baru meminta agar teknologi tersebut diuji dalam skala lebih besar. Belum ada data terbuka yang menunjukkan berapa luas kebakaran yang mampu dipadamkan, berapa banyak bahan yang dibutuhkan untuk setiap hektare, seberapa cepat bahan tersebut bekerja, serta bagaimana efektivitasnya dibandingkan water bombing. (annas rohmanda purbaningrum)

 

Editor : Kabun Triyatno
annas rohmanda purbaningrum ubi boombing Prabowo karhutla