Demo 27 Agustus dan Perang Informasi: Waspadai Video Lama yang Bukan Seperti Klaimnya

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:08 WIB
Penyebaran video lama dengan narasi palsu rawan memicu kekeliruan persepsi publik jelang demonstrasi 27 Agustus. Konteks, waktu, dan verifikasi sumber menjadi kunci penting menyaring informasi di media sosial.
Penyebaran video lama dengan narasi palsu rawan memicu kekeliruan persepsi publik jelang demonstrasi 27 Agustus. Konteks, waktu, dan verifikasi sumber menjadi kunci penting menyaring informasi di media sosial.

RADARSOLO.COM – Menjelang demonstrasi 27 Agustus, media sosial kembali menunjukkan betapa cepatnya sebuah video lama mendapatkan “kehidupan baru”. Videonya memang asli, tetapi cerita yang menyertainya belum tentu demikian.

Salah satu contohnya adalah video rombongan bus yang beredar di media sosial dan dikaitkan dengan keberangkatan massa menuju Jakarta untuk mengikuti demonstrasi 27 Agustus. Sekilas, video tersebut terlihat meyakinkan.

Ada banyak bus yang bergerak dalam satu rombongan sehingga mudah bagi orang untuk menghubungkannya dengan mobilisasi massa.

Baca Juga: Aksi Demo 27 Agustus 2026 Hari Ini di Gedung DPR RI, Cek Rekayasa Lalu Lintas dan Jalur Alternatif

Namun, ketika ditelusuri lebih jauh, video tersebut ternyata bukan rekaman persiapan demonstrasi 27 Agustus.

Video itu merupakan dokumentasi kegiatan Ngabuburit On The Road yang berlangsung di Yogyakarta pada Maret 2026. Dengan kata lain, rekamannya memang nyata, tetapi konteks yang diberikan kepadanya berbeda.

Kasus semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Namun, media sosial membuat persoalan tersebut menjadi semakin mudah terjadi. Sebuah video yang awalnya diunggah untuk mendokumentasikan suatu kejadian dapat diunduh, dipotong, kemudian diunggah kembali berbulan-bulan kemudian dengan keterangan yang sama sekali berbeda.

Baca Juga: Link CCTV Pantau Aksi Demo 27 Agustus 2026 Hari Ini di Gedung DPR RI Jakarta, Cek Titik Kamera Live

Masalahnya, ketika video tersebut sudah beredar luas, tidak semua orang akan mencari tahu asal-usulnya.

Orang biasanya hanya melihat beberapa detik pertama, membaca tulisan di layar atau caption, kemudian langsung mengambil kesimpulan. Apalagi jika isi video sesuai dengan informasi yang sedang ramai dibicarakan.

Dalam konteks demonstrasi, situasi seperti ini menjadi semakin sensitif. Menjelang aksi besar, masyarakat memang sedang mencari berbagai informasi mengenai siapa yang akan datang, bagaimana kondisi di lapangan, hingga seperti apa persiapannya. Sebuah video yang terlihat menunjukkan rombongan massa tentu lebih mudah mendapatkan perhatian.

Di sinilah konteks menjadi sangat penting.

Dalam komunikasi digital, sebuah konten sebenarnya tidak pernah berdiri sendirian. Waktu, lokasi, siapa yang merekam, alasan video dibuat, serta peristiwa yang sedang berlangsung ketika video tersebut direkam merupakan bagian dari informasi yang menentukan maknanya.

Ketika bagian-bagian tersebut dilepaskan dari video, maknanya bisa berubah.

Video bus yang direkam di Yogyakarta pada Maret, misalnya, dapat terlihat seperti dokumentasi perjalanan massa demonstrasi jika diberi caption yang berbeda. Gambar yang sama, tetapi konteksnya berubah, sehingga penonton memperoleh kesimpulan yang berbeda pula.

Fenomena ini semakin mudah terjadi karena karakter media sosial yang mengutamakan kecepatan.

Konten yang menarik perhatian akan lebih mudah dibagikan. Semakin banyak orang membagikannya, semakin besar kemungkinan video tersebut muncul di beranda pengguna lain. Dalam proses tersebut, sumber awal dan konteks asli sebuah video bisa semakin jauh dari perhatian.

Perhatikan kapan video tersebut dibuat, cari unggahan pertamanya, lihat lokasi dan keterangan yang menyertainya, serta bandingkan dengan sumber informasi lain. Jika sebuah video hanya beredar melalui akun yang tidak jelas sumbernya, sebaiknya jangan buru-buru menyebarkannya.

Terlebih lagi, algoritma media sosial tidak dirancang untuk memastikan setiap informasi yang muncul di layar kita benar. Sistem tersebut pada dasarnya bekerja berdasarkan berbagai sinyal keterlibatan pengguna. Konten yang membuat orang berhenti menonton, berkomentar, atau membagikan dapat memperoleh jangkauan lebih luas.

Akibatnya, informasi yang paling cepat menyebar belum tentu informasi yang paling akurat.

Demonstrasi 27 Agustus akhirnya bukan hanya menjadi peristiwa yang berlangsung di ruang publik. Ia juga menjadi peristiwa yang diperebutkan di ruang digital. Setiap foto, video, caption, dan potongan informasi dapat membentuk persepsi orang yang bahkan tidak berada di lokasi.

Sebab di internet, satu video memang bisa menceritakan seribu kata. Tetapi tanpa konteks yang benar, seribu kata tersebut juga bisa menceritakan cerita yang salah. (inayah choirunisa)

 

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa vide Hakim Wahyu agustus Media informasi