Karhutla Kalimantan Meluas, Asapnya Sampai ke Brunei dan Filipina

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 15:38 WIB
Kabut Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Meluas Melintasi Batas Negara.
Kabut Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Meluas Melintasi Batas Negara.

RADARSOLO.COM - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai melintasi batas negara. Setelah Malaysia dan Singapura lebih dulu terdampak, kini Brunei Darussalam dan Filipina turut melaporkan kualitas udara yang memburuk akibat asap yang diduga berasal dari kebakaran di Kalimantan.

Di Brunei Darussalam, kondisi berkabut mulai dirasakan dalam beberapa hari terakhir. Kementerian Kesehatan Brunei mengingatkan masyarakat bahwa kondisi tersebut dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan, seperti batuk, iritasi mata, dan pilek.

Masyarakat yang memiliki asma, penyakit paru-paru dan jantung, alergi debu, serta kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, dan lansia diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan. Mereka yang mengalami gangguan pernapasan yang menetap atau memburuk juga disarankan segera mendapatkan perawatan medis.

Baca Juga: Ubi Bombing untuk Padamkan Karhutla, Efektif atau Malah Belum Siap Dipakai?

Kondisi tersebut berkaitan dengan banyaknya titik panas yang terdeteksi di Kalimantan. Berdasarkan data Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC), terdapat 514 titik panas pada 27 Agustus, kemudian meningkat menjadi 1.734 titik panas pada 28 Agustus, dan mencapai 1.180 titik panas pada 29 Agustus 2026.

Sebagian besar titik panas tersebut berada di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Angin Monsun Barat Daya yang sedang bertiup di kawasan tersebut kemudian membawa asap dari titik-titik kebakaran menuju Brunei.

Meski mulai terdampak kabut asap, kualitas udara di Brunei berdasarkan pemantauan Departemen Meteorologi Brunei Darussalam masih berada pada kategori baik hingga sedang. Pada 30 Agustus, nilai Indeks Standar Polutan (PSI) tertinggi tercatat di Brunei-Muara dengan angka 73. Tutong berada di angka 70, Temburong 63, dan Belait 50.

Baca Juga: Ubi Bombing untuk Padamkan Karhutla, Efektif atau Malah Belum Siap Dipakai?

Sementara itu, kondisi lebih serius dilaporkan di Filipina. Biro Manajemen Lingkungan dari Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam Filipina mencatat kualitas udara di sejumlah wilayah Metro Manila berada pada kategori sangat tidak sehat hingga sangat tidak sehat akut.

Tingginya kadar PM2.5 di sejumlah wilayah Filipina diduga berkaitan dengan kabut asap dari kebakaran yang masih berlangsung di Kalimantan. Asap tersebut terbawa angin hingga mencapai wilayah Filipina.

Dampaknya bahkan mulai mengganggu aktivitas pendidikan. Pemerintah Kota Quezon menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar tatap muka di seluruh sekolah negeri setelah sensor lokal menunjukkan kualitas udara berada pada level berbahaya. Sekolah swasta juga diimbau menerapkan pembelajaran jarak jauh atau daring.

Baca Juga: Karhutla Kalimantan Mengganas, Ini Titik Wilayah yang Diselimuti Kabut Asap

Masyarakat Filipina diminta mengenakan masker, mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, serta membatasi waktu berada di luar rumah, terutama bagi mereka yang sensitif terhadap polusi udara.

Sebelum Brunei dan Filipina, Malaysia dan Singapura juga telah lebih dahulu melaporkan dampak kabut asap dari karhutla Indonesia. Di Malaysia, kondisi terparah terjadi di Sarawak. Indeks polusi udara di wilayah tersebut sempat mencapai 476 pada 31 Agustus 2026, yang masuk kategori berbahaya.

Munculnya kabut asap di sejumlah negara tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti di wilayah Indonesia. Asap yang terbawa angin dapat melintasi batas negara dan memengaruhi kualitas udara serta aktivitas masyarakat di kawasan Asia Tenggara.

Dengan masih terdeteksinya titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan, kondisi kabut asap lintas negara menjadi perhatian. Penanganan karhutla di Indonesia pun tidak hanya berkaitan dengan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat di dalam negeri, tetapi juga dapat berdampak pada negara-negara tetangga.

 

 

 

Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum
Brunei asap karhutla kalimantan filipina