RADARSOLO.COM – Kronologi Santri Keracunan MBG Sidoarjo mulai terungkap setelah ratusan santri Pondok Pesantren Manba'ul Hikam, Tanggulangin, mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa yang terjadi pada Selasa, 1 September 2026, itu kini menjadi salah satu kasus keracunan massal terbesar dalam pelaksanaan program MBG di Jawa Timur.
Hingga Rabu, 2 September 2026, jumlah korban mencapai 431 orang yang harus menjalani penanganan medis di sejumlah rumah sakit di Kabupaten Sidoarjo.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan, sementara dapur penyedia makanan, SPPG Kalitengah, dihentikan sementara untuk kepentingan investigasi.
Kronologi Santri Keracunan MBG Sidoarjo, Berawal dari Makan Siang Bersama
Berdasarkan keterangan pihak pondok, makanan dari SPPG Kalitengah tiba di Ponpes Manba'ul Hikam sekitar pukul 11.30 WIB.
Sebanyak 1.000 santri jenjang MTs, MA, hingga SMA kemudian menyantap makanan tersebut secara bersamaan sekitar pukul 13.00 WIB.
Menu MBG yang dibagikan terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis dan baby corn, serta buah apel.
Beberapa jam setelah makan siang, para santri mulai mengeluhkan kondisi tubuh yang tidak biasa.
Salah seorang santri, Ahsan, mengatakan keluhan mulai muncul selepas Salat Asar. Banyak temannya mengalami sakit perut dan harus bolak-balik ke kamar mandi.
"Gejalanya mulai habis Asar. Ada yang bolak-balik ke kamar mandi, mengeluh perutnya sakit. Ada yang ke UKS juga," ujar Ahsan.
Ia menjelaskan para santri makan bersama sekitar pukul 13.00 WIB. Namun dirinya mengaku tidak ikut mengonsumsi menu MBG tersebut.
Gejala Mulai Muncul Sekitar Pukul 16.00 WIB
Ketua Asrama Putra Ponpes Manba'ul Hikam, Ferdiansyah, menyebut laporan santri yang mengalami mual dan pusing mulai berdatangan sekitar pukul 16.00 WIB ketika kegiatan belajar kembali dimulai.
Sekitar pukul 16.20 WIB, jumlah santri yang melapor ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS) terus bertambah hingga membuat kapasitas layanan kesehatan di lingkungan pondok tidak lagi mencukupi.
Pihak pesantren kemudian mengerahkan ambulans dan kendaraan operasional untuk membawa para korban ke rumah sakit di berbagai wilayah Sidoarjo.
431 Korban Dirawat di Tujuh Rumah Sakit
Data terbaru menunjukkan 431 korban Santri Keracunan MBG Sidoarjo mendapatkan penanganan di sedikitnya tujuh rumah sakit, yakni:
-
RSUD Notopuro Sidoarjo.
-
RS Delta Surya.
-
RS Islam Siti Hajar.
-
RS Pusura.
-
RSU Aisyiyah St Fatimah Tulangan.
-
RS Pusdik Bhayangkara.
-
RS Arafah Anwar Medika.
Mayoritas korban mengalami gejala mual, muntah, sakit perut, pusing, hingga tubuh lemas.
Ferdiansyah memastikan seluruh santri telah memperoleh layanan medis sesuai kondisi masing-masing.
"Semua sudah tertangani. Dari semua rumah sakit, semua alhamdulillah mendapatkan penanganan yang terbaik," katanya.
Selain merujuk korban ke rumah sakit, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo juga membuka posko pelayanan kesehatan di lingkungan pondok untuk memantau kondisi santri lainnya.
Emil Dardak: Korban Tidak Hanya dari Ponpes Manba'ul Hikam
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan kasus Santri Keracunan MBG Sidoarjo ternyata juga ditemukan di sejumlah sekolah lain.
Kesamaan seluruh kasus tersebut adalah makanan berasal dari SPPG Kalitengah, Tanggulangin.
Menurut Emil, dapur tersebut mendistribusikan sekitar 2.800 porsi MBG pada hari yang sama kepada berbagai jenjang pendidikan, mulai TK, SD, SMP hingga SMA swasta di wilayah operasionalnya.
"Kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, yaitu SPPG Kalitengah, Tanggulangin," ujar Emil.
Pemerintah kini melakukan pendataan terhadap seluruh sekolah penerima distribusi makanan dari dapur tersebut untuk memastikan seluruh siswa yang mengalami keluhan segera mendapatkan penanganan.
Bantah Isu Santri Meninggal Dunia
Di tengah penanganan korban, beredar informasi di media sosial yang menyebut ada santri meninggal dunia akibat keracunan MBG. Informasi tersebut dipastikan tidak benar.
Emil Elestianto Dardak menegaskan hingga Rabu (2/9/2026) tidak ada korban meninggal dalam insiden Santri Keracunan MBG Sidoarjo.
"Tidak betul. Tidak ada yang meninggal," tegas Emil.
Ia juga membantah kabar yang mengaitkan keracunan dengan konsumsi makanan pada acara Maulid Nabi di pondok pesantren.
Menurut Emil, tidak ada hidangan massal selain menu MBG yang disantap para santri pada hari kejadian.
Operasional SPPG Kalitengah Dihentikan Sementara
Sebagai langkah awal investigasi, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara aktivitas dapur SPPG Kalitengah.
Penghentian operasional dilakukan agar proses pemeriksaan sampel makanan, bahan baku, serta sistem pengolahan dapat dilakukan secara menyeluruh.
Pemprov Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Dinas Kesehatan juga melakukan penelusuran ke seluruh sekolah penerima distribusi MBG dari SPPG Kalitengah sebagai bagian dari investigasi lanjutan atas kasus Santri Keracunan MBG Sidoarjo yang menyebabkan 431 korban mengalami gangguan kesehatan.
Editor : Nur PramuditoSumber : ANTARA