Pemerintah Tulis Ulang Sejarah Indonesia, 5 Jilid Pertama Resmi Dirilis ke Publik

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 09:50 WIB
Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) resmi meluncurkan lima jilid pertama buku “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” pada Senin (31/8/2026).
Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) resmi meluncurkan lima jilid pertama buku “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” pada Senin (31/8/2026).

RADARSOLO.COM – Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) resmi meluncurkan lima jilid pertama buku “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” pada Senin (31/8/2026).

Buku ini merupakan upaya memperbarui historiografi Indonesia dengan merangkum perjalanan bangsa dari masa awal peradaban hingga perkembangan Indonesia modern.

Seri tersebut dirancang dalam 10 jilid utama, ditambah satu jilid faktaneka dan indeks.

Penyusunannya melibatkan 123 akademisi yang terdiri dari sejarawan, arkeolog, filolog, dan peneliti dari 34 perguruan tinggi serta 11 lembaga nonperguruan tinggi. Secara keseluruhan, karya tersebut mencapai sekitar 7.958 halaman.

Baca Juga: “Lobang Buaya,” Ketika Horor Dipakai untuk Mengulik Luka Sejarah Indonesia

Penulisan dimulai pada Januari 2025 dan berlangsung sekitar satu tahun. Proyek ini dilakukan karena dalam dua dekade terakhir terdapat banyak penelitian dan temuan baru dalam bidang sejarah serta arkeologi yang dinilai perlu dimasukkan ke dalam narasi sejarah Indonesia.

Buku tersebut menggunakan perspektif Indonesia-sentris, dengan menempatkan Indonesia sebagai subjek utama dalam perjalanan sejarah, bukan sekadar objek dari kekuatan asing. Narasinya juga memperluas pembahasan mengenai hubungan Nusantara dengan berbagai wilayah dunia, termasuk India, Tiongkok, Persia, Timur Tengah, dan Barat.

“Buku ini menempatkan Indonesia sebagai subyek aktif, Indonesia sentris, Indonesia perspektif, bukan kolonial perspektif,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam konferensi pers di Jakarta, senin. 

Lima jilid yang telah tersedia membahas perjalanan sejarah dari akar peradaban Nusantara hingga terbentuknya negara kolonial. Jilid pertama, misalnya, membahas manusia purba, perkembangan teknologi awal, tradisi maritim, hingga temuan arkeologi seperti lukisan cadas di Sulawesi. Sementara jilid kelima membahas pembentukan negara kolonial, sistem tanam paksa, perkembangan infrastruktur, serta berbagai perlawanan masyarakat terhadap kekuasaan kolonial.

Baca Juga: Intip Sejarah BKR yang Jadi Cikal Bakal TNI

Jilid berikutnya akan melanjutkan pembahasan mengenai pergerakan kebangsaan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, konsolidasi negara, Orde Baru, hingga Reformasi dan konsolidasi demokrasi sampai 2024. Jilid VI hingga X dijadwalkan menyusul sekitar September-Oktober 2026.

Dalam proses penyusunannya, Kemenbud menyatakan tidak melakukan intervensi terhadap substansi buku.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan kementeriannya berperan sebagai fasilitator, sementara isi dan narasi sejarah diserahkan kepada para akademisi dan sejarawan. Ia juga menegaskan tidak ada intervensi dari Presiden dalam penulisan buku tersebut.

“Sejak awal proses penyusunan, Kementerian Kebudayaan secara konsisten menempatkan diri sebagai konsultator substansi, ideologi, dan narasi untuk diserahkan kepada para sejarawan,” ujar Fadli.

Akan tetapi, penulisan ulang sejarah nasional ini tidak sepenuhnya lepas dari perdebatan. Sejumlah pihak mempertanyakan bagaimana sejarah resmi yang difasilitasi pemerintah dapat menjaga independensi dan menghadirkan berbagai perspektif, terutama ketika membahas periode sejarah yang masih menjadi perdebatan di masyarakat.

Baca Juga: Sebelum Indonesia Merdeka, Daerah-Daerah Ini Sudah Lebih Dulu Melawan Penjajahan

Kritik juga muncul terkait pentingnya menghadirkan peristiwa-peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia secara utuh. Sejumlah pengamat menilai penulisan sejarah tidak cukup hanya menampilkan pencapaian bangsa, tetapi juga perlu memberi ruang bagi pengalaman korban, kelompok yang terpinggirkan, serta berbagai versi sejarah yang berkembang di masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah menilai perbedaan pandangan merupakan bagian dari perkembangan historiografi. Bahkan, Fadli Zon menyebut seri tersebut masih dapat dikembangkan oleh sejarawan dan penulis lain, baik untuk mendukung maupun mengkritisi isi buku yang telah disusun.

Lima jilid pertama “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” kini dapat diakses masyarakat secara gratis dalam format digital melalui portal Pustaka Budaya.

Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum
Tulis ulang Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global Kemenbud sejarah fadli zon