Tragis! Orangutan Sempurna Mati Usai Terpapar Asap Karhutla di Ketapang

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 08:27 WIB
Seekor orangutan jantan dewasa bernama Sempurna mati akibat gangguan pernapasan yang diduga kuat berkaitan dengan paparan asap karhutla.
Seekor orangutan jantan dewasa bernama Sempurna mati akibat gangguan pernapasan yang diduga kuat berkaitan dengan paparan asap karhutla. (Foto: kehutanan.go.id)

RADARSOLO.COM - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membawa kabar duka. Seekor orangutan jantan dewasa bernama Sempurna ditemukan dalam kondisi kritis di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar), sebelum akhirnya mati akibat gangguan pernapasan yang diduga kuat berkaitan dengan paparan asap karhutla.

Sempurna ditemukan warga pada Minggu (30/8/2026) di dalam parit kering yang berada di area perkebunan kelapa sawit, Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara.

Saat ditemukan, kondisi orangutan (Pongo pygmaeus) tersebut sudah sangat lemah. Sempurna bahkan tidak mampu berdiri dan mengalami gangguan pernapasan.

Baca Juga: Karhutla Kalimantan Meluas, Asapnya Sampai ke Brunei dan Filipina

Warga kemudian melaporkan keberadaan satwa tersebut kepada petugas. Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) langsung melakukan evakuasi.

Sesampainya dalam penanganan tim medis, Sempurna mendapatkan terapi oksigen dan cairan melalui infus. Namun, kondisinya terus menurun.

Sempurna sempat mengalami henti napas. Tim kemudian melakukan upaya resusitasi atau CPR untuk menyelamatkannya. Sayangnya, usaha tersebut tidak berhasil. Sempurna akhirnya dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB.

Baca Juga: Malaysia dan Brunei Bawa Kabut Asap Kalimantan ke ASEAN, Warganet RI Ikut Bereaksi

Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan untuk mengetahui penyebab kematiannya. Hasil nekropsi pada Selasa (1/9/2026) menunjukkan adanya perubahan patologis pada sejumlah organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal.

Pada paru-paru Sempurna ditemukan kongesti dan atelektasis parsial. Kondisi tersebut berkaitan dengan gangguan pada fungsi paru-paru akibat paparan asap karhutla.

Paparan asap membuat fungsi pernapasan Sempurna terganggu hingga menyebabkan kekurangan oksigen akut atau hipoksia. Kondisi itu kemudian berdampak pada sistem kardiovaskular dan akhirnya menyebabkan kematian.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane menyampaikan duka cita atas kematian Sempurna. Ia juga mengapresiasi masyarakat yang telah melaporkan keberadaan orangutan tersebut sehingga tim dapat segera memberikan pertolongan.

“Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa. Pemeriksaan lebih lanjut juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan serta faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya,” ujar Murlan dilansir dari laman Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Menurut Murlan, peran masyarakat sangat penting dalam penyelamatan satwa liar, terutama ketika menemukan satwa yang sakit, terluka, atau terdampak karhutla.

Masyarakat pun diimbau segera melaporkan temuan satwa liar dalam kondisi darurat kepada petugas dan tidak mencoba menangani satwa tersebut secara mandiri.

Baca Juga: Ubi Bombing untuk Padamkan Karhutla, Efektif atau Malah Belum Siap Dipakai?

“Peran masyarakat sangat penting. Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas,” katanya.

Kematian Sempurna menjadi gambaran bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan manusia. Satwa liar yang hidup di sekitar kawasan hutan juga dapat ikut menjadi korban ketika asap memenuhi habitat mereka.

Di tengah ancaman karhutla yang masih terjadi, keberadaan orangutan seperti Sempurna menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan bukan sekadar persoalan lahan yang terbakar. Ada ekosistem dan satwa yang ikut terancam ketika hutan dan udara tempat mereka hidup dipenuhi asap.

 

Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum
orang utan sempurna mati paru-paru karhutla