Tiga Sungai Raksasa Kalimantan Makin Menyusut, Krisis Mulai Mengintai dari BBM hingga Pangan

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 16:40 WIB
Sungai Kapuas, Barito, dan Mahakam Perlahan Menyusut Akibat Kemarau Panjang.
Sungai Kapuas, Barito, dan Mahakam Perlahan Menyusut Akibat Kemarau Panjang.

RADARSOLO.COM - Sungai Kapuas, Barito, dan Mahakam sedang menghadapi kondisi yang tak biasa. Tiga sungai raksasa yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan dan jalur transportasi di Kalimantan perlahan menyusut akibat kemarau panjang.

Dampaknya bukan sekadar pemandangan sungai yang berubah menjadi hamparan pasir. Ketika air terus surut, kapal-kapal mulai kesulitan melintas, distribusi BBM tersendat, pasokan kebutuhan pokok ikut terancam, hingga lahan pertanian mengalami kekeringan.

Kondisi ini terjadi secara bertahap sejak pertengahan tahun. Memasuki Mei hingga Juni, curah hujan di sejumlah wilayah Kalimantan mulai menurun. Kondisi hujan yang berada di bawah normal membuat pasokan air dari wilayah hulu ikut berkurang.

Baca Juga: Waspada! Kemarau Panjang, Kebakaran Masih Rawan Mengintai Kota Solo

Situasi semakin terasa pada Juli. Sejumlah wilayah, termasuk Barito Selatan, mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori panjang hingga sangat panjang. Periode tanpa hujan tercatat mencapai 21 hingga 60 hari.

Minimnya hujan membuat debit sungai terus turun. Memasuki Agustus, dampaknya mulai terasa semakin serius.

Di hulu Sungai Mahakam, Kabupaten Mahakam Ulu, misalnya, air sungai menyusut hingga kapal tangker tidak lagi bisa melintas. Kondisi tersebut membuat distribusi BBM ke wilayah pedalaman ikut terganggu.

Baca Juga: Musim Kemarau Petani Di Sukoharjo Tetap Menanam, Digelontor Bantuan Irigasi Perpompaan Dari Kementan

Pasokan solar dan bensin terpaksa dikirim secara estafet menggunakan armada yang lebih kecil. Cara ini tentu membutuhkan waktu dan biaya lebih besar dibandingkan distribusi menggunakan kapal besar.

Bukan hanya Mahakam yang mengalami masalah. Sungai Barito juga mulai memperlihatkan kondisi serupa.

Menjelang akhir Agustus, dasar sungai mulai terlihat di sejumlah titik. Hamparan pasir atau yang dikenal sebagai gosong pasir muncul di tengah sungai, salah satunya terlihat di kawasan bawah Jembatan Kalahien, Barito Selatan.

Kedalaman sungai yang semakin dangkal membuat kapal-kapal berukuran besar tidak lagi leluasa melintas. Jalur transportasi air yang biasanya ramai pun perlahan kehilangan fungsinya.

Memasuki September, kondisi Sungai Kapuas juga semakin mengkhawatirkan. Sejumlah wilayah seperti Sekadau dan Sanggau dilaporkan mengalami kekeringan panjang.

Baca Juga: Cegah Kebakaran Saat Kemarau, Ini yang Harus Dilakukan Masyarakat

Bahkan, ada kapal tongkang pengangkut kernel sawit serta sejumlah kapal nelayan yang dilaporkan kandas dan terjebak di hamparan pasir selama berbulan-bulan.

Fenomena ini kemudian memunculkan pemandangan yang tidak biasa. Bagian sungai yang biasanya dipenuhi air berubah menjadi ruang aktivitas warga.

Di beberapa lokasi, hamparan dasar sungai yang mengering dimanfaatkan sebagai tempat bermain, lapangan sepak bola dadakan, hingga area berkumpul warga.

Namun, di balik pemandangan yang terlihat unik tersebut, ada persoalan yang jauh lebih serius.

Sungai Kapuas, Barito, dan Mahakam bukan hanya tempat mengalirnya air. Ketiganya juga menjadi jalur penting untuk mengangkut berbagai kebutuhan dan komoditas di Kalimantan, mulai dari BBM hingga hasil perkebunan dan pertambangan.

Ketika jalur sungai terganggu, biaya distribusi ikut meningkat. Wilayah pedalaman yang selama ini bergantung pada transportasi air pun menjadi lebih sulit mendapatkan pasokan.

Sembako menjadi salah satu sektor yang ikut terdampak. Kapal pelayaran rakyat yang biasanya membawa kebutuhan pokok kesulitan mencapai sejumlah wilayah karena kondisi sungai yang dangkal.

Jika kondisi ini berlangsung lama, pasokan barang di daerah pedalaman berpotensi semakin terbatas dan harga kebutuhan pokok bisa ikut terdorong naik.

Sektor pertanian juga menghadapi ancaman serius. Kekeringan membuat sumber air untuk mengairi lahan semakin terbatas.

Di Kalimantan Timur, sekitar 200 hektare lahan pertanian dilaporkan mengalami kekeringan berat dan terancam gagal panen atau puso. Sejumlah anak sungai yang sebelumnya menjadi sumber pengairan bahkan dilaporkan sudah berhenti mengalir.

Pemerintah pun mulai melakukan berbagai langkah darurat untuk menghadapi kondisi tersebut.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan dengan melibatkan BMKG, BNPB, TNI AU, dan Otorita IKN. Penyemaian awan diarahkan ke sejumlah wilayah yang mengalami defisit air, termasuk kawasan Kalimantan Timur.

Upaya tersebut tidak hanya bertujuan untuk menambah pasokan air, tetapi juga menekan risiko kebakaran hutan dan lahan yang meningkat ketika kondisi semakin kering.

Di sektor pertanian, bantuan pompa air dan dukungan BBM juga disiapkan untuk membantu petani mendapatkan sumber air yang masih tersedia.

Baca Juga: Malaysia dan Brunei Bawa Kabut Asap Kalimantan ke ASEAN, Warganet RI Ikut Bereaksi

Sementara itu, masyarakat dan pelaku usaha yang biasanya mengandalkan transportasi sungai mulai beralih ke jalur darat. Namun, pilihan tersebut bukan tanpa masalah karena waktu tempuh dan biaya distribusi menjadi jauh lebih besar.

Hujan ringan memang mulai turun di beberapa wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Namun, kondisi tersebut belum serta-merta mengakhiri ancaman kekeringan.

BMKG memproyeksikan kondisi kering masih dapat berlangsung di sejumlah wilayah hingga akhir September 2026.

Menyusutnya Kapuas, Barito, dan Mahakam akhirnya menjadi lebih dari sekadar fenomena alam. Ketika tiga sungai terbesar di Kalimantan mulai kehilangan debit airnya, berbagai aktivitas yang bergantung pada sungai ikut terseret dalam krisis.

 

Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum
Mahakam kapuas sungai kemarau barito