RADARSOLO.COM - Rangkaian erupsi yang melanda Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda sempat memicu kekhawatiran warga pesisir Banten dan Lampung.
Mengingat rekam jejak sejarahnya, muncul pertanyaan apakah erupsi Gunung Anak Krakatau bisa picu tsunami seperti peristiwa kelam pada akhir Desember 2018 silam?
Menanggapi hal itu, Badan Geologi Kementerian ESDM maupun Pemerintah Provinsi Banten menegaskan bahwa aktivitas erupsi yang terjadi saat ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
Gubernur Banten Andra Soni mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak termakan desas-desus atau berita hoaks yang beredar di media sosial.
"Indikasi kenapa sekarang tidak terjadi tsunami adalah ukuran badannya jauh berbeda dibanding 2018. Waktu 2018 lalu, tingginya berada di atas 300 meter lebih dari permukaan laut. Kalau sekarang, berdasarkan keterangan Badan Geologi, bentuk tubuhnya masih terbilang landai," jelas Andra Soni usai meninjau Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Minggu (6/9/2026).
Tak Ada Keruntuhan Tubuh Gunung
Terpisah, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menegaskan bahwa tidak setiap letusan gunung api laut otomatis menghasilkan gelombang tsunami.
Tsunami destruktif yang melanda Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu disebabkan oleh longsoran (collapse) massa tubuh gunung dalam volume yang sangat besar ke dasar laut dalam.
Bukan semata-mata karena tingginya kolom hembusan abu vulkanik.
"Berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utamanya relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan yang jelas dibandingkan pemetaan sebelumnya. Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," ungkap Lana Saria.
Erupsi Menerus 25 Jam Berakhir
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengonfirmasi, episode gempa erupsi menerus (continuous eruption) yang sempat berlangsung selama 25 jam telah resmi berhenti pada Minggu (6/9/2026) dini hari pukul 00.04 WIB.
Berdasarkan rekaman instrumental kami, episode gempa erupsi menerus mulai terekam sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan resmi berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB," ujar Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati.
Setelah rentetan erupsi berhenyi, PVMBG sempat mencatat satu kali erupsi susulan bertipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB. Durasinya sekitar 30 detik.
Baca Juga: Bantuan Pangan Bulog Mulai Dibagikan, Jatah Tak Diambil Lima Hari Beralih ke Penerima Cadangan
Menurut Siti, meski rentetan letusan utama telah usai, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih ditetapkan berada pada Level III (Siaga).
Potensi bahaya yang masih mengintai saat ini mencakup lontaran material batu pijar, paparan hujan abu pekat, serta ancaman aliran lava di seputar kawah.
Langkah Mitigasi dan Imbauan Warga Pesisir
Meskipun potensi tsunami telah dinyatakan nihil, Pemprov Banten bersama BPBD setempat bergerak cepat menyiapkan langkah antisipasi dampak abu vulkanik dan keselamatan warga:
Baca Juga: Delapan Produk Lokal Solo Bakal Mejeng Di TEI, Siap Tembus Pasar Ekspor
- Pembagian Masker: Dinas Kesehatan telah mengagendakan penyaluran 5.000 dus masker ke daerah terdampak guna mencegah gangguan pernapasan (ISPA).
- Zona Bahaya Radius 3 Km: Masyarakat, nelayan, maupun wisatawan dilarang keras beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
- Persiapan Jalur Evakuasi: Pemerintah daerah telah menginstruksikan pembukaan jalur evakuasi dan kesiapan tempat pengungsian sementara sebagai langkah siaga.
Masyarakat di kawasan pesisir Banten maupun Lampung diminta tetap beraktivitas secara normal dan bijak dalam menyaring informasi dengan hanya merujuk pada pembaruan data resmi dari PVMBG, BMKG, dan BPBD setempat.
Editor : Syahaamah Fikria