615 Kebakaran Terjadi di Jateng hingga Agustus, Gubernur: Respon Harus Cepat

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 09:58 WIB
Simulasi pemadaman kebakaran. (Humas Pemprov Jateng)
Simulasi pemadaman kebakaran. (Humas Pemprov Jateng)

RADARSOLO.COM — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta petugas dan relawan tanggap bencana mempercepat respons setiap kali terjadi bencana. Jawa Tengah disebut sebagai “minimarket bencana” karena memiliki beragam potensi ancaman, mulai kekeringan hingga kebakaran.

Menurut Luthfi, kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan, termasuk relawan tanggap bencana dan Tim Reaksi Cepat (TRC). Kecepatan sekaligus ketepatan respons dinilai menjadi kunci dalam meminimalkan dampak bencana.

Hal itu disampaikan Luthfi saat menutup Pelatihan Peningkatan Kapasitas Personel Tim Reaksi Cepat (TRC) Jawa Tengah di Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Penggaron, Kabupaten Semarang, Minggu (6/9/2026).

Baca Juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar, Kenali Masker KN95 dan Cara Kerjanya

Pelatihan tersebut melibatkan ratusan personel perwakilan dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Setelah mengikuti pelatihan, para peserta diharapkan dapat meneruskan pengetahuan dan meningkatkan kapasitas personel penanganan bencana di daerah masing-masing.

“Jadi latihan itu perlu, untuk meningkatkan profesionalitas dan teamwork (kerja tim),” kata Luthfi.

Dalam kesempatan tersebut, Luthfi juga memaparkan perkembangan situasi kebencanaan di Jawa Tengah. Saat ini, kekeringan dan kebakaran menjadi dua potensi bencana yang paling tinggi.

Baca Juga: Anak Krakatau Erupsi, Warga Diminta Pakai Masker: Setelah Itu Apa?

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah per 30 Agustus 2026, tercatat 615 kejadian kebakaran. Rinciannya, 282 kejadian merupakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sedangkan 333 lainnya berupa kebakaran gedung dan permukiman.

Total kerusakan akibat berbagai kejadian kebakaran tersebut ditaksir mencapai Rp38,5 miliar.

Sementara itu, kekeringan disebut hampir melanda seluruh wilayah Jawa Tengah. Pemerintah daerah telah melakukan pemetaan terhadap wilayah yang mengalami kekeringan, baik yang berdampak pada lahan pertanian maupun ketersediaan air bersih.

“Semua sudah kita petakan agar dampak kekeringan tidak melanda terlalu dalam di daerah kita. Hampir 8,5 juta liter air bersih juga sudah didistribusikan ke daerah terdampak kekeringan, koordinasi dengan kepolisian dan TNI juga terus dilakukan untuk penanganan,” ujarnya didampingi Kalakhar BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan.

Luthfi juga menyoroti potensi kebakaran di tempat pembuangan akhir (TPA). Kebakaran TPA Putri Cempo di Kota Surakarta menjadi salah satu contoh yang menurutnya perlu menjadi perhatian pemerintah daerah lainnya.

Karena itu, dia meminta seluruh kepala daerah di Jawa Tengah rutin melakukan pengecekan dan mitigasi terhadap potensi bencana di wilayah masing-masing.

“Surat edaran sudah dibuat oleh Pak Sekda Provinsi Jawa Tengah dan ini harus menjadi perhatian kita bersama,” jelasnya. (*)

Editor : Kabun Triyatno
teamwork bencana tim reaksi cepat kebakaran