Prabowo Wacanakan Badan Geologi Digabung dengan BMKG usai Bencana Beruntun

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 07:53 WIB
Presiden Prabowo Subianto mewacanakan penyatuan Badan Geologi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (Foto: setkab.go.id)
Presiden Prabowo Subianto mewacanakan penyatuan Badan Geologi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (Foto: setkab.go.id)

RADARSOLO.COM - Presiden Prabowo Subianto mewacanakan penyatuan Badan Geologi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Wacana tersebut muncul di tengah rentetan bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Prabowo menyampaikan rencana itu saat memimpin rapat terbatas secara virtual mengenai perkembangan penanganan bencana pada Senin (7/9). Rapat tersebut turut diikuti sejumlah pihak, mulai dari kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah.

Dalam rapat itu, Prabowo meminta Badan Geologi untuk memperkuat kerja sama dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait. Ia kemudian membuka kemungkinan penyatuan Badan Geologi yang selama ini berada di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan BMKG.

Baca Juga: Anak Krakatau Erupsi, Warga Diminta Pakai Masker: Setelah Itu Apa?

“Kepala Badan Geologi nanti saya kira akan kerja sama lebih erat dengan yang lain, nanti kita pikirkan apakah Badan Geologi diintegrasikan dengan BMKG. Tapi, ya, nanti kita bahas itu,” ujar Prabowo.

Meski demikian, Prabowo belum menjelaskan secara rinci bentuk maupun mekanisme penyatuan dua lembaga tersebut. Wacana itu masih akan dibahas lebih lanjut oleh pemerintah.

Usulan tersebut muncul setelah Indonesia menghadapi sejumlah bencana alam dalam waktu yang berdekatan. Prabowo menyoroti berbagai peristiwa, mulai dari gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur, kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah, hingga aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Menurut Prabowo, kondisi geografis Indonesia membuat negara ini harus selalu siap menghadapi ancaman bencana. Indonesia diketahui berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau ring of fire yang membuat aktivitas gempa dan gunung berapi menjadi salah satu risiko yang terus dihadapi.

Baca Juga: Ubi Bombing untuk Padamkan Karhutla, Efektif atau Malah Belum Siap Dipakai?

“Saya hanya ingin monitor bagaimana perkembangan sekaligus mendengar situasi yang terkini,” kata Prabowo dalam rapat tersebut.

Ia juga menilai rentetan bencana yang terjadi harus menjadi pelajaran bagi pemerintah, terutama dalam memperkuat sistem mitigasi kebencanaan. Karena itu, Prabowo berencana menambah anggaran untuk mitigasi bencana secara signifikan.

“Berarti mungkin pelajaran juga bagi kita, bagi pemerintah yang saya pimpin, alokasi anggaran untuk mitigasi bencana harus kita tambah secara signifikan,” ujarnya.

Dalam rapat yang sama, koordinasi antarinstansi dalam menghadapi bencana juga menjadi perhatian. BMKG disebut telah bekerja sama dengan Badan Geologi dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam sejumlah penanganan situasi darurat.

Baca Juga: Prabowo Klaim Penanganan Gempa NTT Cepat dan Masif, Warga Masih Keluhkan Bantuan

Salah satunya terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Badan Geologi telah menetapkan status siaga atau level III untuk kawasan tersebut. Kondisi itu turut berdampak pada pembatasan aktivitas di sekitar gunung, termasuk pergerakan kapal dalam radius tertentu dari kawah aktif.

Selain ancaman aktivitas vulkanik, Indonesia juga masih menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah. Bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor juga terjadi di berbagai daerah dalam beberapa waktu terakhir.

Wacana penggabungan Badan Geologi dan BMKG pun menjadi salah satu langkah yang kini tengah dipertimbangkan pemerintah untuk memperkuat koordinasi dan mitigasi bencana di Indonesia.

Namun, hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai penyatuan kedua lembaga tersebut. Pemerintah masih akan membahas lebih lanjut kemungkinan integrasi Badan Geologi ke dalam BMKG.

 

Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum
badan geologi bencana Prabowo BMKG bnpb