RADARSOLO.COM - Keluarga besar tokoh legendaris almarhum Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso tengah dibalut duka.
Putri sulung sang mantan Kapolri, Reni Soerjanti atau yang lebih akrab disapa Reniyanti Hoegeng, meninggal dunia pada Selasa (8/9/2026) dini hari sekitar pukul 00.43 WIB di Eka Hospital Depok pada usia 78 tahun.
Berpulangnya almarhumah meninggalkan duka mendalam bagi sanak keluarga serta deretan tokoh nasional.
Mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bahkan menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam melalui unggahan media sosialnya.
Ia mengenang sosok Mbak Reni sebagai figur yang hangat, baik hati, dan kerap membagikan kenangan inspiratif dari jejak keteladanan sang ayah.
Sebagai bagian dari Trah Hoegeng yang sangat dihormati karena prinsip kejujurannya, bagaimana sebenarnya rekam jejak Reniyanti Hoegeng semasa hidupnya?
Baca Juga: Kronologi KH Ahmad Fudoli Kecelakaan hingga Meninggal Dunia di Tol Tangerang-Merak
Tumbuh dalam Lingkungan Keluarga Berintegritas Tinggi
Melihat rekam jejak perjalanan hidupnya, Reniyanti Hoegeng tidak bisa dilepaskan dari fondasi kuat keluarga tempat ia dibesarkan.
Lahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, ia merupakan kakak bagi Aditya Soetanto Hoegeng dan Sri Pamujining Rahayu.
Sebagai anak tertua, Reniyanti menyaksikan secara langsung bagaimana ayahnya, Jenderal Hoegeng, memegang teguh prinsip hidup bersih, menolak segala bentuk suap dan gratifikasi, serta hidup sederhana kendati menduduki jabatan menteri hingga Kapolri ke-5 (1968–1971).
Nilai-nilai kesederhanaan itu pulalah yang konsisten dijaga Reniyanti sepanjang hidupnya.
Kesedihan keluarga pada tahun ini terasa berlipat, lantaran berpulangnya Reniyanti terjadi tidak lama setelah sang ibunda, Meriyati Roeslani Hoegeng (Eyang Meri), wafat di usia 100 tahun.
Baca Juga: 88 Dapur MBG Beroperasi di Wonogiri, Baru 58 Kantongi Sertifikat Halal
Perjalanan Rumah Tangga Bersama Aktor Legendaris Rudy Wowor
Sisi menarik lain dalam rekam jejak pribadi Reniyanti adalah kisah asmaranya.
Pada tahun 1975, ia dipinang oleh aktor senior kawakan Indonesia keturunan Manado-Belanda, mendiang Rudy Wowor.
Dari pernikahan yang mengarungi perjalanan hampir tiga dekade hingga 2003 tersebut, keduanya dikaruniai dua orang anak, yaitu Siti Madinah dan Michael Ben Syura Sondia Wowor.
Meski kemudian memutuskan berpisah secara baik-baik, ikatan silaturahmi keluarga ini tetap terjaga hingga sang mantan suami mengembuskan napas terakhirnya pada 2018 akibat penyakit kanker.
Sahabat Karib Megawati Sejak Sekolah di Cikini
Rekam jejak sosial Reniyanti juga diwarnai dengan jalinan persahabatan bersama figur penting negeri.
Sejak belia, almarhumah mengecap pendidikan di Perguruan Cikini, Jakarta.
Di sekolah bersejarah inilah ia bertemu dan menjalin ikatan persahabatan yang sangat erat dengan putri Presiden Pertama RI Soekarno, yang kelak menjadi Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri.
Baca Juga: 275 Kebakaran Terjadi di Klaten, 119 Kasus Gara-Gara Bakar Sampah
Kedekatan antara dua putri tokoh bangsa ini terus terjaga selama bertahun-tahun.
Lingkaran pertemanannya yang luas juga membuatnya kerap menjadi tempat bertukar pikiran bagi para tokoh publik yang ingin bernostalgia dan meneladani keteladanan keluarga Hoegeng.
Akhir Perjalanan dan Penghormatan Terakhir
Sebelum mengembuskan napas terakhir, kondisi kesehatan Reniyanti dikabarkan sempat menurun.
Baca Juga: Bekuk Pengedar Di Baki Sukoharjo, Amankan 149,73 Gram Sabu
Almarhumah sempat menjalani perawatan intensif terkait masalah jantung selama sekitar dua pekan di rumah sakit sebelum diperbolehkan pulang, hingga akhirnya takdir menentukan kepulangannya pada Selasa dini hari.
Prosesi pelepasan jenazah berlangsung khidmat. Dari rumah duka di kompleks Pesona Khayangan, Depok, jenazah dipindahkan menuju Pemakaman Giri Tama, Tonjong, Kabupaten Bogor, untuk dimakamkan selepas waktu Zuhur.
Kepergian Reniyanti Hoegeng menandai berpulangnya salah satu saksi kunci perjalanan hidup keluarga Jenderal Hoegeng, sebuah keluarga yang rekam jejak dan namanya selalu harum sebagai simbol kejujuran serta kesederhanaan di Indonesia.
Editor : Syahaamah Fikria