RADARSOLO.COM-Bentang alam Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, yang didominasi kawasan perdesaan serta perkebunan sawit dan karet menyajikan tantangan tersendiri bagi akses perbankan.
Saat musim hujan tiba, akses jalan tanah antarwilayah kerap berubah licin dan berlumpur.
Kondisi medan yang menantang tersebut menjadi bagian dari rutinitas harian Alifia Naura Nazifah, Mantri BRI Unit Sumber Hidup, Branch Office BRI Kayu Agung.
Baca Juga: Perkuat Sustainable Finance, Portofolio Pembiayaan Berkelanjutan BRI Tembus Rp842,1 Triliun
Ia bertanggung jawab melayani ratusan debitur yang tersebar di Desa Tanjung Makmur, Desa Kayu Labu, dan Desa Sido Mulyo.
Mayoritas masyarakat di wilayah tersebut menggantungkan mata pencaharian pada sektor perkebunan kelapa sawit dan karet.
Sementara sebagian lainnya mengelola usaha toko sembako serta produksi manisan.
“Keputusan saya bergabung dengan BRI sebagai Mantri didasari oleh keinginan kuat untuk berkontribusi secara nyata pada pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan, khususnya di wilayah Sumatera Selatan," ujar Alifia.
"BRI memiliki jangkauan yang sangat luas hingga ke pelosok, sehingga profesi Mantri memberikan saya ruang untuk menjadi jembatan akses keuangan bagi masyarakat yang membutuhkan permodalan,” lanjutnya.
Mengendarai sepeda motor, Alifia menyusuri jalanan antardesa untuk menemui para debitur langsung di hunian maupun area perkebunan.
Baca Juga: BRImo Taiwan Raih Anugerah Inovasi Indonesia 2026, Permudah Layanan Finansial Diaspora Indonesia
Ia berdialog mengenai dinamika usaha, menyerap kendala lapangan, serta memantau kondisi fisik kebun para nasabah.
“Membangun kepercayaan masyarakat desa memerlukan pendekatan humanis yang berlandaskan kearifan lokal. Saya selalu berusaha untuk bersikap terbuka, ramah, dan hadir bukan sekadar sebagai pihak perbankan, melainkan sebagai kawan diskusi yang memahami tantangan keseharian mereka,” ungkapnya.
Kedekatan emosional tersebut memudahkan Alifia dalam merumuskan skema pembiayaan yang tepat sasaran.
Terutama melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kupedes untuk kebutuhan modal kerja, investasi, hingga biaya peremajaan (replanting) lahan perkebunan.
Baca Juga: Bukti Komitmen Investasi Hijau, DPLK BRI Boyong Penghargaan Prestisius Kehati ESG Award 2026
Jika kondisi jalan dinilai terlalu sulit dilewati, Alifia terlebih dahulu berkoordinasi dengan tokoh masyarakat atau ketua kelompok tani setempat untuk memastikan keberadaan debitur sebelum meluncur ke lokasi.
“Pelajaran hidup terbesar yang saya peroleh adalah pentingnya empati, ketekunan, dan rasa syukur. Berinteraksi langsung dengan ratusan debitur mengajari saya bahwa di balik setiap berkas kredit yang disetujui, ada harapan sebuah keluarga untuk kehidupan yang lebih sejahtera, dan menjadi bagian dari perjuangan mereka adalah sebuah kebanggaan yang tak ternilai,” urainya.
Menanggapi dedikasi tersebut, Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan, kisah Alifia mencerminkan besarnya peran insan Mantri BRI yang berada di barisan terdepan dalam menyokong perekonomian masyarakat perdesaan.
Baca Juga: Terobos Akses Berlumpur di Rantau Prapat, Kepala Unit BRI Sigambal Dampingi Pelaku UMKM Naik Kelas
“Peran seperti Alifia menunjukkan bahwa Mantri BRI memiliki posisi penting dalam membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat sekaligus memahami perkembangan usaha mereka secara langsung," terangnya.
"Kedekatan tersebut menjadi kekuatan BRI untuk memperluas inklusi keuangan melalui layanan dan pembiayaan yang relevan, sekaligus memastikan kehadiran BRI dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat di berbagai wilayah,” pungkas Dhanny. (wa)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : BRI