RADARSOLO.COM — Jagat media sosial dihebohkan oleh rekaman video penampilan salah satu peserta dalam ajang Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan.
Dalam video yang memicu kontroversi tersebut, rombongan penampil memamerkan kostum monster seram, properti peti mati, hingga menyajikan atraksi penyembelihan kambing di depan umum.
Aksi teatrikal horor ini mendadak viral usai dinarasikan oleh netizen sebagai bentuk peragaan ritual pemujaan setan atau "satanic".
Lantas, apa maksud sebenarnya di balik atraksi kontroversial tersebut?
Tim Penampil Buka Suara
Perwakilan dari Tim Sim One (Simbang Kulon Gang 1) yang membawakan atraksi tersebut, Muhammad Akhid menyampaikan permohonan maaf kepada publik.
Ia membantah keras tuduhan bahwa timnya berniat menggelar atau menirukan ritual pemujaan setan.
Baca Juga: Viral Kronologi "Ritual Satanic" dalam Karnaval Pekalongan, Satu Peserta Meninggal Usai Acara
Akhid mengakui bahwa insiden ini terjadi akibat kekurangpahaman dan minimnya literasi tim terkait simbol-simbol yang mereka gunakan dalam pertunjukan.
"Untuk tema yang ramai saat ini kami meminta maaf, kami menyesal karena kami kurang literasi. Kami menyesal, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada pihak-pihak yang tersinggung atas perform kami di depan panggung," ujar Akhid, Senin (14/9/2026).
Asal-usul Konsep dan Misteri Penyembelihan Kambing
Akhid membeberkan bahwa ide awal pertunjukan tersebut murni mengadopsi tren kostum unik yang marak dijumpai dalam festival daerah lain.
Pihaknya menyewa kostum monster tersebut langsung dari Malang, Jawa Timur, sementara koreografinya dirangkai sendiri dari gabungan referensi video di YouTube.
Terkait aksi penyembelihan kambing yang paling banyak disorot netizen, Akhid menegaskan, prosesi tersebut sama sekali tidak ditujukan untuk ritual gaib atau satanik.
"Kita rencana memang menyembelih kambing untuk acara rahatan (makan-makan) bersama setelah acara selesai. Seperti klarifikasi yang sudah kita sampaikan di media sosial. Tidak ada maksud ritual apa pun," tegasnya.
Ia menuturkan, timnya sama sekali tidak mengenal istilah satanic, paganisme, maupun simbol-simbol sejenis saat menyusun koreografi pertunjukan yang dipersiapkan selama satu minggu tersebut.
Dalam ajang SKNC 2026 itu sendiri, Tim Sim One sejatinya berhasil menyabet gelar juara kedua.
Pernyataan Panitia dan Pemkab Pekalongan
Di sisi lain, perwakilan Panitia SKNC 2026, Ziyad, menjelaskan bahwa karnaval yang digelar pada Kamis (10/9/2026) malam tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan khitanan massal ke-61 yang diselenggarakan oleh PRNU Simbang Kulon.
Pihak panitia memohon maaf atas kebobolan tersebut dan mengakui tidak mengetahui secara terperinci konsep serta detail materi pertunjukan yang disiapkan peserta sebelum tampil di panggung.
Senada dengan hal itu, Sekda Kabupaten Pekalongan M Yulian Akbar menyampaikan bahwa hasil klarifikasi menunjukkan para peserta murni melakukan peniruan dari tontonan media sosial tanpa memahami konteksnya.
“Penyembelihan kambing itu tadi saya tanya, tahu enggak paganisme, baphomet dan segala macam, tidak tahu. Mereka murni mencontoh itu dari daerah lain,” ungkap Yulian.
Panitia mengimbau masyarakat untuk tidak menggiring opini atau mengeskalasi isu ini secara berlebihan agar tidak menciptakan narasi liar yang merugikan warga lokal maupun penyelenggara.
Editor : Syahaamah Fikria